Salah satu kritik dalam kerusuhan Mei 1998 adalah lambatnya respon ABRI. Pada puncak kerusuhan tanggal 14, Panglima ABRI Wiranto malah membawa pejabatnya berangkat ke Malang untuk upacara.
Setelah Presiden Soeharto pulang dari Mesir, barulah ABRI bergerak memadamkan kerusuhan.
Seolah ada pembiaran kerusuhan sebagai prakondisi untuk memaksa mundurnya Soeharto. TGPF menyebutkan bahwa kerusuhan tidak terjadi secara spontan, melainkan ada provokator yang datang dengan truk, memicu massa untuk menjarah atau membakar, lalu menghilang begitu saja.
Saksi mata di beberapa mal yang terbakar melaporkan melihat pria-pria berambut cepak, berbadan tegap, dan menggunakan sepatu bot militer yang memandu massa untuk menjebol pintu mal atau menyiramkan bensin. Seperti tragedi di Plaza Sentral Klender yang menewaskan ratusan orang, saat mereka masuk dan menjarah, mal dibakar dan dikunci dari luar.
Para pemimpin militer yang bersaing saat itu, yaitu Panglima ABRI Wiranto dan Panglima Kostrad Prabowo Subianto sama-sama membantah bahwa mereka merencanakan atau membiarkan kerusuhan.
Every human being desires respect. It becomes a paradox when someone demand it while treating others as servants, unable even to say thank you. True respect cannot be forced; it grows from how we treat others. Starting with the simplest of gestures. Why so haughty? ๐
Epitaph is out now!
Sandikala Ensemble has released a new album.
The album is available to stream and download at: https://t.co/woIF1AFcTY https://t.co/0q5T1nh6YU