Kalau gitu buat apa punya ambisi bangun industri semikonduktor, toh ini sangat tidak padat karya.
Yang padat karya itu industri turunannya yg tercipta oleh ekosistem industri pionir yang padat modal. Misal industri semikonduktor itu menopang industri elektronik yang padat karya.
@memexjebol@LxveArcade harus diakui, sunda emang lebih kreatif soal makanan receh, macem seblak, cimol, cilok, tahu bulat,, jajanan sd di jabar, sekaran populer jukut goreng
Sayang sekali ya..
9 haji dan juga 9 naga mayoritasnya main di industri ekstraktif.. kek tambang dan sawit.
Ada juga yang main di industri manufaktur, tapi di consumer goods, dan ga banyak.
Walhasil, bisnis mereka gagal membuka lapangan kerja yang massif dan besar seperti Jepang dan Korea.
Karena lagi-lagi, tambang-sawit tidak bisa membuka lapangan kerja semassif manufaktur.
Seperti misal, tekstil, elektronik, otomotif dll.. itu menyerap tenaga kerja secara besar..bisa jutaan lapangan kerja tercipta..
Contoh:
Manufaktur padat karya: 1 pabrik bisa menyerap sekitar 1.000–5.000+ pekerja per lokasi.
Tambang & sawit: Perusahaan tambang/sawit dengan luas ratusan ha, bisa jadi cuman merekrut 100-500 pekerja.
Belum lagi, efeknya ke UMKM sangat besar..misal nih rumah makan dan jasa laundry untuk pekerja pabrik.
Itu bakal kebantu banget karena dapat orderan dari pabrik sekitarnya.
FOTO: WIKIMEDIA (Pinerineks)