18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Rupiah melemah 24% terhadap Ringgit dalam 10 tahun. Lucunya, 23%-nya terjadi hanya dalam 15 bulan terakhir.
1 Ringgit:
• Maret 2015: ~3,500 Rupiah.
• Maret 2024: ~3,300 Rupiah.
• Maret 2026: ~4,300 Rupiah.
Return IHSG 15 bulan terakhir:
• Dalam Rupiah 1.8%.
• Dalam USD -3%.
• Dalam Ringgit -13.6%.
Orang Malaysia bisa beat IHSG 13.6% 1 tahun terakhir cukup dengan taro aset mereka di cash (Ringgit).
Apa yang berubah dalam 2 tahun terakhir?
Malaysia berhasil capture 2 MEGATREND sekaligus: AI supply chain dan supply chain diversification dari China.
Penang jadi ASEAN's Silicon Valley.
AMD, Intel, AI data centers masuk.
FDI masuk, convert ke Ringgit, demand struktural tercipta.
GDP akselerasi +5.2% YoY.
Ini bukan soal global. Ini soal siapa yang punya narrative reform, dan siapa yang belum.
Rupiah melemah bukan karena global.
Faktanya Rupiah melemah terhadap USD, bahkan ketika DXY melemah.
Satu selat jaraknya.
Tapi jarak narrativenya makin lebar setiap bulan.
Sampai Indonesia deliver narrative reform yang comparable, atau lebih baik, divergence ini belum ada alasan struktural untuk berbalik.
Happy Sunday!
Semua orang tau presiden Iran itu dokter bedah jantung. Tapi tau gak kalau Wapres Iran itu punya gelar PhD di bidang electrical and communication engineering?
Thesisnya sampe dikenal dengan istilah "Aref Theory". Edan bener.
When yh punya wapres dengan CV segunung gini....
Mutusin buat ngojol setelah 2 bulan resign dan tiap nglamar lagi semua mentok di tahap interview.
Duit sisa 130rb, dapet order makanan seharga 117rb nekat gw ambil posisi Surabaya ujan deres bgt dan banjir dimana-mana. Makanan diterima, ternyata dikasih bukti tf palsu. --