@nelyues@Rian__F1@vandeone19@Isr_KK Coba tunjukin kosakata "aurat" di quran ada ga?? Kamu gen Z kan? Tapi mentalitas macam boomer.. berfikir kuno dan ga kritis
@nelyues@vandeone19@Isr_KK Apa dalilnya? coba mana tunjukan kosakata "aurat" di quran..??? yang ada hanya ANJURAN menutup dada, dan inget konteks juga.. heran amat udah 2026 masih ada yg bigot.. kalau debat internasional diketawain kamu.
@vandeone19@Isr_KK Ga gitu woy haha kalau serius mah lebay amat.. niup makanan ga boleh.. tapi kok poligami, merampas harta kafir, kawin kontrak, seni unta dan pernikahan dibawah umur boleh???
"Islam dan Naluri Invasifnya"
Salah satu problem fundamental Islam bukan sekadar adanya Muslim yang fanatik. Problemnya lebih dalam: Islam sebagai agama normatif membawa klaim atas kehidupan manusia yang jauh melampaui wilayah iman privat.
Islam tidak hanya berkata: "Percayalah kepada Allah." Ia juga membawa hukum. Ia membawa moralitas. Ia membawa aturan sosial. Ia membawa konsep tentang keluarga, gender, seksualitas, pakaian, makanan, transaksi, warisan, pidana, perang, hubungan dengan non-Muslim, bahkan status orang yang meninggalkan agama. Dengan kata lain, Islam bukan sekadar sistem kepercayaan. Ia adalah proyek penataan kehidupan. Dan di sinilah sifat invasifnya menjadi jelas.
Orang boleh percaya bahwa Allah mengharamkan alkohol. Silakan. Orang boleh percaya bahwa perempuan harus berhijab. Silakan. Orang boleh percaya bahwa homoseksualitas adalah dosa. Silakan. Orang boleh percaya bahwa murtad adalah dosa. Silakan.
Tetapi dari "Tuhan melarang X" tidak otomatis mengikuti "negara harus melarang X". Itu lompatan dari teologi ke politik. Dan lompatan tersebut membutuhkan pembenaran yang dapat diterima oleh seluruh warga negara, bukan hanya oleh orang yang sudah menerima premis teologisnya.
Masalah Islam muncul ketika premis religius diperlakukan sebagai hukum universal. "Saya percaya" berubah menjadi "Anda harus percaya" lalu "Anda harus hidup sesuai keyakinan saya." Dan akhirnya: "Negara harus memaksa Anda." Di titik itu, agama tidak lagi sekadar menjalankan iman. Ia sedang menuntut kekuasaan.
Inilah mengapa persoalan seperti syariah, apostasi, penistaan agama, moralitas seksual, kebebasan berpikir, dan kebebasan berekspresi bukan perkara remeh. Semuanya menyentuh satu pertanyaan fundamental:
Seberapa jauh agama berhak mengatur manusia yang tidak mempercayainya?
Jawaban teokratisnya sederhana: sejauh hukum Tuhan mengaturnya.
Jawaban masyarakat plural jauh lebih sederhana:
Tidak sejauh itu.
Karena negara modern tidak dibangun berdasarkan wahyu satu agama, melainkan berdasarkan kesetaraan warga negara.
Jika seorang Muslim menganggap homoseksualitas dosa, itu urusan teologinya. Jika ia ingin hidup sesuai moral tersebut, itu haknya. Tetapi ketika ia ingin menjadikan keyakinannya sebagai hukum bagi tubuh orang lain, persoalannya berubah.
Jika seorang Muslim menganggap apostasi dosa, itu keyakinannya. Tetapi ketika ia menganggap orang yang meninggalkan Islam pantas dihukum karena meninggalkan Islam, ia sedang mengubah keyakinan menjadi klaim atas kebebasan hati nurani orang lain.
Jika seorang Muslim percaya syariah adalah hukum Tuhan, silakan. Tetapi warga negara yang tidak percaya kepada Tuhan, tidak percaya kepada Al-Qur'an, atau tidak mengakui syariah sebagai sumber hukum tidak mempunyai kewajiban epistemik untuk tunduk kepada klaim tersebut.
Di sinilah agama harus berhenti. Bukan karena agama tidak penting. Justru karena manusia memiliki hak untuk menentukan sendiri apa yang ia anggap benar.
Islam sering menuntut penghormatan terhadap agamanya. Baik. Tetapi penghormatan terhadap manusia tidak identik dengan penghormatan terhadap semua gagasannya. Manusia memiliki hak untuk dihormati. Gagasan memiliki kewajiban untuk diuji.
Islam bukan pengecualian. Al-Qur'an bukan pengecualian. Syariah bukan pengecualian. Ulama bukan pengecualian. Dan "Tuhan menghendakinya" bukan kartu bebas kritik 🤡 Sebab begitu seseorang berbicara atas nama Tuhan lalu menuntut manusia lain tunduk kepadanya, persoalannya bukan lagi iman. Persoalannya adalah kekuasaan. Dan kekuasaan yang dibungkus wahyu tetaplah kekuasaan. Bahkan bisa menjadi lebih berbahaya, karena ia tidak hanya berkata: "Anda harus patuh." Ia berkata: "Anda harus patuh, karena Tuhan menghendakinya."
Di situlah kritik terhadap Islam menjadi penting. Bukan untuk mengganggu iman seseorang. Tetapi untuk mempertanyakan hak sebuah sistem kepercayaan atas kehidupan orang yang tidak mempercayainya.
Dan bagi agama yang mengklaim kebenaran universal, pertanyaan tersebut tidak mungkin dihindari: Bisakah Islam hidup berdampingan dengan manusia yang sepenuhnya bebas dari Islam? Bukan sekadar ditoleransi. Bukan sekadar diberi ruang. Tetapi benar-benar dibiarkan menentukan hidupnya sendiri.
Jika jawabannya ya, maka agama harus menerima batas kekuasaannya. Jika jawabannya tidak, maka yang sedang kita bicarakan bukan lagi kebebasan beragama. Kita sedang membicarakan ambisi kekuasaan yang memakai Tuhan sebagai legitimasi.
Me: I left Islam after understanding the Quran and the Prophet's life story.
Muslim: You filthy ex-Muslim!
You left Islam to have s£x and drink wine!
Me: What do I get if I accept Islam??
Muslim: Allah welcomes to you Paradise.
Me: What I do get in Paradise??
Muslim: Unlimited s£x and wine.
Nayla bener2 ngenalin satu persatu member-member JKT48 dari tim Love, Dream, Passion bahkan trainee gen 13 & gen 14.
Kerennya dia udah nyiapin catatan profile per membernya. Jadi dia ngelive sambil ngenalin, sambil baca catatannya, sambil nunjukin Kabesha membernya.
Keren kamu, Nay @SNayla_JKT48
Berikut beberapa yg disebut Nayla:
⬇️⬇️⬇️
📢Kizaru x JKT48 Virtual
We are proud to announce that JKT48 Virtual is officially collaborating with Kizaru!
Get ready! Oshi kalian akan datang dalam bentuk apparel modern & trendy serta produk merchandise-merchandise lainnya.
https://t.co/NHiA5MprD9
@fotodakwah ga ada itu nama2 sholat di quran.. makanya sekarang banyak yg jadi Quranist/non-radikal.. ini jg kesannya maksa.. lebih maksa daripada negara yaman, afghanistan, dll mau Indonedia jadi negara ultra-radikal, hah??? Gimana bisnis, sains & sosial mau maju..
https://t.co/UPPlpEKSZ8