Hai semua!
Gue sebelumnya mau ngucapin terima kasih untuk semua doa dan support kalian selama ini. Bener-bener kalian tuh bensin gue untuk terus semangat & cepet sehat.
Gue memutuskan beberapa bulan kedepan untuk take a break (i haven’t got any since 2014), untuk fokus kepada pemulihan diri, and ALSO gue sedang mempersiapkan album baru juga untuk tahun depan. YEAY! 🔥
I know it’s long overdue, tapi sabar ya. Gue sedang mengumpulkan beberapa nama yang akan menjadi team sukses untuk album ini. Meanwhile gue izin untuk bisa rehat sambil santai mengerjakan album gue ini dari segala panggung dan shooting dulu.
Tenang, gue akan tetep hadir di sosmed untuk update-update, dan juga karena masih terima kerjaan dari brand (HEHEHE).
Walau gue tau mungkin akan jarang ketemu dulu, tapi semoga kalian bisa terima keputusan gue ini. Dan gue berharap kalian tetep terus mendoakan, agar perjalanan sehat gue pun bisa terus gue jalani dengan semangat!
I love you guys so much!
Love,
Vidi the best.
Telah wafat anak saya:
OXAVIA ALDIANO bin HARRY APRIANTO
Vidi Aldiano wafat di dampingi seluruh keluarga besar yang ikhlas akan kepergiannya menghadap Alloh SWT, 7 Maret jam 16:33
Selamat Jalan Menuju Cahaya Ilahi Nak.
Swargaloka Vidi 🙏
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Jika seluruh es di kutub Bumi mencair, maka kenaikan paras muka laut global diperkirakan sekitar 60–70 meter.
Estimasi paling umum dari sumber ilmiah:
USGS (United States Geological Survey):
Sekitar 70 meter.
NASA:
Lebih dari 60 meter.
National Snow and Ice Data Center (NSIDC):
Lebih dari 65 meter.
National Geographic dan beberapa studi lain:
Sekitar 65–70 meter.
KIra-kira begini gambarannya
Bapak Safaruddin ini yang kemaren mencecar Kapolres Sleman di ruang rapat Komisi III DPR. Beliau purnawirawan mantan Kapolda Kalimantan Timur 2015-2018, berpangkat Irjen. Pantes beliau bilang "Kalau saya yg jadi Kapolda anda, saya jamin anda tidak akan sampai ke ruangan ini"
Sebagai gambaran buat warga non-Surabaya, rute ini cukup diandalkan bagi mahasiswa karena menghubungkan simpul transportasi utama di Jatim (Terminal Bungurasih) dengan kampus besar di Surabaya Timur (ITS, UNAIR, UINSA, dsb) serta pekerja komuter harian yang kantornya ada di Surabaya Timur. Artinya, kebutuhan mobilitas untuk rute ini sangat tinggi.
Menurunkan jenis layanan menjadi feeder (dengan jumlah unit terbatas) padahal demand dan karakteristik rute lebih cocok menggunakan bus sama saja mendzolimi penumpang yang tiap hari mengandalkan rute ini.
Peta dari @tfsurabaya
Abbreviations 📝
1. AM → Ante Meridiem (before noon)
2. PM → Post Meridiem (after noon)
3. GMT → Greenwich Mean Time
4. EST → Eastern Standard Time
5. etc. → et cetera (and so on)
6.N/A → Not Applicable / Not Available
7. e.g. → exempli gratia (for example)
8. i.e. → id est (that is / in other words)
9. SMS → Short Message Service
10. IMO → In My Opinion
11. FYI → For Your Information
12. BRB → Be Right Back
13. LOL → Laugh Out Loud
14. BTW → By The Way
15. CPU → Central Processing Unit
Guys, gw tau bagi pemula GIS sulit untuk cari batas administrasi desa Indonesia yang lengkap.
Ini open source dari BIG dan bisa download sendiri, tapi buat yang butuh shp administrasi desa seluruh Indonesia bisa dm gw yak.
Gratis, sorry tapi kalo slowrespon
#GIS#PetaYabes
Kabar duka datang dari jurnalis Najwa Shihab. Sang suami, Ibrahim Sjarief Assegaf meninggal dunia pada Selasa (20/5/2025). Almarhum diduga meninggal karena sakit stroke.
“Pasca-stroke, pendarahan di otak,” kata Caca, asisten Najwa.
Rest in peace 🥀