Dear football,
Today, I want to share with you that this season will be my last as a professional footballer. After so many years living my dream, I feel it’s time to start a new chapter in my life.
Being honest, even though I have been preparing myself for this moment, I found it hard to write this letter. After 20 seasons , many people have played an important role in my career.
When I first kicked a ball as a child in Pamplona with my schoolmates, I never imagined the amazing journey ahead. I’m grateful for every moment: the wins, the tough losses, the challenges, and most of all, the people I’ve met and the friendships I’ve made along the way.
To my teammates, coaches, and every staff member at all the clubs I’ve been lucky to be part of, thank you for helping me grow as a person and a player every day. Wearing the shirts of CA Osasuna, Olympique Marseille, Chelsea FC, Atlético de Madrid, Sevilla FC, and representing my country at the biggest stages has been a true privilege. Every moment has meant so much to me…
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? 🤯
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
$ESSA baru saja menerbitkan laporan keuangan FY25. Operasional di sektor LPG (~14%) refinery dan Ammonia (~86%) ini blm terlalu diapresiasi pasar. FY25 financial looks strong, dan ambisi di 4Q25 debt free pun terealisasi. Secara YoY, emiten ini masi menarik secara fundamental.
#SahamUntukBayi - Pengantar Laporan Keuangan & Keterbukaan Informasi (1/3)
Gimana Caranya Kita Tahu Perusahaan Sehat atau Nggak?
Kalau mau tahu sehat atau nggaknya tubuh kita, biasanya kita cek ke dokter.
Dokter kasih kita hasil cek darah, rontgen paru-paru, dan catatan detak jantung.
Nah, dalam dunia keuangan perusahaan, kita juga punya tiga laporan penting yang mirip hasil cek dokter tadi.
Bedanya, tiga laporan ini mengecek kesehatan keuangan perusahaan.
Isi laporannya adalah:
1. Neraca (Balance Sheet)
2. Laporan Laba Rugi (Income Statement)
3. Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement)
Yuk kita bahas perihal laporan keuangan dan keterbukaan informasi dari awal banget!
1. Apa sih sebenarnya PER itu?
Bayangin kamu mau beli warung bakso.
Pemiliknya bilang usaha bakso itu menghasilkan untung bersih Rp5 juta setiap tahun.
Sekarang, pemilik warung menawarkan untuk menjual warung bakso itu dengan harga Rp50 juta.
Artinya kamu harus bayar Rp50 juta untuk mendapat usaha yang tiap tahun menghasilkan untung Rp5 juta setiap tahun.
Nah, PER itu adalah:
"Harga yang kamu bayar dibagi keuntungan tahunan yang didapat".
Kalau di contoh tadi:
Harga warung (Rp50 juta) ÷ Untung setahun (Rp5 juta) = PER 10
Angka PER ini artinya: "Kamu butuh waktu berapa tahun agar uang belimu kembali kalau untung per tahun tetap sama."
Tadi kan kamu bayar Rp50 juta, untung per tahun Rp5 juta.
Berarti dalam 10 tahun modalmu kembali (50 ÷ 5 = 10).
• Kalau PER kecil: Cepat balik modalnya (murah).
• Kalau PER besar: Lama balik modalnya (mahal). Gampang kan?
2. Lalu gimana sih PER yang sebenarnya digunakan di saham?
Kalau dalam dunia saham, kita tidak langsung membagi harga saham dengan laba bersih total perusahaan begitu saja.
Kita harus melihat keuntungan per lembar saham yang disebut EPS (Earnings per Share).
Apa itu EPS?
EPS adalah laba bersih perusahaan dibagi jumlah seluruh lembar saham perusahaan yang beredar di pasar.
Gampangnya begini:
• Kalau perusahaan punya keuntungan Rp100 juta setahun
• Saham yang beredar ada 1 juta lembar
Maka laba per sahamnya (EPS) adalah
Rp100 juta(keuntungan) ÷ 1 juta lembar(jumlah saham beredar) = Rp100 per lembar saham EPS nya.
Setelah dapat EPS tadi, barulah kita hitung PER-nya. Misalnya harga sahamnya saat ini Rp1.000 per lembar, sementara EPS-nya Rp100 per lembar, maka PER-nya adalah
Rp1.000 ÷ Rp100 = PER 10.
Artinya, investor akan balik modal dalam waktu 10 tahun.
3. Terus PER yang ideal berapa? Mahal itu berapa? Murah itu berapa?
• PER di bawah 10
Murah atau dianggap murah.
Pasar nggak berharap banyak sama perusahaan ini. Bisa jadi saham lagi diskon, tapi bisa juga karena ada masalah di perusahaannya.
• PER antara 10–20
Ini paling umum. Artinya harga wajar, nggak murah-murah banget, tapi nggak mahal juga.
Perusahaannya biasanya stabil.
• PER di atas 20–30
Ini mahal. Pasar berharap banget perusahaan tumbuh pesat di masa depan.
Contohnya saham teknologi biasanya PER-nya tinggi. Warren Buffett suka cari saham bagus dengan PER wajar atau rendah supaya nggak kemahalan belinya.
4. Tapi hati-hati! PER rendah nggak selalu bagus.
Misalnya, PER sebuah saham cuma 5 (murah banget).
Kamu pikir bagus kan?
Tapi ternyata laba perusahaan itu turun terus tiap tahun.
Awalnya laba tinggi, makin lama makin turun.
Tentu pasar nggak mau bayar mahal.
Makanya PER jadi rendah.
Ini jebakan kalau kamu nggak teliti(value trap).
Ibarat barang diskon tapi kualitasnya jelek.
Murah tapi murahan.
5. PER tinggi juga belum tentu buruk!
Misalnya saham teknologi terkenal seperti Apple.
Kadang PER-nya bisa 30 kali atau lebih.
Mahal banget, Tapi karena investor yakin Apple akan terus untung besar di masa depan, mereka rela bayar harga mahal.
Ini seperti beli barang mahal tapi kualitasnya bagus banget.
Akhirnya, investasi tetap menguntungkan walaupun harganya tinggi.
6. Cara gunakan PER saat memilih saham:
• Jangan lihat PER sendirian
Cek juga apakah laba perusahaan naik atau turun tiap tahun.
Kalau laba naik terus, PER tinggi bisa diterima.
• Bandingkan PER antar perusahaan yang sejenis
Bandingkan bank dengan bank, perusahaan teknologi dengan teknologi.
Kalau bank lain PER-nya 10 tapi saham ini PER-nya 25, kamu harus tanya dulu: “Kenapa kok mahal banget?”
• Hati-hati dengan PER rendah karena ada masalah di perusahaan.
Kalau PER rendah banget (di bawah 5) cek dulu apakah perusahaan punya masalah keuangan, atau bisnisnya lagi tertimpa musibah.
Karena kalau bisnis nya sudah tamat, akan sangat sulit untuk naik kembali sahamnya.
• PER tinggi boleh saja, asal pertumbuhan laba juga tinggi.
PER mahal harus dibarengi dengan pertumbuhan laba yang besar.
Atau adanya "future value" atau laba masa depan.
Kalau nggak, kamu bakal rugi karena beli mahal.
1. Apa sih sebenarnya PBV itu?
Bayangin kamu mau beli toko madura kecil punya temanmu
Temanmu bilang tokonya punya total aset (barang dagangan, meja, rak, uang kas, dll) sebesar Rp20 juta.
Tapi ternyata, temanmu juga punya utang sebesar Rp5 juta.
Maka kalau toko itu dijual, nilai bersihnya adalah aset (Rp20 juta) dikurangi utang (Rp5 juta), yaitu Rp15 juta.
Nah, angka Rp15 juta ini yang disebut “nilai buku” atau book value.
Gampangnya: Nilai Buku = Total Aset – Total Utang
2. Terus PBV itu gimana?
Misalnya temanmu tadi mau jual tokonya ke kamu seharga Rp12 juta saja, padahal nilai bukunya tadi Rp15 juta.
Maka rasio PBV-nya: Harga toko ÷ Nilai Buku =
Rp12 juta ÷ Rp15 juta = 0,8.
Artinya, kamu beli toko tersebut di bawah nilai sebenarnya alias dapat diskon.
3. Gimana kalau harga tokonya lebih mahal dari nilai buku?
Kalau temanmu jual tokonya Rp18 juta, maka PBV-nya: Rp18 juta ÷ Rp15 juta = 1,2
Artinya kamu bayar harga 20% lebih mahal dari nilai bersihnya.
Bisa mahal? Iya. Tapi mungkin aja karena toko itu prospeknya bagus banget atau lokasi strategis, jadi layak dihargai lebih tinggi.
4. Cara membaca PBV:
• PBV di bawah 1: Harga lebih murah dibandingkan nilai bersih perusahaan.
Murah, Seperti beli barang diskon.
• PBV di atas 1: Harga lebih mahal dibanding nilai aset bersih.
Harga sudah mahal atau pasar percaya perusahaan punya masa depan cerah atau aset bagus banget sehingga layak bayar lebih mahal.
5. Tapi, apakah PBV rendah selalu bagus?
Belum tentu! Misal kamu beli toko murah (PBV rendah), tapi ternyata barang dagangannya udah rusak-rusak atau nggak laku-laku, meja dan rak udah lapuk, atau punya banyak piutang macet.
Akhirnya kamu malah rugi meski beli murah. Begitu pula di saham.
Jadi PBV rendah belum tentu bagus kalau kualitas asetnya buruk.
Harus dicek dulu ya.
#SahamUntukBayi #PBV
1. Apa sih sebenarnya ROE itu?
Bayangin kamu membuka toko kopi kecil.
Kamu modal Rp10 juta, lalu dalam setahun kamu bisa untung Rp3 juta.
Nah, berarti uang Rp10 juta kamu bisa menghasilkan untung Rp3 juta setahun, kan?
Itulah ROE (Return on Equity):
"Setiap Rp1 modal yang ditanam pemilik perusahaan, menghasilkan berapa rupiah keuntungan dalam setahun?"
Jadi, kalau tadi contoh kedai kopimu, ROE-nya:
3 juta (keuntungannya) ÷ 10 juta (modalnya) = 0,3 atau 30%.
Intinya, makin tinggi angka ROE, makin jago perusahaan ngehasilin uang dari modal yang dimilikinya.
2.Kenapa Warren Buffett suka banget pakai ROE? Buffett bilang begini:
"ROE tinggi menandakan bahwa perusahaan tersebut pintar mengelola uang pemiliknya. Dan kalau ROE-nya tinggi terus selama bertahun-tahun tanpa trik akuntansi aneh-aneh atau utang yang berlebihan, berarti perusahaan itu benar-benar punya bisnis yang bagus."
Jadi, ROE seperti rapor sekolahnya perusahaan:
makin tinggi nilainya, makin sehat bisnisnya.
3.Kisah nyata dari saham favorit Buffett di tahun 90-an: Zaman dulu, Buffett suka banget beli saham Coca-Cola, Gillette, atau Philip Morris.
Kenapa dia suka mereka? Karena perusahaan-perusahaan ini secara konsisten punya ROE antara 30%-50% setiap tahun.
Ini seperti punya mesin printer uang pribadi yang selalu produktif nggak peduli ekonomi sedang bagus atau buruk, uang terus bertambah!
Bayangin aja, modal Rp1 juta, setiap tahun perusahaan bisa untung Rp400-500 ribu secara rutin.
4.Ini 5 Kiat Buffett Pakai ROE buat Cari Saham:
1. Cari perusahaan yang ROE-nya tinggi tapi utangnya kecil
2. Perhatikan jenis bisnisnya
Produk sehari-hari seperti minuman, rokok, sabun (consumer goods) biasanya punya ROE stabil.
Tapi perusahaan mobil atau baja, yang tergantung naik turun nya ekonomi, biasanya ROE-nya nggak stabil.
3. Hati-hati trik buyback saham
Perusahaan bisa beli sahamnya sendiri supaya ROE kelihatan tinggi, padahal sebenarnya labanya biasa aja.
4. Jangan terbuai ROE tinggi sesaat
Ada perusahaan yang tiba-tiba punya ROE tinggi karena jual aset sekali saja.
Jangan tergoda! Yang penting adalah konsistensi jangka panjang.
5. Ingat, ROE tergantung kondisi ekonomi
Ekonomi bagus, ROE naik.
Ekonomi buruk, ROE turun.
Jadi jangan cuma melihat angka satu tahun. Lihat tren jangka panjangnya.
To celebrate the conclusion of the 2024/25 season and #Chelsea winning the #FIFACWC, we are giving away two 2025/26 Blues shirts of your choice! 🏆
To enter:
🔹 Follow @AbsoluteChelsea
🔹 RT this post
The winners will be announced at 6pm [UK] on 17/07. Good luck! 💙
🚨 BREAKING: IPO = KESEMPATAN DAPET DUIT GRATIS DARI BURSA!!!!🤯
Ada 6 perusahaan baru yang akan IPO! Jangan sampai KELEWATAN CUAN!
Males baca prospektus ratusan halaman? Sudah dirangkum, tinggal scroll!
Buat pejuang crypto juga ada nih perusahaan yang berkaitan sama crypto!
Garansi gak kalah cuan sama trading crypto!
Judi slot, judi bola??? Yuk coba instrumen investasi yang bernama saham, Sudah banyak buktinya yang dapat duit gratisss dari IPO
Let's dive deep!👇
#BahasSaham #IPO #Crypto #Cuan