๐จnyir kaul kesumat berpinak di ombak antipati. Kita terdakwa, dikutuk atas berahi yang berkolusi. Lantas kita mati, di mata kaki anarki berlenung cintamani.
PANGGUNG PENGULTUSAN,
mengambin restu atas dosa nun pelik.
๏ธ๏ธ
๏ธ
KELAK, janji bermajenun.
Mencari dan menyiasati, mencabik dan menghardik gegapnya roman-roman kufur yang haus akan kelegaan. Tulus tak dipandang, kasih tumbuh menjelma pedang.
Luka pun nyalangโ meski harkat, martabat, lan akal sehat, surut di selangkangan.
๏ธ
๏ธ
แ
แ
Aku adalah keranda dan kau adalah mayat.
Kau merebah bersimbah lara, aku mengalas nelangsa.
Tubuhku melebur tanah, mengundang badai dan kemarau. Kau memalingkan wajah. Katamu, kau benci kematian.
Aku adalah keranda. Lantas bagaimana?
แ
แ
๏ธ๏ธ
๏ธ๏ธ
1 MEI, ๐ฃ๐๐ฅ๐๐ก๐๐๐ง๐๐ก ๐๐๐ฅ๐ ๐๐จ๐ฅ๐จ๐.
Semoga bisa terus jadi pertanda bahwa gaung para kaum pekerja akan selalu perlu didengar, kian ingar-bingar, memijar, dan tak pernah gentar.
๏ธ๏ธ
๏ธ๏ธ
โ
ADA POCONG YANG MENGETUK PINTU DENGAN KEPALA.
Duk-duk-duk!
Ada bangkai yang terbungkus, melompat-lompat di depan rumah bagai karung beras. Ia menggapai pintumu dengan kepala pecah.
Tok-tok-tok!
Nanah meleleh menetes di serambi. Membawa bau busuk dan cacing dari kubur.
โ
แ
แ แ
แ
Ibu, anak dari lelaki di dalam televisi itu ada di dekapku, ada di genggamku.
Tunggu. Besok atau lusa, kukirim mereka ke ๐๐๐๐๐๐.
แ
แ
แ
แ
แ แ
แ
MATINYA KAMELIA, DI BUAH DADA.
Aku mengintip dari sela mawar hitam, membersamai layunya kamelia di ujung ruang. Usut punya usut, pemiliknya pergi setelah dapat satu kecup.
แ
แ
แ