Ferry Irwandi (TIDAK) Baik-baik Saja!
Video terbaru Ferry Irwandi, “Saya Baik-baik Saja” mengandung banyk pesan tersirat yang sebagiannya tentang situasi dirinya yang saat ini sedang terancam dan sebagiannya lagi adalah kebenaran mengerikan yang mungkin coba disiratkan
Kawan-kawan, yuk ikutan Liga FPL Bang Ian Tambunan musim 2024/25🥳
Mari isi Google Form nya dgn lengkap ya kawan-kawan:
https://t.co/v2I8gurw4r
Selamat berkompetisi & salam sehat kawan-kawan😃🙏
cc @pisangij01#FPL#FantasyPremierLeague#FPLCommunity#FPLIndonesia
LIGA LAPAK JERSEY ORIGINAL season 3 dimulai!
Bagi kalian yg mau gabung bs ikuti persyaratannya, lalu isi Google Form berikut ya https://t.co/XzxcffQsHL
Kalian bebas ternak akun. Tapi dimohon akunnya didaftarin pd link di atas. Contact person tersedia sblm deadline 085640337284.
Nahas, Wartawan dan Sekeluarga Tewas Terbakar Usai Bongkar Perjudian: Proses pemakaman jenazah korban diiringi dengan isak tangis keluarga. Cucu korban terlebih dahulu dimakamkan kemudian menyusul jenazah Sempurna Pasaribu. https://t.co/1seoYvT7bX
[5 KASUS PEMBUNUHAN INDONESIA YANG MASIH BELUM DIUSUT TUNTAS]
Vina, korban pemerkosaan dan pembunuhan pada tahun 2016, bukanlah korban pertama dari "gagapnya" polisi dalam menuntaskan kasus. Entah memang karena para detektif buntu atau ada kepentingan yang dilindungi...
(Utas)
👧: "Suara kamu jelek"
👩: "Maaf aku udah berusaha nyanyi sambil nari, apalagi mic-ku sempat-"
👧: "Jelek. Bagusan aku"
👩: "Yaudah kamu aja yang nyanyi"
👧: "AKU BUKAN PENYANYI! Aku cuma seneng liat kamu sengsara!"
Beware sama orang-orang SCHADENFREUDE!
#UtasMild#Coachella
Ave Neohistorian!
Hari ini adalah ulang tahun Wiji Thukul. Pria yang bernama asli Widji Widodo ini adalah penyair dan aktivis hak asasi manusia (HAM) yang lahir pada tanggal 26 Agustus 1963 di Surakarta, Jawa Tengah.
Wiji Thukul merupakan seorang pria cadel yang tidak bisa mengucapkan huruf “r” dengan sempurna, tapi ia dianggap sangat berbahaya. Ia dikenal karena karyanya yang kuat dan berani dalam menyuarakan ketidakadilan sosial, hak-hak manusia, dan perlawanan terhadap rezim Orde Baru di bawah nakhoda Presiden Soeharto.
Tampilan Wiji Thukul kumal, tapi jika pria ini membaca puisi di tengah-tengah mahasiswa dan buruh, aparat keamanan mengecapnya sebagai seorang penghasut. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut Wiji Thukul pun selayaknya peluru: tajam dan runcing.
Bukan cuma lewat puisi, kritiknya terhadap rezim Orde Baru tercermin dalam karyanya dan terhubung dengan pelbagai aksi protes. Dalam puisi-puisinya, seperti "Nyanyian Akar Rumput" dan "Di Tanah Negeri Ini Milikmu Cuma Tanah Air", ia mengekspresikan perlawanan terhadap masalah sosial.
Semasa hidupnya, puisi-puisinya diterbitkan di dalam dan luar negeri. Pada tahun 1989, ia diundang oleh Goethe Institut untuk membacakan puisi di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Ia juga tampil di acara Pasar Malam Puisi yang diadakan oleh Erasmus Huis di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta, pada tahun 1991. Wiji Thukul juga pernah menerima penghargaan Wertheim Encourage Award dari Wertheim Stichting di Belanda.
Akibat suara sang penyair yang lantang, ia kemudian lenyap pada 10 Januari 1998. Ia diduga menjadi korban dari Operasi Mantap Jaya yang dilakoni oleh Tim Mawar Kopassus. Berbeda dengan kebanyakan aktivis yang juga lenyap tak berbekas setelah Muchdi PR menjadi Danjen Kopasus per tanggal 22 Maret 1998, Wiji Tukul lenyap di masa tugas Prabowo Subianto sebagai Danjen Kopassus.
Meski begitu, dokumen DKP yang mengatur pemberhentian Prabowo tak membebankan kasus lenyapnya Wiji Tukul pada dirinya, melainkan hanya kasus pengamanan aktivis yakni Desmond Mahesa, Nezar Patria, Pius Lustrilanang dll sehingga dalang lenyapnya Wiji Tukul masih menjadi misteri hingga kini.
Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Ivan Fauzan
Referensi:
Dokumen DKP (KEP/03/VIII/1998/DKP)
Suyono, S. J. dkk. (2013). Seri Buku TEMPO: Wiji Thukul Teka-teki Orang Hilang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.