Entah kenapa ya orang kok ribut masalah Chromebook di mana semua siswa ceritanya musti pakai laptop sendiri-sendiri, padahal harusnya ada cara agar beberapa siswa dapat menggunakan komputer secara bersama-sama dengan konsep time-sharing.
Ngomongnya canggih banget ala ilmuwan komputer atau bagaimana, padahal implementasinya cukup mudah: remote login dan remote access. Dari dulu ada benda namanya SSH, dan ada benda namanya RDP, VNC, atau lainnya, mulai dari yg opensource tapi ribet seperti Guacamole, sampai ke proprietary tapi bagus cocok dipakai seperti VMware Horizon atau UDS Enterprise.
Saya kepikiran jika sudah tahu negara ini resource nya terbatas, baik dari sisi rasio PC dan penggunanya yg nggak mungkin 1:1 beserta konektivitasnya secara geografis, kenapa kok nggak dibikin aja Pusat Komputer, Sanggar Komputer yang dipusatkan di lokasi seperti kantor Kecamatan atau Perpustakaan Daerah (itu per kecamatan atau per kabupaten ya?), kalau cukup banyak penggunanya bisa per Kelurahan/desa. Atau bisa juga di sekolah atau perguruan tinggi yang punya resources.
Konsentrasi computing (dan power) & connectivity resources itu bisa dipusatkan di situ. Nggak usah ngomong daerah 3T dikasih konektivitas, susah itu, percayalah. Kenapa nggak dipusatkan dulu di tempat-tempat yang lebih jelas ada listriknya, ada tarikan kabel networknya, dan bisa dipasang komputer yg bisa nyala agak lama. Komputer sejenis USFF mini PC atau Raspberry Pi dikasih monitor kan juga bisa running terus-menerus.
Saya mengalami jaman berbagi komputer sampai menggunakan komputer saya sendiri itu sudah lebih dari 10 tahun, karena pada waktu itu belum ada laptop dan handphone. Tapi di era itu saya belajar bahwa resource itu bisa dibagi dan dipakai bersama-sama tanpa perlu ngotot bahwa dia harus disebarkan 1:1 ke semua orang. Toh orang pakainya berapa lama sih, apakah tiap hari terus terpakai dengan menjalankan sekian long-running process?
Jika ada RT/RW-Net, kenapa nggak ada RT/RW-Cloud dan RT/RW-Onprem?
Semua teknologi opensource itu sudah ada semua printilannya, pieces of lego nya sudah ada. Masalahnya kita nggak tahu atau nggak sempat bikin konsep tentang bagaimana hampir semua siswa bisa memiliki akses ke resources, eh tiba-tiba sudah didatangi vendor.
Ya sudahlah. Bagaimana, apakah perlu dilanjutkan cerita tentang konsep seperti ini? Kayaknya pak @onnowpurbo dan @papanberjalan sudah punya bayangan.
@dimarsasongko98 Frankly, yg terjadi tgl 10 Nov 45 itu pasukan Inggris tawuran sama anak² pondok Jatim + laskar² perjuangan. Gabungan anak² pondok + laskar berhasil menahan tentara Inggris selama 2 minggu dan membuat Inggris berpikir panjang utk membantu Belanda kembali ke Indonesia.
@dinopattidjalal DH,
Mungkin laporan intelijen yang sampai pada Bapak Presiden menyebutkan bahwa rakyat Indonesia tidak siap jika harus berperang non-konvensional melawan amerika dan sekutu baratnya. Daripada mengorbankan keutuhan NKRI, Presiden memilih pilihan yang sudah kita ketahui bersama.
@harrigieb Pangeran seperti Mangkubumi kok sanggup ya, perang bertahun², lawan putera mahkota pula (yg kemudian jadi raja Mataram). Biayanya dari mana ya? Terus keluarganya bgmn? Kan besar sekali itu keluarganya. Istri saja puluhan.
@dosenhukumnotes Dulu, guru kami, pasti akan memberikan barang² kecil miliknya yang dia pegang kepada orang yang melirik dgn keinginan. Diberikan sbg hadiah. Ini termasuk adab para sufi Islam.