Sudah kubilang di salah satu stasiun TV bulan lalu, ceramah agama semakin lama menjadi industri "entertainment" — hanya menjual jenaka dan gemuruh panggung. Persis pertunjukan Ketoprak dengan variasi tarif dan jenis-jenis paketnya.
"Sosok Tuhan disuarakan untuk menakut-nakuti orang, demi mencari cuan dan kekuasaan", sindir Friedrich Nietzsche. Mungkin saja sindirannya dianggap salah karena dia seorang ateis. Tapi bagi saya yang beragamapun, sindiran Nietzsche terasa ada benarnya. Toh, faktanya memang demikian.
Nah, pendakwah agama itu seharusnya bisa membuktikan kepada khalayak bahwa premis Nietzsche (yang seorang ateis) salah besar, bukan justeru membuktikan kebenarannya.
A: Pertalite kosong Mas?
B : Sedang dalam perjalanan
A : Naik apa?
B : Ya truk tanki lah!
A: Kok gak datang-datang?
B: Truk-nya sedang antri solar mas
🤣🤣🤣
Dan barangsiapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk (kesulitan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa [4]: 111)