Kalo bahas Film nya Nolan itu emang gaada abisnya..
FYI sinefil
Nolan tuh gak build Ithaca, bro. Dia nemuin langsung.
91 hari keliling 6 negara, zero green screen, soalnya cowok ini ogah banget fake horizon yang bisa dia fly-in buat syuting beneran. Troy dibakar di Aït Benhaddou, Maroko — kota bata lumpur yang sama yang pernah bikin Gladiator sama Lawrence of Arabia. Cyclops-nya ngumpet di Nestor’s Cave di atas Voidokilia Beach, Peloponnese, nama asli, mitos asli, udah ada 3000 tahun sebelum filmnya lahir.
Laestrygonians nge-hunt di Culbin Forest, pantai Moray Skotlandia. Charybdis ngamuk di Aeolian Islands deket Lipari. Terus Penelope nunggu di benteng abad 15 yang tiap hari crew naik gunung buat syuting, Castello di Santa Caterina, 900 kaki di atas Favignana. Nolan cuma liat sekali langsung bilang, “Ini istananya.”
A l i g
Peserta uji nyali episode Lawang Sewu katanya meninggal 3 hari setelah lihat penampakan mba kunti di lawang sewu. Tahun 2021, tiba-tiba anak beliau muncul di kolom komentar fb untuk klarifikasi isu ini, kira2 begini isinya:
Di awal 2000-an TV Indonesia dibanjiri dengan acara berbau mistis, beberapa yang gw inget:
- Dunia Lain (Trans TV)
- Percaya Ga Percaya (ANTV)
- Kismis (RCTI)
- Pemburu Hantu (Lativi)
Masih ada yang inget acara2 ini? Atau mungkin ada acara yang lain? Ceritakan disini.
Gaes, tadi di Commuter Line lagi asik duduk tenang-tenang. Tiba-tiba ada ibu-ibu naik, langsung gue kasih tempat duduk dengan hati mulia.
Eh... malah kena bom balik: 'Terima kasih ya Mas, sudah ganteng, baik banget'
Gue langsung pengen tenggelam di lantai gerbong. Kok malah dibuka aib gue di depan umum sih Buuu"
Padahal cuma mau sopan, eh malah dikasi pujian yang bikin malu sendiri.
Cowok-cowok yang sering kasih kursi di KRL, kalian juga sering kena gini ga? Atau cuma gue yang nasibnya begini?
#CommuterLine #KRL #CurhatKRL
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Efek kebijakan Work From Home (WFH) kepada ISTRI
Kepala Dinas:
"Tadi saya telepon kamu, yang terima istrimu. Katanya kamu lagi masak. Kenapa gak segera telepon balik?"
Kabid: "Sudah saya telepon balik Pak... yang merima istri Bapak. Katanya, Bapak sedang nyuci..."
😀🤭
Rangers menjuarai Liga Primer Skotlandia sembilan kali beruntun sepanjang 1988/1989 hingga 1996/1997.
Guna meneruskan rekor ciamik tersebut, pada musim panas 1997 klub asuhan Walter Smith menggaet pemain asal Italia buat memperkokoh tim.
Tak tanggung-tanggung, empat Italiano sekaligus diboyong ke Stadion Ibrox. Lorenzo Amoruso, Gennaro Gattuso, Marco Negri & Sergio Porrini.
Ajaibnya, mereka langsung jadi andalan Smith di tim utama. Minus Amoruso yang cedera tendon achilles dan mesti absen lama.
Namun apes, misi Rangers merengkuh titel Liga Primer Skotlandia sepuluh musim berurutan pupus. Mereka finis di bawah sang rival bebuyutan, Celtic, hanya berselisih dua poin.