Backrooms (2026)
Dir. Kane Parsons
Pertama kali nonton, aku ngira ini pure psychological horror. Tentang manusia-manusia yang kecewa, marah, sedih, dan segala sisi gelap yang belum sempat diajak kompromi lalu terdampar di dimensi liminal tanpa ujung ini. Backrooms: luka batin kolektif yang membusuk dan menyalin bentuk nyata manusia.
Kurasa itu kenapa wujud-wujud anomali terasa terlalu manusia buat jadi monster. Barbara, misalnya: kulit kepalanya dikelupas dan gak berdarah. Tapi, masih bisa kalut dan lari ketakutan saat ada ancaman. Clark versi bajak laut juga begitu: agresif, brutal, grotesque, jelas merepresentasikan kemuakan dia terhadap bisnis furniturnya yang gagal. Tapi, saat wajahnya dihantam semen, dia berdarah. Jadi, mereka bukan cuma makhluk random, tapi echo dari manusia nyata yang pernah ada di sana.
Dan itu yang bikin pengalaman nonton pertamaku nakutin. Lorong-lorong ganjil dengan lampu silau atau nol cahaya, ruangan monoton atau kacau-balau, ambience kosong sekaligus mengintai. Dingin dan mati. Semuanya adalah visualisasi subconscious manusia yang rusak.
Sampai terlibatnya Async ini kayak ngacau suasana. Damn, what new layer of insanity is this now?
Yak, backrooms ternyata bukan cuma metafora psikologis. Ia adalah sesuatu yang sedang dipelajari dan dieksploitasi. Ada semesta ilmiah di balik semua ketakmasukakalan itu. Interkom yang muterin rekaman fonograf Voyager, manusia purba aneh dari cardboard, dan CCTV yang terus ngawas. Mendadak kita dikasih liat sci-fi horror yang beku. Kombinasi psikologi + sains yang salah arah itu jauh lebih ngeri daripada hantu, sih.
Pas nonton kedua kali, aku full pakai POV sci-fi. Jadi, opening filmnya langsung klik. Orang pertama yang muncul memang salah satu periset Async yang masuk ke backrooms buat ngebuktiin sesuatu, dan tas yang ditemukan Clark itu miliknya. Async jelas tahu tempat ini destruktif, tapi bukannya ditutup malah terus digali lebih dalam.
Dan bagian paling disturbing? Mereka membungkam survivor. Orang-orang yang berhasil keluar lewat ambang batas menuju laboratorium Async gak diperlakukan sebagai korban, malah saksi yang jadi ancaman.
Clear, ya, kenapa senyum Mary di akhir kerasa pahitnya. Dia sadar gak ada jalan keluar yang benar. Keluar hidup-hidup atau mati terjebak di sana, hasil akhirnya tetap sama: manusia yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan perlahan jadi bagian dari backrooms itu sendiri. Dan itu juga kenapa nasib Kat dan Bobby kayak implied selesai dalam artian paling tragis: killed and finished.
Aku juga gak bisa ngebayangin apa film ini bakal bekerja seefektif ini kalau setting waktunya bukan era analog 90-an. VHS noise, kabel kusut, dengung tape recorder, monitor tabung, CCTV burem, interkom kusam, semuanya bikin Backrooms lebih absurd dan uncanny.
Parsons sinting, sih. Aku di umur 20 masih bingung mau ikut klub debat apa teater, dia malah udah bikin mimpi buruk audiovisual sekomplet ini dari mitologi internet, dan nge-direct Ejiofor-Reinsve dengan visi sepresisi itu.
Backrooms jelas bukan film horor yang maksa kita lompat dari kursi tiap lima menit. Dia itu penyakit pelan. Tapi, meski film ini dibilang slowburn, lompatannya terlalu asik, dan malah kayak cepet banget penyelesaiannya. Parsons managed to turn damp carpet and fluorescent lights into existential terror. Kacau ini orang.
Jujur ya mahasiswa dan masyarakat sekarang lebih pinter loh, ga lagi berkoar koar di depan gedung politikus yang sudah di setting untuk kosong, tapi memanfaatkan spotlight jalanan ibukota, banyak banget gedung gedung tinggi yang dimana para manusia, orang orang penting, pengusaha pengusaha, bisa melihat langsung kejadian tersebut dari balik jendela, media juga lebih banyak yang datang dan menyoroti, keren ���🏻😭🔥
Gak nyangka NOBODY LOVES KAY bikin Minton ngerasa relate mampus sampe nangisin tanker.
Ternyata hidup kita yg banyak ngalahnya ini adalah role tanker, gaes 🥲
Lukita Maxwell and Finn Bennett are playing a couple in ‘BACKROOMS’.
Kane Parsons’ anticipated horror feature hits cinemas across Indonesia starting tomorrow.
I can maintain any relationship. I'm still in touch some of old folks from different stages of my life. As long as you're not a bully, self-centered, or looking down on others, we're good. I lov u, and i like seeing u saksesss ✨️