Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?
Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai. Namun, kita masih bisa mengurangi risikonya, sembari terus berusaha memperbaiki kerusakan alam.
Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat.
Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi.
Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua. •••
Ini kronologis sampai bisa jadi seperti hari ini. Makanya jangan jumawa dan flexing aja tuh kalian yang sedang di atas.
1.Katanya efisiensi, tapi jumlah menteri banyak, wamen-wamen dikasih jabatan komisaris BUMN.
2. Kenaikan PBB di berbagai daerah, sampai nilai yang fantastis, memicu demo besar terutama di Pati.
3. Di tengah himpitan ekonomi, harus menyaksikan kenaikan tunjangan DPR yg tidak masuk akal. Eh, anggota dewannya pada joget lagi di Senayan. Setelahnya banyak yang ngeles bela diri dengan statemen nggak masuk akal.
4. Provokasi bbrp anggota DPR termasuk Sahroni.
5. Pecah demo besar, jatuh korban jiwa yang dilindas Rantis Brimob.
6. Demo makin besar.
@DedynurPalakka Yang dilarang di dalam masjid adalah kalau agitasi/propaganda yang dilakukan, mengarah/mengajak ke kufuran dan kemusyrikan.
Surat Al-Baqarah (2:114)
Gue malu Presiden RI yang sudah berumur 73 tahun berpidato menggunakan gestur ala bocah “nye…nye…nye” (“terlalu besar”) dan ngomong, “ndasmu”.
Di ruangan itu reaksinya banyak yang ketawa pula 😓
Ini dana IKN distop karena ada investor asing kan?
Jd bangunnya pake uang luar negri aj. Kmrn katanya banyak yg udah invest.
Klo beneran BERHENTI TOTAL berarti omongan kemarin BOHONG dong.
Pejabat negara klo bohong harus ada sanksinya. JANGAN wajarkan asbun dan janji palsu.
Si Teddy itu tugasnya apa ya selain jadi bodyguard Prabowo? Doi itu pejabat setingkat menteri njir. Sebagai contoh, jabatan ini sebelumnya diisi oleh Pramono Anung.