Indonesian society being allergic to seeing women try to get happy life. They prefer push ppl n cant stand women who are capable and tryin to choose to be happy. Theyd rather see everyone miserable. Thats why "sadness" gets all romanticized in Indonesia. Sucks
*cewe dapet suami toxic*
society: makanya kalo cari suami itu pilih pilih di awal. salahmu ga bisa filter!
*cewe pilih pilih di awal*
society: cewe matre, jahat, ga bisa nemenin dari nol, NPD, insensitive whore
💆🏻♀️💆🏻♀️💆🏻♀️
@AlwiJo bagiku yang jelek dari beliau adalah bagaimana dia terlalu memuja Soekarno sampai denial terhadap kekejaman Soekarno ke rakyatnya. Okelah kalau terlalu benci dengan Soeharto karena dia sendiri jadi korban politiknya
Ane mencintai Pram, persis seperti kalian. Tapi kalo bicara "adil sejak dalam pikiran". Seringkali Pram gak seadil kutipan yang ia buat. Ia menggambarkan kekuasaan Orba seolah periode kejayaan iblis, tanpa setitik terang sedikitpun.
Sebalikny satu-satunya kritik Pram ke Soekarno yang aku temuin cuman persoalan peraturan diskriminatif terhadap kelompok Tionghoa. Itu pun sering ia sebut sebagai ulah Angkatan Darat. Sisanya deskripsinya soal Orde Lama & figur Soekarno bak petarung imprealis adiluhung, tanpa celah.
Dalam berbagai wawancara beliau terlihat ga nyaman bahkan mengalihkan topik, jika membicarakan tindakannya selama periode saat ia menjegal Manikebu. Apa lagi menyangkut aktivitas kekerasan PKI sebelum 1965. Biasanya beliau langsung mengungkit kekerasan pasca itu.
Terlepas dari itu, semua hal di atas tidak mengurangi cinta saya pada Pram dan tulisan-tulisannya. Butuh tahun-tahun yang amat pelik, momen-momen yang sangat langkah untuk melahirkan sastrawan sebesar dia. Tak ada lagi sastrawan yang mampu menafsirkan Indonesia dgn progresif dan indah seperti Pram.
Namun, menempatkan manusia sebagai manusia adalah tugas kita sebagai manusia. Pram tetaplah Pram, ia tetaplah manusia