Kita selalu saja larut dlm kasus demi kasus yg tdk habis2nya. Pdahal kunci utama prbaikan adalah penataan sistemnya secara terpadu. Smua pejabat-politisi brpikirnya cendrung cuma untung-rugi & menang-kalah transaksional. Sulit brharap akan ada prbaikan kalo tdk dimulai oleh RI-1
Hari ini harusnya take off ke Denpasar dari Melbourne dengan Batik Air.
Pagi-pagi bangun jam 4 shubuh, karena jadwal take off jam 7.
Sesampainya di konter check in tidak ada orang, layar monitor mengatakan jadwal berubah ke jam 11.30. Tidak ada ground staff yang menjelaskan. Semua penumpang yang datang kebingungan.
Sekarang 11:24, sudah beberapa kali pengumuman lewat speaker yang membingungkan. Berubah gate, berubah jadwal ke 13:30, lalu kembali ke 11:30. Terakhir hanya disuruh menunggu tanpa kejelasan kapan berangkat.
Tetap tidak ada ground staff yang muncul menjelaskan.
Lebih menyedihkan beberapa penumpang menanyakan airline negara mana "Batik"? Ada yang menjawab: Indonesia.
Malu!
Gila, ketimpangan kita separah ini!
Direktur Kebijakan Fiskal CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Dr. Media Wahyudi Askar, menjelaskan hasil studi terbaru mereka:
1. Studi CELIOS mengungkap ketimpangan ekstrim: di saat pejabat/orang super kaya merayakan ultah mewah di Paris, anak-anak miskin berjuang keras hanya untuk bisa makan hari itu jg.
2. Indonesia kini punya 2 wajah ekstrem. Wajah pertama diisi oleh 1.700 orang super kaya, dimana kekayaan 50 orang terkaya di antaranya sudah setara dg total kekayaan 55 juta penduduk.
3. Oligarki ini menyetir harga pasar (ojol, LPG, properti) dan "membeli" demokrasi lewat pendanaan parpol. Sebaliknya, rakyat biasa harus berdesakan di transportasi publik yang buruk meski taat bayar pajak.
4. CELIOS mendorong Pajak Kekayaan (Wealth Tax) sebesar 2% untuk aset di atas Rp84 M. Didukung 89% rakyat, pajak ini bisa menghasilkan Rp142 T/tahun untuk menggratiskan layanan kesehatan, KRL, hingga beasiswa sampai bangun rumah layak warga rentan.
Nonton full di youtube nya Watchdoc Dokumentary nya disini 👇
https://t.co/cSzAPhXCd8
Selamat kpd POLRI yg tlh menjebol tembok penyembunyian harta2 yang diduga hasil korupsi di sebuah kafe dan beberapa titik lainnya. Selamat kpd KEJAGUNG yang terus memburu koruptor di BGN dan MBG. Silahkan berlomba utk saling bongkar korupsi. Itu bagus utk pemberantasan korupsi.
Bila dibongkar semua latar belakang pendidikan komisaris BUMN, makin ketauan, Negeri ini memang tidak pernah mem-value pendidikan sebagai suatu hal yang penting #Hensa
Dari dua tahun lalu, saya konsisten mengingatkan segenap masyarakat untuk bijak mengelola risiko dan melindungi nilai tabungan kita. Ketika beban utang yang luar biasa diwariskan kepada kita, dan tren kebijakan fiskal semakin tidak terkendali, diversifikasi tabungan – termasuk menyimpan sebagian tabungan dalam mata uang yang stabil (hard currencies) seperti Dollar, Singapore Dollar, atau Euro – bukan lagi sekedar opsi investasi, melainkan langkah penting untuk melindungi keuangan keluarga dan keuangan pribadi.
Perlindungan daya beli ini adalah hak masyarakat. Tentu saja, perlindungan daya beli terbaik tetap berada di tangan Pemerintah melalui perubahan orientasi kebijakan yang fundamental. Tanpa perubahan orientasi kebijakan yang menyeluruh dan mendalam, sulit melihat Rupiah dan daya beli kita bisa pulih.
For the past two years, I have consistently urged the public to prudently manage risks and protect the value of our savings. With an immense debt burden inherited from the previous government, and a fiscal policy drifting further out of control, diversifying our savings – including holding a portion in stable hard currencies like the US Dollar, Singapore Dollar, or Euro – is no longer just an investment choice. It has become a vital step to protect personal and family finances.
Safeguarding our purchasing power is a fundamental right of the people. Ultimately, the best solution for restoring our financial security lies in the hands of the Government through a fundamental shift in policy orientation. Without a comprehensive and deep policy overhaul, it is difficult to see how the Rupiah and our purchasing power can truly recover.
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya.
Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir April 2026, arus modal asing yang keluar (net foreign sell) dari pasar saham Indonesia sejak awal tahun (Year-to-Date) tercatat sekitar Rp39,49 triliun hingga Rp42,8 triliun!
Pengangguran Massal 😥
Yoshua Bengio, salah satu bapak pendiri kecerdasan buatan (AI) modern dan penerima penghargaan Turing, mengeluarkan peringatan keras. Bahwa hampir semua pekerjaan manusia akan lenyap karena AI. Bukan lagi soal “mungkin” atau “jauh di masa depan”, tapi hanya tinggal menunggu waktu.
Menurutnya, pekerjaan kantoran seperti administrasi, penulisan laporan, analisis data, hingga coding akan menjadi yang pertama hilang karena AI sudah mampu melakukannya lebih cepat dan murah.
Bahkan anak muda Generasi Z yang baru lulus kuliah saat ini sedang kesulitan mencari pekerjaan entry-level karena banyak perusahaan sudah menggantinya dengan software AI.
Banyak orang berpikir pekerjaan manual atau fisik seperti tukang ledeng, tukang listrik, atau montir akan aman lebih lama. Namun Bengio menegaskan bahwa itu hanya penundaan sementara. Robot-robot di pabrik dan gudang semakin canggih, mengumpulkan data besar-besaran yang membuat AI belajar melakukan tugas fisik dengan sangat presisi.
Pada akhirnya, bahkan pekerjaan yang butuh tangan manusia pun bisa digantikan sepenuhnya. Ini berbeda dari revolusi industri sebelumnya, di mana mesin menghapus pekerjaan lama tapi menciptakan pekerjaan baru, kali ini, AI bisa melakukan hampir segala yang manusia lakukan, bahkan lebih baik.
Peringatan Bengio ini seperti alarm darurat bagi kita semua. Dia sendiri menyesal tidak menyadari risiko ini lebih awal dan kini aktif mendorong pengembangan AI yang aman.
Masyarakat dan pemerintah perlu segera mempersiapkan solusi, seperti pelatihan ulang tenaga kerja, pendapatan dasar universal, atau aturan ketat terhadap perusahaan teknologi. Jika tidak, kita bisa menghadapi pengangguran massal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Intinya, masa depan di mana manusia tidak lagi perlu bekerja sudah di depan mata. Pertanyaannya, apakah kita siap menyambutnya dengan bijak?
https://t.co/4X3gtXYZo7