Warbiasah.. kmar pasien BPJS kls 3 @siloamhospitals Klapa 2 Kab. Tangerang sangat representatif utk psien BPJS yg cm kls 3..
Ada TV, kulkas kecil, di ruangan cm 2 kmr.. smua nakesnya sopan ramah.. apa ini cm kbetulan..?
Kami sering ke RS, tp baru kali ini, tmpatnya bgus banget..
Jumat, 1 Mei 2026,
Di hari libur Hari Buruh Internasional, saya, dr. Tifa, tetap melangkah ke POLDA Metro Jaya untuk menunaikan kewajiban lapor yang ke-23 kali.
Kesibukan menyelesaikan tahap akhir S3, membuat saya hanya bisa Wajib Lapor di akhir Minggu atau hari libur.
Ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah catatan tentang bagaimana hukum di negeri ini, dijalankan dengan sangat menyedihkan.
Melalui Penyidik Kamneg Unit 5, saya mendapatkan informasi bahwa berkas perkara yang kira-kira setinggi 5 meter telah dikembalikan dari Polda ke Kejaksaan. Sebelumnya, berkas tersebut dikirim ke Kejaksaan pada 13 Januari 2026.
Namun berdasarkan ketentuan hukum acara pidana, ketika berkas dikembalikan oleh Kejaksaan, penyidik wajib melengkapi dan mengirimkannya kembali dalam waktu maksimal 14 hari.
Faktanya, pengiriman ulang baru dilakukan pada 17 April 2026.
Artinya:
Terjadi keterlambatan yang signifikan
Berpotensi melanggar ketentuan prosedural
Dan menimbulkan pertanyaan serius tentang akuntabilitas penegakan hukum
Lebih dari itu, proses ini telah berdampak nyata:
Status hukum yang menggantung berbulan-bulan
Menjadi Tahanan Kota dengan Wajib Lapor berbulan-bula.
Pencekalan ke luar negeri
Menghasilkan
Tertundanya ibadah Haji dan Umroh dan tugas-tugas keilmuwan profesional
Tekanan psikologis yang tidak ringan
Yang lebih memprihatinkan, situasi ini telah memperkeruh ruang publik: Masyarakat dipertentangkan, pecah belah adu domba oleh para Termul dan Buzzer, energi bangsa terkuras dalam konflik yang tidak produktif.
Dalam negara hukum, kekuasaan seharusnya tunduk pada aturan, bukan sebaliknya.
Saya tidak berbicara tentang siapa benar atau salah secara personal. Saya berbicara tentang prinsip:
Bahwa hukum tidak boleh dipaksakan.
Bahwa prosedur tidak boleh dilanggar.
Bahwa warga negara berhak atas kepastian dan keadilan.
Saya katakan hari ini
Jika Ijazahnya terbukti asli, maka Jokowi sangat jahat, membiarkan anak bangsa bertikai bertahun-tahun. Menghabiskan, dana negara bermiliar rupiah, energi rakyat yang terkuras.
Jika Ijazahnya terbukti palsu, sungguh saya kehilangan kata-kata untuk menyebut dia.
Napak tilas perjalanan ijazah palsu dan photo palsu si wiwi.
Pantas sekarang ngotot bertahan dan bikin drama panjang, ternyata niat banget dan penuh perencanaan guna palsukan ijazah demi jadi pejabat. Ini kejahatan penipuan yg sistematis, terstruktur dan terencana.
TERUNGKAP...
DUMATNO BERSAKSI DIATAS KITAB SUCI...
SETELAH SEKIAN LAMA DIINTIMIDASI, AKHIRNYA BERANI MENGAKUI FOTO ITU ADALAH DIRINYA SENDIRI....‼️
#JokowiPerusakRI#JokowiPerusakRI
🆘🆗
Iyes..... mending di bubarin aja lah sekolah2
Urusan ijazah kaga kelar2 dan merembet kemana2
Satu orang satu keluarga bikin runyam bikin gaduh seluruh Indonesia
Cukkk
Dear Rismon,
Ingatkah kamu,
Tanggal 15 April 2025.
Ruang 109 Fakultas Kehutanan UGM.
Kita duduk bertiga: aku, kamu, dan dan mas Roy Suryo.
Pertama kali tiga pasang mata kita dan tiga pasang tangan kita, menyaksikan dan memegang Skripsi Palsu milik Joko Widodo.
Hari itu bukan sekadar hari pertemuan pertama. Hari itu adalah titik mula sebuah perjalanan yang tidak ringan, bahkan mungkin terlalu berat untuk manusia biasa.
Dan sejak hari itu, kita bukan lagi sekadar rekan seperjuangan.
Kita menjadi tiga sahabat.
Aku dan Mas Roy,
menganggapmu bukan hanya partner dalam mencari kebenaran, tapi adik kami sendiri.
Ada rasa ingin menjaga. Ada rasa percaya yang tumbuh tanpa dibuat-buat. Ada keyakinan bahwa kita bertiga adalah satu barisan kecil yang tak akan terpisahkan.
Aku masih ingat caramu berbicara waktu itu,
penuh keyakinan, penuh api.
Seolah kita semua adalah bagian dari barisan kecil yang ditakdirkan untuk menyalakan terang di tengah gelap yang sudah terlalu lama dibiarkan.
Kita tertawa. Kita berdiskusi. Kita merancang langkah-langkah.
Dan di antara semua itu, tidak ada sedikit pun keraguan bahwa kita berada di sisi yang benar.
Tapi Rismon,
jalan yang kita pilih ternyata bukan jalan lurus. Ia berkelok. Ia gelap. Ia penuh jebakan.
Dan yang paling menyakitkan, kadang bukan musuh di depan yang melukai, tapi perubahan arah dari mereka yang dulu berjalan di samping kita.
Ada satu bagian dari perjalanan ini yang sampai hari ini masih mengganjal, dan jujur saja, itu yang paling membuat hati ini terasa berat.
Tentang ijazah Yamaguchi itu.
Tentang surat keterangan kematian yang dikabarkan lawan kita.
Hal-hal yang, aku tahu, membuatmu berada dalam posisi yang tidak mudah. Mungkin kamu merasa terancam. Mungkin kamu merasa sendirian. Mungkin kamu takut.
Tapi justru di situlah, seharusnya kamu kembali ke kami.
Mengapa kamu tidak bicara. Mengapa kamu memilih diam, lalu berbalik arah?
Padahal sejak awal, kita berjalan bukan sebagai orang asing.
Kita berjalan sebagai tiga sahabat.
Aku dan Mas Roy sudah menganggapmu sebagai adik,
yang seharusnya bisa datang kapan saja, membawa beban seberat apa pun, tanpa takut dihakimi.
Kalau memang di masa lalu ada yang pernah keliru, kalau pernah ada kebohongan, kalau pernah ada langkah yang salah, itu bukan akhir dari segalanya, Rismon.
Tidak ada manusia yang bersih tanpa cela. Dan tidak ada masalah yang benar-benar buntu, jika kita hadapi bersama, dengan jujur.
Kita bisa cari jalan keluar. Kita bisa berdiri bersama. Kita bisa memperbaiki, apa pun itu.
Tapi yang terjadi, justru sebaliknya.
Kamu memilih jalan sendiri. Kamu menjauh. Dan pada titik tertentu… kamu berdiri di sisi yang berseberangan.
Bahkan kamu sekarang memusuhi kami.
Dan di sinilah pertanyaan itu tak bisa lagi aku tahan:
Mengapa kamu berkhianat?
Bukan hanya kepada kami.
Bukan hanya kepada persahabatan yang kita bangun dengan tulus…
Tapi juga kepada begitu banyak orang yang menggantungkan harapan pada perjuangan ini.
Pada rakyat. Pada kebenaran yang seharusnya kita jaga bersama.
Apakah semua ini sepadan, Rismon?
Apakah rasa takut itu lebih besar
daripada nilai kebenaran yang dulu kamu perjuangkan dengan penuh keyakinan?
Aku tidak menulis ini dengan amarah.
Aku menulis ini dengan luka.
Karena kehilangan seorang lawan itu biasa.
Tapi kehilangan seorang adik dalam perjuangan, itu jauh lebih dalam rasanya.
Namun satu hal yang harus kamu tahu, Kebenaran tidak pernah berubah, meski manusia bisa.
Dan pintu untuk kembali pada kebenaran, tidak pernah tertutup.
Seberat apa pun langkah yang sudah kamu ambil, selama masih ada keberanian untuk jujur,
selalu ada jalan pulang.
Jika suatu hari nanti kamu kembali melihat ke belakang, ingatlah satu hal:
Kita pernah menjadi tiga sahabat.
Kita pernah berdiri di titik yang sama, dengan hati yang bersih, dan niat yang lurus. Tak akan bisa dihapus oleh apa pun.
Aku, dr Tifa, menulis ini untukmu, Rismon,
dengan pilu yang tak terucap.
Pak @prabowo , kenapa RI tidak ikut perang melawan Iran..?
Bukankah keamanan IsraHell kini sedang terancam..?
Ayolah Pak, jangan cuma jadi #PresidenOmonOmon