Why is it that whenever a programmer gets laid off, everyone assumes they have to become a food delivery driver?
What a load of bullshit.
After getting laid off, a programmer obviously:
Becomes an indie developer first.
Tries their hand at cross-border e-commerce.
Trades some stocks and crypto.
Starts making content.
Messes around with all of that for a while.
Then becomes a delivery driver. ๐
Seals is more than a collection.
This is the first chapter of something built on CRC-20, native to Bitcoin L1.
1,500 unique pixel seals.
69 traits.
8 hand-selected 1/1s.
No two seals are alike
And the interesting part?
@SealsCRC
https://t.co/1hTJbvDPrw
Ketika Hati Lebih Lumpuh dari Kaki
Kalimat ini terdengar seperti lelucon tentang sesuatu yang mustahil. Namun justru di dalam kemustahilan itulah tersembunyi sindiran yang mendalam: betapa sering manusia hidup dalam dunia yang penuh dengan suara, tetapi kehilangan kemampuan untuk mendengar; memiliki mata, tetapi tidak sungguh-sungguh melihat; memiliki kaki, tetapi tidak tahu ke mana harus melangkah.
Bukankah begitulah kadang kita berbicara tentang kebenaran?
Yang tidak mampu menyampaikan justru merasa paling tahu cara menjelaskan. Yang tidak mau mendengar justru sibuk memberi nasihat. Yang tidak melihat keadaan orang lain merasa paling berhak menghakimi perjalanan mereka. Ironinya indah sekaligus menyakitkan.
Dalam filsafat Islam, manusia tidak dinilai hanya dari kemampuan inderawinya, melainkan dari kemampuan batinnya dalam menangkap hakikat. Mata dapat melihat bentuk, tetapi belum tentu melihat makna. Telinga dapat menangkap suara, tetapi belum tentu mendengar kebenaran. Akal dapat mengumpulkan pengetahuan, tetapi belum tentu mampu menundukkan kesombongan.
Karena itu, kebutaan yang paling berbahaya bukanlah mata yang kehilangan cahaya, melainkan hati yang kehilangan kemampuan membedakan cahaya dari bayangan.
Ibn Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah berbicara tentang perjalanan manusia dari pengetahuan lahir menuju pengenalan batin. Dalam pandangan sufistiknya, realitas tidak selalu terbuka kepada orang yang sekadar melihat dengan indera. Ada penglihatan batin yang menuntut kejernihan hati. Maka seseorang bisa memiliki dua mata, tetapi tetap berjalan dalam kegelapan. Sebaliknya, seseorang yang secara lahir tidak melihat, bisa saja menemukan jalan yang gagal ditemukan oleh mereka yang merasa paling terang.
Betapa lucunya kita. Kita sering mengira kemampuan adalah tanda kebenaran. Yang pandai bicara dianggap paling benar, yang banyak membaca dianggap paling bijaksana, dan yang suaranya paling keras dianggap paling layak didengar. Padahal burung pun bisa bernyanyi keras tanpa memahami ke mana nyanyiannya pergi.
Kita tertawa kepada si buta karena tidak melihat dunia, sementara kita sendiri gagal melihat luka yang disembunyikan seseorang di depan mata. Kita mencela si lumpuh karena tidak berjalan, sementara kaki kita berlari mengejar dunia tetapi jiwa tidak pernah bergerak menuju Tuhan.
Al-Qurโan mengingatkan:
โKarena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.โ (QS. Al-Hajj: 46)
Maka jangan bangga hanya karena mampu melihat, belajarlah memahami apa yang terlihat. Jangan bangga karena mampu mendengar, belajarlah menangkap kebenaran di balik suara.
Sebab pada akhirnya, yang paling tragis bukanlah menjadi bisu, tuli, buta, atau lumpuh. Yang paling tragis adalah memiliki lisan tetapi gemar berdusta, memiliki telinga tetapi menolak nasihat, memiliki mata tetapi menikmati penderitaan orang lain, dan memiliki kaki tetapi tidak pernah melangkah menuju kebaikan.
Jika suatu hari kau bertemu seseorang yang menurutmu terlalu diam, lambat, atau berbedaโฆ jangan buru-buru menganggapnya tidak memiliki cahaya. Mungkin ia sedang berjalan dengan lentera yang tidak mampu dilihat oleh matamu.
Bukan Pelayan, Bukan Penguasa: Sebuah Komedi Kesalahpahaman
Kalimat ini sebenarnya sedang mengingatkan kita pada satu kenyataan sederhana yang sering sengaja dilupakan: kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling menderita, melainkan panggilan untuk memahami pengorbanan satu sama lain.
Dalam filsafat Islam, manusia tidak dinilai hanya dari apa yang tampak di tangannya, tetapi dari amanah yang dipikul jiwanya.
Laki-laki mungkin lebih sering terlihat sebagai orang yang pergi pagi, pulang malam, mengejar nafkah, memikul kebutuhan keluarga, menelan lelah tanpa banyak bicara. Dunia sering melihat hasil pekerjaannya, tetapi jarang melihat kecemasan yang ia sembunyikan di balik kalimat, "Aku baik-baik saja."
Namun perempuan juga memiliki medan perjuangan yang tidak kalah berat. Ia bisa mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, impian, bahkan sering kali dirinya sendiri demi menjaga keluarga tetap hidup dalam kehangatan. Pengorbanan perempuan kadang begitu sunyi hingga orang-orang menganggapnya sebagai sesuatu yang "memang sudah seharusnya".
Lucunya, manusia sering sangat pandai menghitung uang yang keluar dari dompet, tetapi begitu bodoh menghitung air mata, kesabaran, waktu, dan tenaga yang keluar dari kehidupan seseorang.
Di sinilah pemikiran Ibn Miskawayh menjadi relevan. Dalam Tahdzib al-Akhlaq, ia menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia berkaitan dengan pembentukan akhlak dan keseimbangan jiwa. Kebaikan lahir dari kemampuan manusia menempatkan dirinya secara benar dalam hubungan dengan orang lain.
Maka dalam keluarga, laki-laki bukan penguasa yang harus selalu dilayani, dan perempuan bukan pelayan yang wajib selalu mengalah. Keduanya adalah pemikul amanah.
Laki-laki yang bekerja seumur hidup tetapi bersikap kasar, sesungguhnya belum memahami arti tanggung jawab. Perempuan yang berkorban seumur hidup tetapi menjadikan pengorbanannya senjata untuk merendahkan pasangan, juga belum memahami hakikat pengorbanan.
Pengorbanan sejati tidak sibuk mengumumkan perjuangannya. Ia bekerja dalam diam karena tahu cinta bukan panggung untuk mendapatkan tepuk tangan.
Islam mengajarkan ta'awun, saling menopang dalam kebaikan.
Allah berfirman: "Dan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (QS. At-Taubah: 71)
Perhatikan baik-baik: penolong bagi sebagian yang lain.
Keduanya harus belajar menjadi rumah bagi satu sama lain.
Laki-laki mungkin membawa beban di pundaknya. Perempuan mungkin membawa beban di dadanya. Laki-laki bekerja agar keluarga bertahan hidup. Perempuan berkorban agar keluarga tetap memiliki alasan untuk disebut rumah.
Jangan pernah meremehkan laki-laki yang diam ketika lelah, dan jangan meremehkan perempuan hanya karena pengorbanannya tidak tercatat di slip gaji.
Tidak semua yang bernilai memiliki harga. Tidak semua yang berharga bisa dihitung.
Yang salah adalah ketika seseorang hanya ingin dimengerti, tetapi tidak pernah belajar mengerti. Rumah tangga adalah tentang dua manusia yang sama-sama lelah, tetapi tetap memilih untuk tidak saling menambah luka.
Cinta yang dewasa bukan bertanya, "Apa yang sudah kamu lakukan untukku?", melainkan berbisik, "Setelah semua yang kau pikul, apa yang bisa kubantu agar langkahmu sedikit lebih ringan?"
Di situlah laki-laki menemukan kemuliaannya, dan perempuan menemukan kehormatannya. Bukan dalam siapa yang paling banyak berkorban, tetapi dalam siapa yang paling tulus menjaga amanah cinta.
Saat hidup berjalan terlalu mudah dan terang, perhatian kita sering teralihkan. Kita baru bisa melihat keindahan yang lebih dalam saat berada dalam ketenangan malam atau ujian hidup.
Masalah atau kesedihan bukan sekadar hukuman. Kegelapan tersebut berfungsi sebagai guru yang membuka mata batin kita terhadap arti hidup yang sebenarnya.
Di tengah situasi yang paling gelap sekalipun, titik-titik harapan kecil akan tampak jauh lebih bersinar dan berarti. Masa-masa sulit atau penderitaan dalam hidup (kegelapan) sangat dibutuhkan agar kita bisa menemukan harapan, hikmah, atau sisi terang kehidupan (bintang-bintang) yang tadinya tidak disadari.