dari tadi pengen buka link bukan karna pengen daftar, soalnya tiket gue pun udah ada dan gue malah ada kerjaan di minggu, tapi penasaran sama undangannya aja
SINETRON MACAM APA INI ampe nikahannya disiarin di ultah tv dan ada undangan virtual juga 🤣🤣🤣🤣
#aryasaloka #Terikatjanji
disini tuh kaya transfer energy bgt ga sii?😖🤸🏻♀️💗
sena yg menumpahkan kelelahan ny setelah misi kemaren
davina yg menumpahkan kelegaanny melihat sena pulang dg selamat
“Why did you wait?”
“Because you promised you would come back.”
“That’s it?”
She took a breath.
“Because… I don’t know how to live a life that doesn’t have you in it.”
—
@Jeiino1 Tapi sebagai laki-laki emang terharu sih kalo ada wanita yg se perduli dan se khawatir itu.
Maksutku pov sena dari sisi orang lain selain bapaknya
Sir Alex Ferguson once said: "That lad must have been born offside."
Jaap Stam called him a diving cheat. Defenders kept insisting he was lucky. Critics said he only scored tap-ins.
He scored 313 career goals and lifted every major trophy in the game.
This is Pippo Inzaghi.
Born in Piacenza, the son of a football coach, the older brother of Simone who would go on to become one of Italy's most successful managers. He grew up idolising Paolo Rossi and Marco van Basten. Two players who were also always there when it mattered most.
He played for Piacenza, Leffe, Verona, Parma, before becoming Serie A top scorer in 1996-97 with 24 goals at Atalanta. Juventus came, he won his first Scudetto alongside Del Piero and Zidane, and scored 89 goals in four seasons in Turin.
Then came Milan in 2001 and everything opened up. He played 300 matches for the Rossoneri and scored 126 goals, Won two Serie A titles, a Coppa Italia, two UEFA Super Cups, a FIFA World Club Cup and two Champions Leagues.
The thing about Inzaghi that his critics never explained was the numbers. 313 career goals. 69 in European competitions, 10 hat-tricks in Serie A, still an all-time record.
His method was simple. He didn't dribble. He rarely shot from outside the box. He simply watched defenders, read where the ball was going before it arrived, and got there first.
The offside trap that caught him 330 times in Serie A also meant that every time he stayed onside, he had a yard on every defender in the box. He used to get furious with wingers in training if they didn't send crosses to exactly the right spot. He had mentally already mapped where he needed to be and needed the ball to meet him there.
He played a crucial role in Milan's 2002-03 Champions League win. Scored 10 goals. But his absolute masterpiece came four years later, in Athens. He scored both goals in the Champions League final against Liverpool.
In between he had also lifted the 2006 World Cup trophy in Berlin. He played only once, coming on as a substitute against Czech Republic. he played 30 minutes and scored. Of course he did.
Ancelotti said of him: "Inzaghi strikes his opponent at the most unexpected moment." What he meant was: the man had no remarkable attributes except being in the right place at the right time, every single time, for twenty-one years.
His younger brother Simone managed Lazio and Inter. Pippo managed Milan, Bologna, Venezia and several others. He was never able to replicate his playing genius in the dugout.
313 goals. Two Champions Leagues. A World Cup. An all-time Serie A hat-trick record.
Born offside, exactly 53 years ago today.
Happy birthday Super Pippo. 🇮🇹
Sate Kambing Pak No di Kota Solo
Di perempatan Museum Keris Penumping
Ada sate, tongseng, tengkleng, gule, nasgor kambing
Harga seporsi 55 ribu isi 10 tusuk nasi dan minum
Buka jam 9 pagi - 21.30 malam
#kulinersolo#kotasolo#satekambing#tengkleng
Anjir banyak banget senjata ni penjahan
Baru sekali ikut operasi udh ditembak, diancem pake piso, trauma dah ini davina ama sena
KETOPRAK UNTUK DAVINA
#TerikatJanjiEp119
makanya gue lebih suka kalau titik balik hubungan mereka datang dari rasa takut kehilangan. terutama saat sena sadar kalau yang paling dia takutin ternyata bukan cuma gagal menjalankan misinya dan kebenaran yang sedang dia sembunyikan, tapi juga kehilangan davina." GUE JUJUR MASIH SPEECHLESS BUPEN BENER-BENER NGEWUJUDIN INII 🙏🥺
Sena new arc unlocked:
konfliknya bukan lagi apakah sena akan memilih davina. tapi apakah sena berani bertanggung jawab atas pilihannya." menurut gue VO sena hari ini mulai mengarah ke sana. kita lihat urutan pikirannya. awalnya: "saya takut kehilangan davina." → lalu berkembang menjadi: "saya mau menjaga kamu selamanya." look. ada perubahan besar. kalimat kedua bukan lagi sekadar perasaan. melainkan... niat. dan menurut gue selama ini yang kurang dari sena memang bukan rasa cinta. yang kurang adalah keputusan.
yang kedua, inget kan gue juga pernah bilang tentang avoidant, yang dimana avoidant sering disalahpahami seolah-olah mereka takut jatuh cinta. padahal engga. yang sering mereka takuti justru adalah konsekuensi setelah hubungan dimulai. dan VO sena hari ini menurut gue memperlihatkan itu. dia berkata: "saya mau menjaga kamu selamanya." Artinya... secara emosional dia sudah selesai. yang belum selesai adalah realitas hidupnya. karena setelah itu kita tahu masih ada: misi, mama, adik, identitas (to all of people), semua itu belum hilang. jadi konflik sena bukan lagi konflik hati. tetapi... konflik keberanian. menurut gue ini dari sena yang perkembangan nya semakin besar.
ketiga, sena akhirnya menyadari sesuatu yang dulu belum pernah dia sadari. kmaren baru aja sena bilang "apa gue ngomong aja soal perasaan gue... supaya davina gak merasa gue cuma kasih harapan kosong." waktu itu... dia mulai memikirkan dampak tindakannya kepada davina. dan hari ini berkembang lagi. sekarang dia berkata: "saya takut kehilangan kamu." menurut gue ini menunjukkan perubahan fokus. dulu dia takut karena davina terluka. sekarang dia takut karena dia sendiri tidak sanggup kehilangan davina. ini bukan egois. ini justru bentuk penerimaan. sena pada akhirnya berhenti menyangkal kebutuhan emosionalnya sendiri. 👏
#TerikatJanji
#TerikatJanjiEp119
📸 Inzaghi on Instagram 🔴⚫️
Many years ago, in Parma, I had the privilege of playing against you. I was wearing No. 16, and I didn't even get on the pitch that day.
After the match, I asked you for your shirt. You looked at me and said:
"But aren't you going to give me yours?"
Such a simple sentence, yet it stayed with me throughout my entire career.
From that day on, every time a player asked for my shirt, I asked for theirs too—just as you did with me. ❤️
May your spirit and charisma continue to inspire all of us, and the captains of tomorrow.
Goodbye, Franco. Thank you. Forever. ❤️🖤