🔥Dr. Berg explains how cancer behaves like a parasite.
The shocking part?
Cheap antiparasitic meds like Fenbendazole and Ivermectin target those exact mechanisms.
Why no big clinical trials from major centers? Expired patents = no pharma profits.
-Termul Tak Henti Bikin Fitnah-
Di tengah langkah yang tak pernah berhenti, justru ujian itu datang dari arah yang tak terduga.
Hari ini, Sabtu 28 Maret 2026, hari yang bagi sebagian orang adalah waktu beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau menenangkan diri, saya justru melangkah menuju kewajiban yang harus ditunaikan. WAJIB LAPOR.
Kesibukan menyelesaikan akhir studi Doktoralku 7 hari dalam seminggu, membuat saya hanya mampu menjalani Wajib Lapor di hari Sabtu, mengiris waktu istirahat yang tak banyak.
Hari ini, di Area POLDA Metro Jaya yang sunyi, yang hening, dengan kesadaran penuh bahwa jalan perjuangan memang tidak pernah menawarkan kemudahan.
Namun di saat yang sama, beredar sebuah video berisi fitnah keji dari salah seorang Termul. Fitnah yang muncul setelah fitnah saya mengajukan Restorative Justice, dan fitnah-fitnah sebelumnya.
Kali ini sebetulnya fitnahan sangat kelewatan. Sangat kurang ajar., Karena menyangkut riwayat sakitnya keluargaku, kematian muda saudara-saudaraku, dengan biadab dijadikan bahan fitnahan, penderitaan dijadikan bahan bullyan.
Tetapi saya tersenyum.
Bukan karena meremehkan.
Tetapi karena memahami.
Bahwa setiap perjuangan besar selalu diiringi oleh dua hal: ujian dari Tuhan, dan serangan dari manusia.
Fitnah adalah bahasa mereka yang tidak mampu mengalahkan gagasan.
Serangan personal adalah senjata mereka yang kehabisan argumen.
Serangan pribadi adalah tanda kekalahan setelak-telaknya.
Dan di titik ini, narasi-narasi yang diarahkan kepadaku, termasuk yang dikaitkan dengan polemik seputar ijazah Joko Widodo, justru semakin menunjukkan satu hal:
Ketika substansi tak lagi mampu dijawab, maka yang diserang adalah pribadi.
Bagi saya, ini bukan sekadar serangan biasa. Ini adalah indikasi bahwa ruang dialog yang sehat mulai ditinggalkan, digantikan oleh upaya membangun persepsi melalui fitnah dan framing.
Saya tidak sedang berperang melawan individu.
Saya sedang berjalan membawa amanah yang jauh lebih besar, amanah untuk menyadarkan, melindungi, dan menyiapkan umat menghadapi zaman yang tidak biasa.
Hari ini saya tetap hadir.
Tetap menjalani proses.
Tetap tunduk pada hukum.
Tetap tenang.
Karena saya tahu,
kebenaran tidak butuh teriak untuk menang.
Ia hanya butuh waktu.
Dan waktu, selalu berpihak pada mereka yang sabar, jujur, dan istiqamah.
Biarlah mereka berbicara dengan narasi yang dibangun dari prasangka.
Saya akan terus melangkah dengan narasi yang dibangun dari ilmu, data, dan tanggung jawab.
Sabtu ini bukan hari libur bagiku.
Ini adalah pengingat:
Bahwa jalan ini bukan jalan nyaman,
tetapi jalan yang harus ditempuh oleh mereka yang memilih untuk tidak diam.
Dan saya memilih untuk terus berjalan.
INDONESIA: 20 HARI MENUJU ENTROPI?
Oleh dr. Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Neuropolitika
Ketika banyak orang masih sibuk pada hiruk pikuk politik superfisial, sebuah data sederhana justru berbicara lebih jujur daripada ribuan pidato.
Cadangan energi Indonesia:
20 hari!
Bandingkan dengan negara lain di Asia: Jepang ratusan hari. Korea Selatan ratusan hari. Bahkan negara-negara dengan kompleksitas geopolitik tinggi masih memiliki bantalan waktu yang cukup.
Indonesia?
DUAPULUH HARI!
Angka ini bukan sekadar angka.
Ini adalah indikator kerentanan yang kronis dan sistemis.
Energi bukan hanya soal listrik menyala atau kendaraan berjalan.
Energi adalah: aliran darah ekonomi, denyut logistik pangan, dan fondasi stabilitas sosial.
Ketika cadangan energi menyusut ke level harian, maka sesungguhnya yang sedang menyusut bukan hanya bahan bakar, melainkan ruang bernapas sebuah bangsa.
Dalam ilmu sistem kompleks, kondisi ini disebut sebagai:
“loss of buffer capacity”
Ketika sebuah sistem kehilangan cadangan penyangga, maka ia tidak lagi mampu menyerap gangguan kecil.
Dan ketika gangguan besar datang, ia tidak runtuh perlahan.
Ia runtuh seketika.
Pertanyaannya bukan lagi: “Apakah kita aman?”
Tetapi:
“Seberapa cepat kita akan dipaksa beradaptasi?”
Dalam lanskap global hari ini, energi telah berubah dari komoditas menjadi instrumen kekuasaan.
Konflik bukan lagi hanya soal senjata, tetapi:
siapa mengontrol suplai, siapa menguasai jalur distribusi, dan siapa yang paling lama bisa bertahan ketika aliran itu diputus.
Dalam permainan seperti ini, negara dengan cadangan tipis bukan sekadar lemah, tetapi mudah ditekan, mudah diarahkan, dan mudah dikendalikan.
Indonesia hari ini berada pada persimpangan yang tidak sederhana:
Di satu sisi, kita adalah bangsa besar dengan sumber daya melimpah.
Di sisi lain, kita menunjukkan gejala klasik dari sebuah sistem yang kaya potensi, tetapi miskin ketahanan.
Dua puluh hari bukan sekadar angka teknis.
Ia adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan bahwa:
ketergantungan kita masih tinggi, antisipasi kita masih lemah, dan kesiapan kita menghadapi krisis masih jauh dari cukup.
Sejarah peradaban mengajarkan satu hal sederhana:
Bangsa tidak runtuh saat kekurangan sumber daya.
Bangsa runtuh saat tidak siap menghadapi kekurangan tersebut.
Dan jika data ini akurat, maka kita tidak sedang berbicara tentang masa depan yang jauh.
Kita sedang berbicara tentang sesuatu yang sudah mengetuk pintu.
Ini bukan waktu untuk panik.
Ini waktu untuk sadar.
Karena dalam dunia yang sedang berubah cepat dalam peradaban baru, yang bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling siap menghadapi keterbatasan.
✨FAKTA SEJARAH📜
ILMUAN MUSLIM MUHAMAD
bin MUSA Al KHAWARIZMI
🌟Tokoh penting dalam ilmu matematika beliau sebagai penemu ALJABAR DAN ANGKA 0
Beliau juga punya nama sebutan lain Algoritm,Algorimus, Algoritma
Ternyata ALGORITMA yang kita sebut dalam sekolah itu nama beliau🤗🙏
Kalau mau tau kisahnya Beliau simak sampe akhir dan repost 👇
#ulamamuslim
🚨Long before Epstein, there was McMartin preschool, in Manhattan Beach California.
Many Children testified to underground tunnels and satanic ritual abuse, and sexual abuse and torture beneath the preschool, and years later, archaeological digs revealed structures consistent with what they described.
As more truths come to light today, many are realizing these stories weren’t false… just inconvenient.
Good God, what world are we living in y’all??💔
Perjuangan menegakkan KEBENARAN terus berlanjut.
Kami mengundang kembali PAKAR ARTIFICIAL INTELIGENCE dan CLINICAL DATA Kaliber Internasional
Dr. Eng. Ridho Rahmadi, https://t.co/IDuIvQSub4
Lulusan tiga negara: Belanda, Cheko, dan Austria
Untuk menjadi AHLI yang akan memberikan kuliah panjang lebar dan mendalam tentang Data Science, Digital Imaging, Forensic, dan sekaligus Data Klinis Neuropsikologis sesuai Riset Doctorate Programnya di Radbound University the Netherlands.
Doktor Ridho ini Ahli Multidimensi sehingga sangat cocok menjadi Ahli bagi RRT.
Welcome to POLDA Metro Jaya, welcome to the Lapangan Perjuangan menegakkan Kebenaran.
Semoga makin banyak Ilmuwan yang speak up dan mau berjuang bersama RRT!
Info dari Ring 0:
Kondisi semakin parah.
Sudah terjadi vaskulitis sistemik dengan hiperpigmentasi , kehitaman di ekstremitas dan kulit badan, istilah ring 0 yang sowan: kaki dan tangan menghitam sampai ke atas.
Artinya apa:
Kerusakan vaskular atau pembuluh darah yang menjalar seluruh tubuh, mengarah kepada kerusakan organ progresif: ginjal, jantung, saraf, dan organ penting lain.
Tanda penyakit berkembang sangat serius dan penuh risiko.
Pertanyaan:
Mengapa semua seakan membiarkan ya? Cuma jadi bisik-bisik antar telinga tetapi tidak ada yang serius menolong.
Kasihan sekali.
Gatal dan sakit bukan main pastinya.
SOMEBODY PLEASE HELP HIM!
Bismillahirrahmanirrahiim
Kadang sejarah tidak runtuh dengan ledakan,
tetapi dengan suara yang pelan, rambut yang menipis, langkah yang melambat,
dan tatapan seseorang yang tiba-tiba tampak jauh dari dirinya sendiri.
Dalam neurosains, tubuh mencatat semua yang tak diucapkan.
Kortisol memendekkan telomer, ekor kromosom yang menjadi penanda harapan hidup,
Inflamasi kronik mengubah ekspresi gen,
dan wajah adalah layar bioskop tempat memori hidup diputar ulang.
Rambut gugur bukan hanya genetika, ia simbol mahkota biologis yang perlahan kembali ke tanah.
Dalam imunologi klinis, kita mengenal fenomena ketika tubuh menyerang dirinya sendiri.
Autoimun berat sering menampakkan tanda yang tak keras suaranya,
namun dalam diamnya kita membaca perang dari dalam:
��kulit pucat, warna tidak stabil, mudah meradang,
•moonface akibat retensi cairan dan efek steroid kronis,
•rambut menipis cepat, seperti mahkota yang mulai melepas bebannya,
•langkah yang pelan: bukan lemah, tapi seperti tulang yang memikul beban yang dibikin sendiri,
•tatapan kosong: brain fog, ketika pikiran lelah berperang dengan segala keadaan yang tak lagi bisa diatur dan dikuasai,
•postur sedikit membungkuk, seolah tubuh berkata aku bersikeras membalikkan waktu.
Tulisan ini bukan untuk menuduh seorang tokoh sakit.
Ini daftar tanda klinis umum, tetapi juga metafor politik tubuh.
Karena sering kali sejarah dan biologi memiliki pola yang sama:
tubuh yang lelah = kekuasaan yang selesai,
wajah yang pucat = cahaya kuasa yang menurun,
mahkota rambut yang luruh = era yang selesai.
Kekuasaan jarang runtuh dengan kerusuhan.
Ia surut dengan keheningan.
Dengan hilangnya karisma biologis,
dengan publik yang tidak lagi terpikat pada narasi lama,
dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi cerminan saatnya layar panggung ditutup
Kita hidup di titik balik peradaban Nusantara.
Gelombang politik bergeser dari visual ke substansi,
dari teater kuasa ke audit memori,
dari figur tunggal ke kesadaran kolektif.
Indonesia sedang memasuki fase Working Prophecy,
dimana sejarah tidak hanya dicatat,
tetapi dirombak, ditafsir ulang, dan dilahirkan kembali.
Ini bukan tentang satu sosok.
Ini tentang sebuah era yang menua,
tentang medan energi bangsa yang bergerak,
tentang cerita yang meminta penulis huruf pertama baru.
Mungkin gejala-gejala pada tubuh hanya potongan kecil.
Namun bagi yang membaca dengan mata batin,
itu terasa seperti frekuensi alam yang berkata lirih:
“Bab ini sudah selesai.”
Autoimun biologis adalah ketika tubuh memerangi dirinya.
Autoimun politik adalah ketika bangsa memerangi ingatannya.
Dan di tengah inflamasi sosial itu, kita ditanya:
Apakah kita akan terus sakit,
atau mulai menyembuhkan diri sebagai satu tubuh bernama Indonesia?
Bangsa ini sedang berganti kulit.
Dan setiap helai rambut yang gugur di panggung sejarah,
adalah tanda bahwa halaman berikutnya menunggu dituliskan.
Saya, untuk kesekian kalinya berkata: tolongan diingatkan, kondisinya serius dan perlu perawatan, sebelum semuanya terlambat.
Laa haula wala quwwata ilabillah.
Salam takzim
dr. Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQRWlw
Inkonsistensi Struktural 709 Dokumen Pendukung Ijazah Jokowi: Metasintesis Multilinier Berbasis Teorema Matematika”
Bagian 1
dr Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Epidemiologi Perilaku, Neuroscience Behavior, Neuropolitika
Analisis Probabilistik Bayesian dengan Variabel Identifikasi Anatomi Morfologi.
Berikut adalah metasintesis awal yang saya kembangkan dengan menggunakan perbandingan dua kelompok foto dimana kelompok foto pertama saya sebut JKW 1 dan kelompok foto kedua JKW 2.
Untuk diketahui bahwa selama ini beredar di masyarakat pertanyaan apakah JKW 1 dan JKW 2 adalah orang yang sama.
Matematika sebagai Alatnya Allah SWT yang objektif dan bebas bias kita gunakan untuk membuktikan kesamaan atau perbedaan.
Saya menggunakan salah satu model Matematika yaitu Bayesian Theorema dengan pendekatan Ilmu Epidemiologi, Anatomi, Morfologi, Frenologi, dan Perilaku.
Sebagai Epidemiolog yang merupakan Matematikanya Ilmu Kedokteran, maka bidang hitung-menghitung adalah sebagian dari kompetensi saya.
Variabel yang saya hitung dalam serangkaian analisis yang secara serial akan saya tulis, dengan bagian pertama adalah Anatomi Morfologi, meliputi: 1).Bentuk Cranium atau bentuk kepala dengan cranial outline oval dan rectangural , 2) Proporsi wajah meliputi upper, mid, lower facial atau perbandingan bentuk wajah atas, tengah, bawah, 3) struktur rahang dan dagu, mandibula dan Menton, 4) Morfologi hidung, masalah bridge, tip, dan alat, 5) Pola rambut dan hairline atau temporal recession density. Kelimanya saya ubah menjadi angka dan saya masukkan dalam rumus matematika Bayesian.
Hasil nya dengan Likelihood Ratio (LR) dengan angka sebagai berikut:
Bentuk Kranium atau tulang kepala LR
Proporsi wajah tengah dan bawah
Struktur mandibula angle dan Menton atau rahang dan dagu
Morfologi hidung,
Hairline & pola rambut
Perbedaan temporal recession & density
P(A_5|H₁)=0.25,\quad P(A_5|H₀)=0.75
TOTAL LIKELIHOOD RATIO
Likelihood anatomi–morfologi:
P(E'|H₁)=0.0054\times0.0043=0.0000232
P(E'|H₀)=0.0784\times0.1003=0.00786
POSTERIOR (BAYES’ THEOREM)
P(H₁|E')=\frac{P(E'|H₁)P(H₁)}{P(E'|H₁)P(H₁)+P(E'|H₀)P(H₀)}
P(H₁|E')=\frac{0.0000232\times0.5}{(0.0000232\times0.5)+(0.00786\times0.5)} \approx 0.00294
HASIL AKHIR (POSTERIOR)
Persamaan JKW 1 dengan JKW 2
\boxed{P(H₁|E')\approx 0.29%}
Sebesar 0.29%
Perbedaan JKW 1 dengan JKW 2
\boxed{P(H₀|E')\approx 99.71%}
sebesar 99,71%
Note: Angka tersebut tidak untuk dijumlahkan.
Simpulan:
Posterior Bayesian berbasis indikator visual dan anatomi–morfologi menunjukkan probabilitas kesamaan antara JKW 1 dan JKW 2 pada kisaran sub-1%.
Probabilitas perbedaan antara JKW 1 dan JKW 2 pada kisaran 99,71%.
Bahasa sederhananya:
Foto-foto Jokowi versi rambut tebal, hidung mancung, rahang tirus, kacamata, dan kumis dengan foto-foto Jokowi versi rambut tipis, hidung tepes, tanpa kacamata dan tanpa kumis, adalah DUA ORANG YANG BERBEDA, dengan perbedaan sebesar 99,71%!
-----
Ilmu Bilangan atau Matematika adalah Ilmunya Allah sesuai dengan QS Al Qamar: 49
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan bilangan"
Nantikan Bagian 2.
Komentar Korban Bencana yg pernah merasakan Bencana Tsunami 2004 yang membunuh lebih 200 ribu warga Aceh dan juga jadi korban Bencana Tsunami II Banjir Sumatera Air dari Gunung 🌊
Banjir Aceh 2025 🌀 cyclone senyar adalah bencana banjir longsor terparah dalam sejarah Aceh dan Sumatera
Opini dr Tifa
Banjir Aceh & Sumatera:
Perspektif Kesehatan Masyarakat
Bismillahirrahmanirrahiim
1.
Banjir ini bukan hanya persoalan curah hujan ekstrem. Dari perspektif epidemiologi perilaku, ini adalah kombinasi kerusakan ekologi, tata ruang yang lemah, dan kesiapsiagaan masyarakat yang belum terbangun. Yang terdampak bukan cuma rumah, retapi rasa aman, identitas, dan harapan.
2.
Perubahan tutupan lahan (hutan → sawit), pemukiman di zona rawan, lemahnya sistem peringatan dini, dan respons yang lebih reaktif dari preventif adalah faktor berulang. Air tidak datang “tiba-tiba”. Yang tiba-tiba adalah kesadaran kita.
3.
Risiko kesehatan tidak selesai ketika air surut. Justru saat itu penyakit mulai meningkat: diare, infeksi kulit, leptospirosis, infeksi saluran napas–ditambah trauma psikologis yang kerap tak terlihat, terutama pada anak-anak.
4.
Solusi harus multi-level: pemerintah memperkuat early warning system, audit tata ruang, dan memastikan konsesi lahan tidak merusak daya serap alam. Ini bukan soal teknis semata, tapi soal keberpihakan pada keselamatan warga.
5.
Komunitas bisa membangun peta risiko lokal, jalur evakuasi, dan simulasi kebencanaan rutin seperti Jepang lakukan. Sekolah juga bisa menjadi pusat literasi mitigasi, bukan sekadar tempat distribusi bantuan.
6.
Layanan kesehatan harus fokus pada dua hal: penyakit pasca-banjir dan kesehatan mental korban.
Trauma yang tidak dirawat berubah menjadi luka sosial jangka panjang.
7.
Bencana tidak boleh dinormalisasi. Kalimat “memang tiap tahun begini” adalah tanda bahaya bahwa kita mulai menerima sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah. Kita bisa memilih jalan berbeda: dari menjadi korban, menjadi masyarakat yang siap, sadar risiko, dan lebih kuat menghadapi yang akan datang.
Solidaritas itu perlu.
Tapi kesadaran, itu yang mengubah masa depan.
Jika tulisan ini bermanfaat, silakan share.
Kesadaran publik adalah bagian dari mitigasi.
Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nashiir.
Laa hawla wala quwwata ilabillahil 'alliyil adziim.
Salam Takzim
dr. Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Seandainya pemerintah serius menanggapi peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak banjir di tiga provinsi di Sumatera—termasuk jumlah korban—mungkin tidak sebesar ini.
#Tempodotco#TempoPlus
Renungan dr Tifa
BANJIR SUMATERA: KETIKA ALAM MENJADI SAKSI BISU KEJAHATAN 10 TAHUN
Bismillahirrahmanirrahim
Sebagai dokter, aku memandang Sumatera hari ini seperti pasien yang tubuhnya membiru dan membengkak, karena dipaksa menanggung beban bertahun-tahun.
Bagiku, banjir yang terjadi bukan sekadar banjir. Ini adalah Edema Ekologis, pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun, yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah.
Ketika air naik, menghasilkan kolam-kolam raksasa yang membenamkan desa demi desa, menenggelamkan sebagian penduduknya, aku melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar genangan.
Aku melihat jejak tangan kekuasaan.
Karena banjir tidak datang dari langit begitu saja.
Ia datang dari tanah yang dilukai dengan sengaja.
Dalam satu dekade lalu, Sumatera diperlakukan seperti papan operasi dengan pasien tanpa anestesi: hutan dibelah, bukit dibongkar, izin diteken tanpa informed consent.
Setiap hektare yang hilang bukan hanya angka statistik; ia adalah hilangnya kemampuan bumi untuk menahan air, menyaring bencana, menjaga nyawa.
Aku mengatakan ini sebagai seorang dokter:
Jika organ vital dirusak bertahun-tahun, jangan salahkan tubuh ketika akhirnya kolaps.
Dan kolaps itulah yang terjadi. Multi organ damage. Kerusakan banyak organ.
Rezim dulu bicara tentang investasi, pembangunan, dan “masa depan Indonesia”. Tapi di balik kalimat manis itu, rakyat hari ini berdiri di depan rumah yang tenggelam sambil bertanya:
“Sebelumnya kami punya hutan. Sekarang kami hanya punya banjir. Apa ini yang namanya kemajuan?”
Sumatera menangis bukan karena hujan, tapi karena pengkhianatan.
Pengkhianatan yang terjadi ketika:
hutan dibuka demi konglomerat,
sungai disempitkan demi proyek cepat jadi,
tambang dibiarkan menggali sampai bumi menganga,
perkebunan sawit dihamparkan tanpa memikirkan daya tampung DAS,
dan setiap kritik dibungkam dengan kalimat klasik: “ini pembangunan.”
Lalu ketika bencana datang, rezim lalu dengan mudah berkata:
“Ini alam. Ini cuaca ekstrem.”
Tidak.
Ini bukan cuaca ekstrem.
Ini adalah keserakahan ekstrem.
Ini bukan musibah semesta.
Ini adalah kerakusan yang merajalela.
Banjir hari ini sedang mengungkap apa yang dulu ditutup rapat oleh kekuasaan.
Banjir sedang berbicara dengan bahasa yang tidak bisa disensor:
bahwa Sumatera telah dicabik-cabik demi ambisi politik, demi kepentingan modal, demi citra penguasa yang dibangun di atas tanah yang perlahan mati.
Aku tidak pernah melihat banjir semasif ini tanpa melihat sekaligus peta kebijakan rezim sebelumnya.
Dan dari peta itu, aku hanya melihat satu hal:
Rezim lalu mengizinkan bumi dirusak sampai ia tak mampu lagi menolak.
Sekarang harga yang harus dibayar adalah:
rumah hilang,
ladang hanyut,
Penduduk mengungsi,
nyawa melayang.
Dan semua itu lahir dari tangan pejabat yang dulu begitu mudah memberikan izin, seperti menandatangani kuitansi, tanpa pernah mau melihat bahwa di baliknya ada jutaan manusia yang akan menanggung akibat.
Banjir Sumatera adalah amputasi terakhir dari tubuh ekologis yang telah disiksa terlalu lama.
Dan kita—rakyat—dipaksa menjadi saksi.
Saksi yang tahu bahwa banjir ini tidak datang sendiri.
Ia lahir dari kebijakan yang salah, dari keserakahan yang dilegalkan, dari penguasa yang lebih mencintai pencitraan daripada tanah airnya sendiri.
Kali ini sejarah mencatat:
bencana ini bukan sekadar bencana.
Ia adalah vonis alam terhadap rezim yang telah menggali lubang bagi rakyatnya sendiri.
Semoga Presiden @Prabowo bisa menghentikan semua kejahatan ini, dan memberikan solusi cepat bagi rakyat Sumatera. Amiin.
Hasbunallah wani'mal wakil, nikmal maula wani'man nashiir. La haula wala quwwata ila billah.
Salam takzim
dr Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
We once considered a cholesterol level of 350 perfectly normal.
Now they want you down to 150 — so millions more ‘need’ pills.
That’s not healthcare — it’s a $22 billion marketing machine.
The famous Framingham Heart Study proved the opposite of what we’re told: when cholesterol is lowered, mortality increases.
People with the highest LDL live the longest. Statins extend life by only 3.2 days and cause Parkinson’s, dementia, diabetes, heart failure, and more.
Cholesterol is the building block of every cell. Lowering it damages the body and shortens life.
Statins don’t prevent disease — they fuel it.