Pesan UNTUKMU BANG
DIRIMU DAN DIRINYA.
Kita belum lama saling menyapa,
namun semesta seolah telah lebih dulu mengenalkan namamu pada hatiku.
Tak perlu janji yang terlalu tinggi,
cukup genggaman yang tak mudah terlepas,
cukup tatapan yang selalu menemukan jalan pulang.
Biarlah kita tumbuh perlahan,
belajar saling memahami,
menjadi teduh di tengah lelah,
menjadi rumah di antara riuh dunia.
Jika hari-hari nanti menghadirkan hujan,
semoga kita memilih berteduh bersama,
bukan saling meninggalkan.
Sebab cinta yang paling indah
bukan yang datang dengan gemuruh,
melainkan yang menetap dengan sederhana,
lalu mengajarkan bahwa "kita" adalah kata paling hangat yang pernah ada.
@cintalibur Gimana kalau kita balik kak. Negara kita gak support, paling tidak diri sendiri bisa support untuk pengembangan diri kita. Daripada mikirin yang penting kerja, tapi ujungnya kita tidak dihargai.
@cintalibur Nah di sini peran kita untuk kritis hal ini kak. Jadi, kalau kita mau belajar sama negara maju seperti Jerman atau Finlandia misalnya.
Mereka udah fokus pada growth setiap individu. Sehingga daya tahannya lebih kuat, baik itu secara pemikiran maupun tindakan.
Barangkali cinta
bukan tentang memiliki,
melainkan keberanian
membiarkan rindu
menjadi sungai
yang tak pernah meminta laut
mengembalikan airnya.
Ia mengalir,
membawa bayangmu,
membawa bayangku,
hingga keduanya larut
menjadi satu warna
yang tak mampu dibedakan hujan.
Maka biarlah
dunia menghafal
kita sebagai dua nama.
Sebab hanya kenangan
yang tahu,
di balik setiap jarak,
kita pernah menjadi
satu musim
yang lupa cara berakhir.
Gabut yang Diam-Diam Mengajar
Hari berjalan tanpa tergesa,
jam bergulir seperti daun
yang lupa ke mana angin membawanya.
Aku duduk,
bersahabat dengan sunyi
yang tak meminta apa-apa.
Katanya, gabut adalah ruang kosong.
Padahal,
di sanalah pikiran mulai berani
menyusun mimpi yang lama tertunda,
merangkai tanya
yang selama ini tenggelam
di riuh kesibukan.
Sesekali aku tersenyum
pada waktu yang berjalan lambat.
Sebab tidak semua jeda
adalah kehilangan arah.
Ada yang memang sengaja dihadirkan
agar hati sempat pulang
kepada dirinya sendiri.
Jika hari ini hanya berisi bosan,
biarlah.
Barangkali esok,
dari kebosanan yang sederhana itu,
lahir langkah
yang tak pernah disangka.
Rumah yang megah ternyata tak selalu menghadirkan ketenangan. Saat renovasi selesai, yang justru terus dibangun adalah cerita-cerita baru yang tak pernah benar-benar usai. Di tengah gemerlap hotel berbintang, publik tetap sibuk menghitung jarak yang semakin sulit dijelaskan.
Mungkin benar, uang mampu menyewa kamar terbaik, kasur ternyaman, bahkan layanan paling mewah. Namun ada satu hal yang tak pernah bisa dibeli: keutuhan yang sudah retak dan kepercayaan yang mulai dipertanyakan.
Di balik senyum yang tetap tersaji di depan kamera, netizen melihat banyak ruang kosong yang tak bisa ditutup oleh kemewahan. Sebab dalam hiruk-pikuk rumah tangga, yang paling mahal bukan tarif hotel, melainkan harga sebuah penjelasan yang mampu meredam segala prasangka.
Publik memang tak berhak menghakimi kehidupan siapa pun. Tetapi ketika setiap potongan cerita menjadi konsumsi bersama, wajar jika muncul berbagai tafsir. Diam pun akhirnya berbicara, dan setiap langkah selalu melahirkan pertanyaan baru.
Semoga apa pun yang sedang terjadi menemukan jalan terbaik. Sebab rumah tangga tidak dinilai dari seberapa mewah tempat singgahnya, melainkan dari seberapa kuat hati penghuninya menjaga komitmen ketika badai datang.
UNTUK RUBEN DAN SARWENDAH.
Hidup tak selalu meminta kita untuk tetap berjalan di jalan yang sama. Ada kalanya, ia mengajarkan bahwa menghormati satu sama lain adalah bentuk cinta yang juga layak dirayakan.
Terima kasih telah mengajarkan bahwa kebersamaan bukan hanya diukur dari lamanya waktu, tetapi dari ketulusan yang pernah saling diberikan.
Tidak semua kisah harus berakhir dengan kebersamaan, namun setiap kisah yang dijalani dengan tulus akan selalu memiliki tempat yang indah di hati.
Semoga langkah-langkah ke depan dipenuhi ketenangan, hati yang semakin lapang, dan kebijaksanaan dalam setiap keputusan.
Semoga setiap luka perlahan menjadi pelajaran, setiap air mata berubah menjadi kekuatan, dan setiap doa menemukan jalannya menuju kebaikan.
JADI, MENURUT GUE, KEDUANYA SALING MENURUNKAN EGO.
Yang KRITIK LEWAT PUISI, boleh MAMPIRIN YA. Tetap TAJAM DAN MENAWAN.
Ini lewat lagi, gue sih gak mau mikir aneh-aneh. CUMA TITIP PESAN SAJA UNTUK RUBEN.
Untuk Ruben yang Sedang Belajar Bertahan
Ruben,
hidup memang tak selalu ramah.
Ada hari-hari
yang membuat langkah terasa berat,
dan langit seolah lupa
cara menghadirkan cahaya.
Namun ingatlah,
malam tak pernah diciptakan
untuk tinggal selamanya.
Fajar selalu datang,
meski perlahan,
meski harus menunggu.
Jangan biarkan satu kegagalan
mencuri keberanianmu.
Jangan biarkan luka
menghapus mimpi-mimpimu.
Sebab manusia besar
bukan mereka yang tak pernah jatuh,
melainkan mereka
yang selalu memilih bangkit.
Percayalah,
di balik setiap air mata
ada pelajaran.
Di balik setiap kesabaran
ada kekuatan
yang sedang dibentuk oleh waktu.
Teruslah melangkah, Ruben.
Tak perlu menjadi yang tercepat,
cukup jangan berhenti.
Sebab harapan
selalu menemukan jalan
bagi hati yang tetap percaya.
Semoga langkahmu semakin teguh,
hatimu tetap lapang,
dan setiap perjuangan hari ini
menjadi cerita indah
yang kelak kau syukuri.