@denismalhotra 98 ambruk karena adanya krisis moneter, lah skrg g ada apa2 cuma qt yg ambruk, g ada krisis global, brarti pemerintah ga becus mengontrol ekonomi negara ini
@tempodotco Ga kaget sih, udan disetting dia yg bakal terbaik kok, seskoadnya aja tunduk sama perintahnya, dia yg atur grupnya, atur jam sekolahnya, atur siapa yg terbaik 🤣🤣🤣
Pak Menlu bilang: "Kritik boleh, asal berdasarkan fakta dan data yang akurat."
Oke. Mari pakai data mereka sendiri.
Prabowo sudah kunjungi 28+ negara dalam 18 bulan pertama.
49-56 kunjungan.
95-134 hari di luar negeri.
Rekor untuk presiden RI manapun.
Pemerintah klaim hasilnya: Rp2.430 triliun komitmen investasi.
Tapi IHSG -33% dari awal 2026.
Rupiah Rp18.000 : terlemah sepanjang sejarah.
FDI yang "sudah komitmen" itu realisasinya belum kelihatan di pasar, di lapangan kerja, di nilai tukar.
Pertanyaannya bukan soal niat.
Pertanyaannya: Rp2.430 triliun itu sudah cair berapa?
Dan ketika Dino Patti Djalal : mantan Dubes RI untuk AS, pendiri FPCI ,menanyakan hal yang sama, jawaban resmi Menlu adalah:
"Istilahnya kita harus gaul."
Pak Menlu, rakyat nanya soal realisasi.
Dijawab dengan filosofi pertemanan.
Kalau "sudah ketemu langsung" itu ukuran sukses diplomasi, berarti kita belum punya ukuran sukses diplomasi. 🤌
https://t.co/lC01anfm3W
Ternyata Penangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama dua mantan wakilnya oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) mendapat sorotan tajam dan luas dari berbagai media asing bukan hanya ramai didalam negeri.
Secara umum, pihak asing menanggapi kasus ini dari tiga sudut pandang utama:
1. Kekhawatiran Terhadap Anggaran NegaraMedia ekonomi internasional seperti Nikkei Asia dan New Straits Times (NST) langsung mengaitkannya dengan stabilitas fiskal Indonesia. Mereka menggarisbawahi bahwa skandal korupsi di tubuh BGN memperkuat kekhawatiran para investor global mengenai pembengkakan anggaran negara untuk mendanai proyek kesejahteraan yang sangat besar. Masalah internal ini dinilai memperburuk sentimen pasar hingga berkontribusi pada anjloknya IHSG dan melemahnya nilai tukar Rupiah.
2. Sorotan Terhadap Skala Korupsi & Anggaran RaksasaKantor berita global seperti ABC News (Australia), AFP (Prancis), dan South China Morning Post (Hong Kong) menyoroti kontrasnya nilai anggaran dengan modus korupsi yang dilakukan. Media asing memberitakan secara detail bagaimana proyek bernilai miliaran dolar untuk mengentaskan malnutrisi ini justru dikorupsi lewat manipulasi vendor dan mark-up barang mewah. Mereka menyoroti aliran dana insentif miliaran rupiah per hari yang dialihkan ke yayasan fiktif milik para tersangka.
3. Dampak Terhadap Logistik dan Kasus Keracunan MassalBeberapa media asing seperti AFP dan The Peninsula Qatar mengaitkan penangkapan ini dengan kegagalan tata kelola di lapangan. Mereka menyinggung bahwa sebelum penangkapan terjadi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) andalan pemerintah ini memang sudah didera kasus keracunan makanan massal yang menimpa ribuan anak sekolah akibat buruknya sistem penyimpanan dan pengiriman makanan.
Secara politik, pihak asing menilai penangkapan ini sebagai ujian berat sekaligus langkah responsif dari Presiden Prabowo Subianto dalam membuktikan komitmennya untuk membersihkan jajaran kabinet dari praktik korupsi sejak dini.
Jangan tertipu indahnya langit senja yang mendadak estetik..langit pink dan oranye itu romantis, tapi buat kami warga Riau, itu adalah teror!!
Di tengah panas El Nino yang luar biasa ini, bias warna estetik di langit beberapa hari lau sebenarnya adalah tumpukan asap karhutla yang mulai merayap ke atmosfer. Horornya, perpaduan warna oren dan pink itu persis seperti rompi KPK dan Kejaksaan. Cantik tapi bikin ketar-ketir yang memakainya!!
Alhamdulillah, hari ini langit kembali cerah. Semoga alam sedang berbaik hati dan tidak membawa kami ke skenario terburuk.