Opini Editorial:
Ilusi atau Kebodohan Kolektif?
Siapa yang menyebarkan berita bohong? Banyak media di Indonesia. Apa yang mereka sebarkan? Klaim-klaim absurd: Tel Aviv hancur, bandara Ben Gurion lumpuh, Iron Dome gagal total. Di mana? Jelas bukan di medan perang, tapi di linimasa media sosial, layar-layar pemberitaan nasional, dan obrolan grup WhatsApp. Kapan? Sejak konflik terbaru antara Hamas dan Israel mencuat, bahkan jauh sebelumnya sampai konflik Israel dengan Iran saat ini. Kenapa? Entah karena kebodohan, agenda ideologis, atau sekadar ingin menyenangkan audiens yang ingin merasa menang. Bagaimana caranya? Lewat narasi bombastis, foto-foto palsu, dan copy-paste dari sumber-sumber tidak jelas.
Seorang pembaca kritis mungkin bertanya, “Mengapa kebohongan ini terus dipercaya?” Karena publik kita lebih suka dongeng daripada data. Karena kenyataan pahit lebih sulit diterima dibanding fantasi kemenangan. Ketika media luar negeri merilis laporan situasi sebenarnya—Tel Aviv tetap berdiri, Ben Gurion masih beroperasi, dan Iron Dome terus bekerja—reaksinya justru penolakan. “Itu propaganda Israel!” kata mereka. Tidak peduli fakta.
“Ini bukan hanya misinformasi,” kata seorang analis media independen, “ini bentuk pembodohan massal yang disengaja.”
Satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari: apakah ini hanya ilusi kolektif untuk menghibur diri, atau sudah menjelma jadi kebodohan sistemik? Ketika kita menolak kebenaran demi mempertahankan kebohongan yang nyaman, kita bukan lagi korban propaganda—kita sudah jadi bagian darinya.
Sudah saatnya publik Indonesia diajak berpikir, bukan ditipu. Media harus bertanggung jawab. Dan kita harus berani bertanya: siapa sebenarnya yang kita perjuangkan—kebenaran, atau sekadar perasaan puas melihat musuh imajiner kalah dalam cerita fiksi?
Narasi palsu tidak akan memenangkan perang. Tapi ia bisa menghancurkan akal sehat.
Dan Trachtenberg emang jago bikin seri Predator kembali bertaji lagi setelah sempat dirusak sama sekuel dan crossover gaje. Liat aja apa yang sudah dilakukannya di Prey (2022). Film ini ngasih sesuatu yang fresh: tiga era, tiga tipe Yautja, dan tiap narasi yang berbeda kemudian nyambung di akhir. Lore-nya Predator juga diperluas, kita dapet intipan tentang budaya dan dunia Yautja yang bikin kita pengen tahu lebih banyak lagi tentang mereka.
Seperti seri-seri lainnya, Killer of Killers juga nggak pelit sama gore-nya. Tiap Yautja punya gaya bertarung yang unik—ada yang pake sonic cannon, ada yang kayak ninja siluman, semuanya berasa aura jahatnya. Semua pertarungan dihadirkan dengan sangat apik!
Segmen “The Sword” di Jepang jadi favorit saya. Dialog minim, tapi cerita tentang dua saudara yang berantem bikin ikut ngerasa sakit hatinya. Adegan Viking di segmen “The Shield” juga liar, Ursa, si ibu Viking ngamuk cuman pake modal perisai doank itu epik! Bahkan, segmen “The Bullet” di WWII yang agak kurang pun masih terhitung masih cukup mengesankan.
Meski aksinya gila, tapi ceritanya agak tipis di sisi emosi. Karakter-karakternya memang keren, tapi nggak sedalam Naru di Prey. Ursa, Kenji, dan Torres punya arc yang oke, tapi karena ini antologi, waktunya gak pernah cukup untuk mengeksplorasi semuanya, jadi kita cuma dapet sekedar “cukup” buat care sama mereka.
Predator: Killer of Killers jelas adalah kejutan manis buat fans franchise ini. Animasi yang ciamik, aksi yang brutal, karakter-karakter sangar baik dari pihak manusia maupun Yautja, dan cerita yang bikin kita tau lebih banyak soal dunia Yautja. Ya, ini adalah entri terbaik sejak Predator (1987) dan Prey.
METODE ILMIAH ITU BANYAK, TIDAK TUNGGAL: Sekali lagi soal ijazah Jokowi
Saya mengikuti agak “dalem” polemik ijazah Pak Jokowi ini baru belakangan saja. Semula saya tidak terlalu tertarik, karena saya anggap ini perkara sepele. Ternyata polemiknya serius; bahkan Pak Jokowi sampai “jabanin” melaporkannya ke pihak kepolisian.
Saya kemaren sudah menulis catatan mengenai soal ini dan mendapat tanggapan yg luar biasa ramai; ada sekitar 600an respon — menandakan daya isu ini untuk mengungkit “engagement” memang luar biasa. Terima kasih kepada semua yg telah memberi tanggapan atas tulisan saya, baik yg halus, sopan, atau kasar.
Saya mau mengeksplorasi lg soal metode ilmiah yg sudah saya tulis kemaren. Ada kesan melalui beberapa statemen “the so-called” para pakar yg mempersoalkan keaslian ijazah Jokowi itu bahwa metode ilmiah itu hanya satu saja, misalnya digital forensic. Padahal metode ilmiah itu banyak, termasuk metode ilmiah dalam pembuktian keaslian sebuah dokumen.
Ambil contoh: jika kita menemukan sebuah dokumen yg diaku sebagai tulisan Ronggowarsito atau pujangga lain yg hidup di eranya, maka ada sejumlah metode ilmiah yg bisa dipakai untuk mengujinya, salah satunya adalah metode filologi (uji carbon dating, gaya penulisan/stilistika, konsistensi teks dlm dokumen bersangkutan dg teks2 Ronggowarsito yg lain, dlsb.). Ini semua adalah metode ilmiah.
Metode penelitian sejarah jg metode ilmiah. Ketika sedang meneliti sebuah peristiwa yg terjadi di masa lampau, periset bisa memakai metode sejarah untuk melihat kebenaran peristiwa itu. Misalnya: apakah benar peristiwa Sumpah Pemuda pada 1928 benar2 terjadi, ini bisa dibuktikan, antara lain, dg metode ilmiah berupa penelitian sejarah. Kita bisa menggali kesaksian dari para pelaku sejarah, misalnya. Kita jg bisa melakukan riset arsip. Ini semua adalah metode ilmiah.
Metode2 ini bisa dipakai untuk meneliti keaslian ijazah Jokowi. Sebab perkara ijazah Jokowi ini harus dilihat dlm dua ranah: (1) ranah dokumen tekstual, dan (2) ranah peristiwa (yaitu peristiwa Jokowi kuliah dan diwisuda di UGM). Ranah tekstual sebetulnya bisa diuji, antara lain, dg metode filologi, misalnya menguji apakah kertas ijazah Pak Jokowi berasal dari era 80-an. Apakah ada konsistensi jenis kertas dan tulisan yg ada pada ijazah Jokowi dg ijazah2 lain dari teman2 seangkatan? Ini semua sebetulnya metode yg dikenal dlm filologi. Metode filologi adalah metode ilmiah.
Sementara pada ranah peristiwa, kita bisa menggunakan metode penelitian sejarah. Bahwa Pak Jokowi pernah kuliah di UGM dan lulus pada 1985 adalah peristiwa sejarah karena terjadi di masa lampau. Metode ilmiah yg tepat untuk menelaahnya, antara lain, adalah metode penelitian sejarah. Fondasi penelitian sejarah adalah bukti2 material dan kesaksian pelaku. Seperti kita tahu, sudah banyak kesaksian teman2 seangkatan Pak Jokowi yg menyaksikan peristiwa wisuda dia. Sebetulnya, “palu pamungkas” dlm metode penelitian sejarah adalah manakala ada pernyataan resmi dari lembaga yg berwenang bhw sebuah peristiwa terjadi. UGM, sebagai lembaga yg menerbitkan ijazah Jokowi, sudah memberikan pernyataan keaslian dokumen ijazah Jokowi. Dengan demikian, peristiwa Jokowi kuliah di UGM dan lulus dari sana telah ter-verifikasi.
Ini semua adalah metode ilmiah. Jadi, metode ilmiah bukan sekedar digital forensic saja.
Sekian.
—-
Tambahan: Saya baru saja membaca unggahan Josua Sinambela melalui laman FB-nya. Menarik sekali. Apa yg ia tulis adalah contoh kerja metode ilmiah yg tidak sekedar terbatas pada metode digital forensic. Yg menarik, dia sendiri menunjukkan bahwa pada level analisis digital forensic-pun ada kesalahan prosedur yg dilakukan oleh “duo” penyangkal keaslian ijazah Jokowi itu.
Izinkan saya men-share tulisan Josua Sinambela yg menarik itu: 👇
@alfraazff@kegblgnunfaedh Setuju sama kamu meng, bukan membenarkan, manusia mah mw dari jaman kapan juga tabiatnya sama, cuman pembedanya dijaman sekarang segalanya terdokumentasi.