Anthropology Student | Immigrant Education | No Postmo | Parttime Researcher | Occasionally Be a Thug and Raise a Fuss for Social Experimentation | #UsutTuntas
Kenapa Tragedi Kanjuruhan tidak tuntas? Apa indikator tuntasnya? Bagaimana menuntaskannya?
Pertanyaan itu saya jawab di buku “Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” yang segera terbit.
Ada juga sorotan soal:
- Perpecahan keluarga korban
- Pengaruh dualisme Arema
Klinik Editorial Jurnal IndoProgress (JIP) buka kesempatan buat kalian yang ingin mematangkan riset ilmiah-empiris dalam tradisi Materialisme Dialektis & Historis. Simak posternya, jangan ragu gabung! Workers, let us all learn and unite! ✊
Oh iya, tadi ada yg nanya beli di mana. Tadi kebetulan saya belum dikirimi link. Berikut di bawah ini sudah ada link-nya apabila tertarik ke buku yg ditulis @Rafilsafat berjudul Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan 👇
https://t.co/l6yuVO1o9c
Lebih detail saya jelaskan dlm buku karya @Rafilsafat berjudul Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan. Saya menulis epilog dg judul: Apakah Kita Belajar dari Tragedi Kanjuruhan. Saya lebih fokus kepada regulasi atau sistem. Sebab, suporter di mana-mana itu sama saja, kalimat yg sering saya ucapkan di banyak kesempatan. Yg membedakan adalah regulasi dan sistem. Contoh, kita ingat kan gimana kereta api dulu, sebelum Jonan hadir dan bikin sistem yg tegas, ya kacau. Saat aturan dan sistem jalan, ya tertib kok.
Bukan keputusan yg tepat, tapi masuk akal terkait Persija vs Persib. Kok bisa gitu, siapa pun yg bertanggung jawab atas laga ini, mesti akan gentar. Sebab, belum ada aturan atau regulasi yg jelas dan tegas.
Fakta yg menunjukkan kita emang belum belajar dari Tragedi Kanjuruhan. Berbeda dg pemerintah Inggris yg belajar dari Tragedi Heysel pada 29 Mei 1985 yang memakan korban 39 penonton meninggal. Juga Tragedi Hillsborough pada 15 April 1989 dengan 97 korban jiwa.
Bagaimana menurut kalian? Bagi saya, belum belajar atau bahkan gak mau belajar. Saya coba tuangkan perspektif saya dalam utas ini...
Kenapa Tragedi Kanjuruhan tidak tuntas? Apa indikator tuntasnya? Bagaimana menuntaskannya?
Pertanyaan itu saya jawab di buku “Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” yang segera terbit.
Ada juga sorotan soal:
- Perpecahan keluarga korban
- Pengaruh dualisme Arema
Buku "Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan" akan terbit.
“Buku ini merupakan pencapaian langka dalam literatur sepak bola Indonesia karena keberanian penulisnya menggunakan kritik ekonomi politik sebagai pisau bedah utama.”
-Zen RS
Monggo:
https://t.co/xfYjChMPro
Saya menelusuri puluhan referensi tentang kapitalisme sepak bola, kepolisian, gerakan sosial pasca-tragedi, dan antropologi ekonomi. Salah dua literatur kuncinya adalah dua buku ini:
Kenapa Tragedi Kanjuruhan tidak tuntas? Apa indikator tuntasnya? Bagaimana menuntaskannya?
Pertanyaan itu saya jawab di buku “Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” yang segera terbit.
Ada juga sorotan soal:
- Perpecahan keluarga korban
- Pengaruh dualisme Arema
Di Kota ini, ratusan penduduk pernah dibantai polisi. Di Kota ini, trauma adalah bom waktu yang siap meledakkan negara kapan saja.
Dini hari pukul 01.12 (30/08), dalam terpaan dingin malam, Malang menolak padam!
Polisi Jancok!
Di Kota ini, ratusan penduduk pernah dibantai polisi. Di Kota ini, trauma adalah bom waktu yang siap meledakkan negara kapan saja.
Dini hari pukul 01.12 (30/08), dalam terpaan dingin malam, Malang menolak padam!
Polisi Jancok!
Setelah sekian lama tidak silaturahmi ke Universitas Muhammadiyah Malang, akhirnya aku berkesempatan sowan 🤲🏻😁
Besok bahas UU TNI pakai dialektikal materialisme (diamat), mencoba melampaui perspektif HAM dan “realisme HI” yang menjamur.
mementingkan ‘gerakan’ dan mengabaikan hal2 harmful yang dilakukan oleh orang di dalamnya…. really lost my words & gatau bisa percaya sama siapa lagi esp those so called aktivis lol….. :)))))))))