“Kapitalisme mempertajam konflik antarmanusia dengan mengubah semua hal menjadi komoditas, dan menyisakan tiada hubungan lain antara manusia dengan manusia selain kepentingan-diri yang telanjang, selain ‘bayar-tunai’ yang dingin” [CM 22] ~ Karl Marx
“Satu orang dungu adalah satu orang dungu. Dua orang dungu adalah dua orang dungu. Sepuluh ribu orang dungu adalah sebuah partai politik” ~ Leo Longanesi
“Cintailah takdirmu. Bukankah semestinya kita berhutang budi pada masa-masa sulit ketimbang masa-masa senang? Apa yang tidak membunuhmu, menguatkanmu!” ~ Friedrich Nietzsche
@Stephjd420@elonmusk@Jason Read more! I challenge you to real “slaves and Masters” from Nietzsce to understand that classic society never knew principle of love, compassion, etc, but war, throne, triumph, etc. It is Christianity than changed it, thoungh Nietzsce call it the turn of Western int weakness.
@NarasiNewsroom Masih diselidiki ya gess. Jangan buru2 berkomentar menyalahkan pihak manapun. Kondisi mereka memang rawan untuk terjadi hal begini. Baca beritanya sampai tuntas. Itu ada laporan bahwa tentara IDF diserbu. Buat saya itu sangat masuk akal. Para penyusup memanfaatkan situasi.
melainkan rasa cukup diri dan keangkuhan. Dalam kondisi hilangnya basis keadilan sosial seperti itu, kelupaan akan kontingensi keberuntungan dan bakat, politik tidak lebih dari cerita lama ttg dominasi dan penaklukan tak berujung.
Michael J Sandel mengangkat problem moral dalam meritokrasi (sistem politik atas dasar kemampuan).
Narasi yg sekilas memotivasi seperti (“kita bisa jika kita berusaha”) sering tanpa kita sadari mengandung implikasi moral dan politik serius.
Karena itu, secara politik, meritokrasi sulit membawa pada kemaslahatan bersama (common good) persis karena (masuk pada masalah moral) meritokrasi tidak menyisahkan ruang bagi empati dan solidaritas, kerendahan hati dan rasa syukur, yang merupakan basis bangunan keadilan sosial,