Jujur ya mahasiswa dan masyarakat sekarang lebih pinter loh, ga lagi berkoar koar di depan gedung politikus yang sudah di setting untuk kosong, tapi memanfaatkan spotlight jalanan ibukota, banyak banget gedung gedung tinggi yang dimana para manusia, orang orang penting, pengusaha pengusaha, bisa melihat langsung kejadian tersebut dari balik jendela, media juga lebih banyak yang datang dan menyoroti, keren 🙌🏻😭🔥
Demo di Bundaran HI ini unik, karena biasanya demo ke lembaga pemerintahan tertentu
Tapi bundaran HI itu sumber traffic: masyarakt dan sosial media
peluang media ngeliput naik
peluang sosmed divideoin orang juga naik
orang aware-> tujuan demo terpenuhi dengan cara baru
18.11, sebagian anak UI pulang sepertinyaa.. tapi masih terpantau padat dengan massa yang lain.
Lebih baik pulang sebelum hilang! terima kasih banyak untuk semangatnya hari ini
Walau kita tahu PRESIDEN KITA BUDEG
ccthread: ayuchaira
Prabowo ni gak sadar2 kah jalan 2 tahun blio menjabat dia udh berkali kali di demo besar2an 😭😭😭😭😭😭 kayak orang yang gak pernah belajar dr kesalahan jir
Guys, udah pada tau bekum nih?
Baru-baru ini Ketua Komisi XI DPR bilang pemerintah harus lebih agresif ngejar penerimaan pajak supaya kemampuan bayar utang negara tetap terjaga.
sekali lagi dewan perwakilan rakyat
menyuruh pemerintah agar lebih tegas
dan berani dalam mempajaki rakyat
Soalnya utang pemerintah terus naik dan sekarang nilainya sudah tembus ribuan triliun rupiah.
Yang bikin banyak orang bertanya-tanya, kenapa solusi yang sering dibahas selalu nambah penerimaan pajak?
Padahal di sisi lain masyarakat sudah menghadapi banyak tekanan ekonomi, mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya kesehatan, sampai daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
mereka ini perwakilan rakyat bukan sih?
@LambeSahamjja Kok semua lembaga negara gak berfungsi.
1. Eksekutif gak bisa eksekusi
2. Dewan perwakilan rakyat tidak mewakili rakyat
3. lembaga peradilan tidak adil
4. Badan gizi negara tidak memberikan makanan bergizi
oh sblmnya gue ngethreads begini krn ternyata akun gue diblokir sama akun brand tempat dia kerja. sengaja dibuat no name no brand.. eh direply berarti bener dong ya sengaja diblokir. cukup disayangkam sih padahal ini udah urusan profesional antara konsumen dan produsen
mo yapping
ada sebonggol manusia yg ngata2in gue suka minta2 ke brand ceritanya, just because gue sering coba peruntungan nyobain campaign n ikut giveaway.
padahal jauh sblm itu, gue udah pernah diundang brand buat ikut event mereka, gue udah diundang brand untuk jd panelis jg
its funny things. beberapa hari setelahnya doi blokir gue dan ternyata jg ngikutin "minta2" spt yg dia maksud
good news krn gue ttp jadi inspirasi dia lah ya HAHAHA kurang NPD kaya doi ga gue
Beneran gw gabisa berkata kata lagi
- Aceh blm pulih 100%
- Rupiah Anjlok
- Sumatera blackout
- Jabodetabek rawan begal
- Teror pocong golok bertebaran
Prabowo era lebih parah dibanding covid era sialannnnn…
Guys, gue perlu lo baca ini baik-baik karena ini menurut gue salah satu potret paling absurd yang pernah terjadi di republik ini dalam satu hari yang sama.
Pagi — Prabowo bilang di depan ribuan rakyat:
"Mau dolar berapa ribu kek, di desa kan enggak pakai dolar."
Siang — Kapolri Listyo Sigit laporan ke Prabowo soal hasil panen jagung Polri.
Dan Prabowo memberi apresiasi.
Bukan panen raya hasil tangkap pengedar narkoba. Bukan laporan pemberantasan korupsi.
Bukan statistik kejahatan yang berhasil ditekan.
tapi Panen jagung.
sekali lagi karna panen jagung
Kapolri sekarang tugasnya apa:
661.112 hektar lahan jagung ditanami Polri di 2025. Hasil panen 3,9 juta ton.
Target 2026 naik jadi 1,37 juta hektar.
Polri punya gudang ketahanan pangan.
Polri punya SPPG dapur MBG.
Polri ekspor jagung ke Malaysia dengan margin Rp500 per kilogram.
Dan Kapolri berdiri di depan Presiden melaporkan ini semua dengan bangga.
Gue perlu tanya dengan sangat serius:
Ini Kapolri atau Menteri Pertanian?
Sementara itu di tempat lain di hari yang sama:
Josepha Alexandra siswi SMA yang hafal konstitusi sampai tidur komat-kamitstres berat di rumah setelah diancam lewat WhatsApp oleh nomor tak dikenal karena berani mempertanyakan ketidakadilan juri di lomba cerdas cermat.
Dia bertanya kepada kakaknya:
"Kak, apa aku harus minta maaf?
Katanya aku yang bikin gaduh."
Nadiem Makarim yang membangun ekosistem yang menghidupi jutaan keluarga driver ojol, yang hartanya berkurang selama menjabat,
yang tidak ada satu sen aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke rekeningnya dituntut 27 tahun.
Tom Lembong mantan menteri juga pernah mengalami hal yang
dan masih banyak lagi
Dan ini yang paling bikin gue tidak habis pikir:
Di negara ini sekarang:
Ahli serangga bisa jadi Ketua BGN.
TNI bisa jadi dirut BUMN.
Kapolri tugasnya nanam jagung.
Pejabat yang ketahuan merokok dan main game waktu rapat cuma ditegur.
Tapi orang yang membangun lapangan kerja jutaan orang dituntut 27 tahun.
Anak SMA yang berani jujur diancam somasi.
Wartawan yang laporkan fakta bencana ditekan bosnya untuk diam.
Lo tanya kenapa Amerika bisa sejahtera
padahal kapitalis.
Kenapa China bisa jadi ekonomi nomor dua padahal komunis.
Sementara kita yang katanya demokrasi berlandaskan Pancasila malah makin jauh dari Pancasila itu sendiri.
Gue akan jawab dengan jujur.
Amerika sejahtera bukan karena kapitalisnya.
Tapi karena institusinya bekerja.
Polisi Amerika tugasnya penegakan hukum bukan nanam jagung.
Jaksa Amerika membuktikan kasusnya di pengadilan yang fair bukan dengan audit dari lembaga di bawah presiden.
Anak muda Amerika yang mempertanyakan ketidakadilan dilindungi hukum, bukan diancam WhatsApp.
China jadi ekonomi nomor dua bukan karena komunisnya.
Tapi karena mereka punya satu musuh bersama yang konsisten dikejar: korupsi.
Xi Jinping mencopot jenderal bintang empat
kalau terbukti korup.
Tidak ada yang kebal.
Tidak ada yang terlalu besar untuk dijatuhkan.
Sementara kita?
Kita punya Pancasila yang indah di atas kertas.
Kita punya konstitusi yang dihafal anak SMA sampai tidur komat-kamit.
Kita punya semboyan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tapi eksekusinya adalah Kapolri nanam jagung,
siswi SMA diancam WhatsApp,
dan orang yang menutup celah korupsi pendidikan dituntut 27 tahun.
Yang paling miris dari semua ini:
Bukan pejabatnya.
Bukan sistemnya.
Tapi fakta bahwa kita semua sudah mulai terbiasa.
Kita baca berita Kapolri nanam jagung dan kita scrolling terus. Kita baca anak SMA diancam dan kita bilang "kasihan" lalu lanjut.
Kita baca Nadiem dituntut 27 tahun dan kita berdebat di kolom komentar.
Normalisasi itulah yang paling berbahaya.
Karena ketika absurditas sudah terasa normal tidak ada lagi yang merasa perlu berubah.
Negara yang Kapolrinya bangga laporan panen jagung ke presiden sementara anak SMA yang hafal konstitusinya diancam WhatsApp adalah negara yang sedang kehilangan arah dengan sangat serius.
Bukan karena tidak ada orang baik di dalamnya. Josepha ada.
Nadiem ada.
Para wartawan yang tetap meliput dengan jujur ada. Para guru yang tetap mengajar dengan tulus ada.
Tapi sistem yang seharusnya melindungi mereka justru sedang sibuk nanam jagung.