Kemampuan menahan diri kek gini, ga dimiliki tiap org.
Alih" buru buru merayakan keberhasilan lolos babak berikut bareng timnya, Mo memilih nyalamin pemain Australia dulu.
My Egyptian King
Sedih aja, dah ga di LFC
Guys, di tengah situasi di mana hampir semua partai politik sudah masuk ke koalisi pemerintah, di mana oposisi formal praktis tidak ada, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan untuk jadi pengawas yang jujur muncul satu pertanyaan yang serius:
siapa yang masih berani bicara jujur soal kondisi negara ini?
Dan jawabannya yang paling mengejutkan justru datang dari seorang mahasiswa filsafat semester akhir yang bahkan tidak punya ijazah SMA formal.
Namanya Tiyo Ardianto.
Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada.
Latar belakangnya sendiri sudah luar biasa.
Tiyo bukan lulusan SMA negeri favorit.
Dia lulusan pendidikan nonformal paket C dari sekolah alternatif di Kudus.
Tapi dengan ijazah itu dia berhasil masuk Fakultas Filsafat UGM dan bertengger di peringkat 100 besar terbaik saat seleksi masuk.
Sebelum jadi aktivis, dia sudah jadi penyair yang karyanya masuk buku antologi se-Asia Tenggara, menjadi sutradara teater sejak usia 16 tahun, menang lomba baca puisi nasional mengalahkan lebih dari 4.000 peserta,
dan pernah dipuji langsung oleh istri WS Rendra karena karakter suaranya yang mengingatkan pada si Burung Merak.
Kemampuan berbicara di depan massa, kemampuan merangkai kata, kemampuan membaca situasi semua itu bukan kebetulan.
Itu dilatih selama bertahun-tahun sebelum dia naik ke panggung politik kampus.
Ketika terpilih sebagai Ketua BEM KM UGM pada Januari 2025, hal pertama yang dia lakukan adalah memutuskan BEM UGM keluar dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia.
Alasannya sederhana tapi menohok:
forum mahasiswa nasional itu sudah disusupi kepentingan politik.
Ada menteri, ada kapolda, ada kepala BIN daerah yang hadir di dalam forum yang seharusnya independen.
Bahkan ada karangan bunga dari Kepala BIN Daerah Sumatera Barat terpajang di depan ruang sidang.
Bagi Tiyo itu bukan sekadar hiasan.
Itu simbol bahwa kekuasaan sedang mencoba menjinakkan daya kritis mahasiswa sebelum mereka sempat bergerak.
Dan alih-alih ikut diam dan menikmati "perlindungan" itu Tiyo memilih keluar.
Kalimatnya yang viral waktu itu:
"Kami memilih jalan sunyi tapi bercahaya setia bersama rakyat Indonesia."
Dari situ kritiknya tidak berhenti.
Justru makin keras dan makin spesifik.
Soal MBG:
dia mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan 20% yang seharusnya wajib justru dipotong untuk membiayai program makan gratis.
Menurutnya, uang Rp225 triliun itu kalau dipakai dengan benar bisa menggratiskan seluruh biaya kuliah di PTN se-Indonesia.
Dia juga menuding ada data keracunan MBG yang sengaja ditutupi supaya programnya terlihat sukses di mata presiden.
Soal BBM:
dia menyebut kenaikan Pertamax sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah mengelola anggaran sementara efisiensi di kabinet yang gemuk dan biaya perjalanan dinas pejabat ke luar negeri tidak pernah disentuh sama sekali.
Soal Kepala BGN:
dia mempertanyakan kenapa posisi sepenting itu diisi bukan berdasarkan kompetensi di bidang gizi, tapi berdasarkan kesetiaan politik.
Dan dia menyebut kalimat yang paling keras tapi paling jujur: "Semua rakyat boleh menderita pejabatnya tidak boleh."
Reaksi pemerintah?
Predictable.
Gerakan black campaign langsung dilancarkan secara terorganisir.
Akun-akun anonim menyebarkan fitnah bahwa Tiyo menggelapkan dana beasiswa KIP.
Pesan WhatsApp berisi berita palsu dikirim langsung ke nomor handphone ibunya di kampung.
Dua puluh sampai tiga puluh pengurus BEM UGM lain juga menerima ancaman serupa di ponsel masing-masing.
Ada yang mengikutinya secara fisik.
Ada teror digital berupa ancaman penculikan dari nomor luar negeri.
Tapi fitnah soal beasiswa itu runtuh sendiri begitu diperiksa.
BEM UGM secara aturan kampus tidak memegang uang, tidak punya akses ke dana beasiswa, dan tidak punya kewenangan apapun soal KIP.
Yang terjadi justru sebaliknya BEM UGM menggalang dana sosial secara terbuka untuk membantu mahasiswa penerima KIP yang sempat terlantar karena pencairannya terlambat dari pemerintah.
Itulah yang diputarbalikkan menjadi tuduhan korupsi.
Dan kemudian datang kontroversi yang menggerus sebagian simpati publik terhadap Tiyo.
Dalam sebuah diksi terbuka, dia membuat perumpamaan seekor kucing gemuk yang kepalanya dipenuhi jamur scabies sampai tidak bisa melihat lalu menyebut nama kucing itu "Prabodoh Subiantol."
Sebuah plesetan nama presiden yang langsung memantik kemarahan luar biasa dari berbagai kalangan, termasuk dari orang-orang yang sebelumnya mendukung gerakannya.
Ini bagian yang perlu dilihat dengan jujur dari dua sisi.
Di satu sisi dalam tradisi sastra dan teater, perumpamaan hewan untuk menyindir penguasa adalah hal yang sangat lazim.
Dari Aesop sampai George Orwell, satir menggunakan fabel adalah senjata kritik yang sudah diakui sepanjang sejarah.
Dan frustrasi yang menumpuk dari seorang aktivis yang keluarganya diteror, yang kawan-kawannya diancam, yang gerakannya difitnah itu bisa membuat kalimat meledak tanpa filter.
Di sisi lain panggung politik Indonesia bukan panggung teater.
Ketika batas antara kritik kebijakan dan serangan personal dilanggar terlalu jauh di ruang publik simpati publik yang susah payah dibangun bisa runtuh dalam hitungan menit.
Dan itulah yang terjadi.
Tapi ada yang jauh lebih penting dari kontroversi kalimat itu yang harus diperhatikan.
Ketika seorang mahasiswa semester akhir yang tidak punya partai, tidak punya anggaran, tidak punya perlindungan institusional yang kuat berani mengkritik program senilai Rp335 triliun, berani menyurati UNICEF, berani menarik keluar organisasinya dari forum yang sudah disusupi kepentingan
dan kemudian dibalas bukan dengan debat substansi tapi dengan teror ke ibunya dan ancaman penculikan dari nomor luar negeri
maka yang sebenarnya diperlihatkan oleh pemerintah bukan kewibawaan.
Yang diperlihatkan adalah ketakutan.
Karena kalau kritiknya tidak ada bobotnya tidak perlu segitu besarnya upaya untuk membungkamnya.
Dan inilah konteks yang paling penting:
Tiyo muncul bukan dalam situasi normal.
Dia muncul di tengah situasi di mana semua partai sudah bergabung ke koalisi, di mana DPR sudah tidak bisa diharapkan mengawasi eksekutif secara jujur,
di mana media mainstream sudah semakin berhati-hati, dan di mana orang-orang yang berani berbicara keras satu per satu menghadapi konsekuensi hukum atau tekanan sosial yang berat.
Di ruang kosong itulah seorang mahasiswa filsafat dengan ijazah paket C mengisi posisi yang seharusnya diisi oleh oposisi formal yang sudah tidak ada.
Tiyo Ardianto bukan sempurna.
Kontroversi kalimat kucing scabies itu adalah pelajaran mahal tentang betapa berbahayanya kalau kritik yang tajam kehilangan kontrol dan melewati batas yang tidak perlu dilewati.
Kritik kebijakan yang berbasis data dan argumen jauh lebih sulit dibungkam dibanding ejekan personal yang mudah dijadikan senjata balik.
Tapi di luar kesalahan itu yang dia lakukan selama ini adalah fungsi yang seharusnya dijalankan oleh oposisi yang sehat: mengawasi, mempertanyakan, dan menuntut pertanggungjawaban atas uang rakyat.
Dan fakta bahwa pemerintah merespons dengan teror ke ibunya alih-alih dengan debat substansi itu sendiri sudah menjawab pertanyaan siapa yang sebenarnya ketakutan dalam cerita ini.
Malam ini di UGM, tiga pejabat dievakuasi kabur dari forum "Pancasila Pemersatu Bangsa" : dikejar mahasiswa yang cuma nanya soal tanah Papua dan ekonomi amburadul.
Mari kita bicara siapa mereka:
a. Nusron Wahid, Menteri ATR/BPN : Agustus 2025 viral bilang
"tanah itu milik negara, emang mbahmu bisa bikin tanah?"
lalu minta maaf, ngaku
"cuma bercanda, tidak sepantasnya disampaikan pejabat publik."
Tadi malam ditanya mahasiswa soal ratusan ribu hektare lahan Papua yang dialihfungsikan dan warga digusur , jawabnya:
"Ikut saya ke Papua, lihat langsung."
Menteri agraria, tapi jawab pertanyaan tanah kayak ngajakin wisata
b. Budiman Sudjatmiko, Kepala BP Taskin , eks Ketua PRD, dipenjara Orba 13 tahun karena lawan rezim, bebas lewat amnesti Gus Dur karena dianggap pejuang demokrasi.
Tahun 2023 gabung Prabowo , teman satu selnya sendiri, Petrus Hariyanto eks Sekjen PRD, bilang di YLBHI:
"Ia mengkhianati kami dan korban-korban pelanggaran HAM."
Empat hari lalu di Semarang, waktu mahasiswa nanya soal konsistensinya, jawabannya:
"Anda bukan siapa-siapa, silakan pergi."
Malam ini di UGM katanya mau dialog , terus dievakuasi ke pintu samping.
c. Sudaryono, Wamentan : mantan asisten pribadi Prabowo, dilantik Jokowi di penghujung jabatan, analis politik sebut pengangkatannya sebagai manuver mengamankan Pilgub Jateng.
Hadir di forum berlabel Pancasila , kabur naik mobil patwal.
Spanduk mahasiswa UGM malam ini berbunyi:
"UGM Menolak Pengkhianat Reformasi."
Tiga orang datang bicara Pancasila.
Tiga orang tidak bisa menjawab pertanyaan rakyat.
Pancasila pemersatu bangsa , atau sekadar tameng pejabat yang sama-sama takut ditagih?
🕹️Di jantung kota Los Angeles Amerika Serikat bendera Iran membentang:
-Negara yang membom Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebah di kota Minab
-Yang menewaskan antara 168 anak-anak siswi berusia 6 hingga 12 tahun
Menanggapi keraguan wartawan Uzbekistan yang menilai Iran lebih unggul, Hector Souto menegaskan bahwa final belum dimainkan. Ia menyebut Indonesia juga tim yang kuat dan siap memberikan perlawanan penuh.
#bolacomid#blcbm#blclpt#hectorsouto
𝗗𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗕𝗶𝘀𝘂 𝗣𝗿𝗲𝘀𝗶𝗱𝗲𝗻, 𝗥𝗲𝘀𝘁𝘂 𝗧𝗮𝗸 𝗧𝗲𝗿𝘂𝗰𝗮𝗽 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗝𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮𝗹.
Banyak pengamat yg keliru menafsirkan keheningan Presiden Prabowo atas penolakan Kapolri jika struktur komando institusinya dibawah Kementerian sebagai keraguan, atau bahkan pembiaran.
Namun, dalam kalkulasi politik tingkat tinggi, diam adalah sebuah bahasa. Diamnya Prabowo bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan sebuah persetujuan strategis, sebuah “lampu hijau” yg menyala terang dalam gelapnya koridor kekuasaan.
Wacana meletakkan Polri di bawah kementerian seringkali melupakan satu hukum besi birokrasi, yakni “Kekuasaan tidak pernah dengan sukarela memangkas dirinya sendiri.”
Jika Polri dilucuti dari struktur langsung di bawah Presiden dan digeser ke bawah Kementerian Dalam Negeri atau kementerian baru, pihak yg mengalami kerugian administratif terbesar bukanlah Kapolri, melainkan Presiden itu sendiri.
Polri, dengan rantai komando vertikal yg menjangkau hingga ke desa-desa, adalah instrumen kekuasaan eksekutif yg paling efektif. Ia adalah “tangan” Presiden untuk (dalam tanda petik) menjaga ketertiban, menegakkan hukum, dan mengamankan stabilitas keaman masyarakat.
Mengapa dalam tanda petik ? Karena dalam realitas politik yg tak terkatakan Polri juga menjaga stabilitas politik dan kekuasaan Presiden, dan itu terbukti setidaknya dalam dua periode pemilu terakhir.
Menempatkan Polri di bawah menteri berarti menciptakan “Portal Birokrasi” antara Panglima Tertinggi dan pasukannya.
Bagi seorang Prabowo yg memahami betul arti komando dan kendali, membiarkan Polri lepas dari genggaman langsungnya adalah sebuah kemunduran strategis.
Mengapa seorang Presiden mau menyerahkan pedang tertajamnya kepada seorang menteri, ketika ia bisa memegangnya sendiri..?
Kapolri dengan ilusi “Pembangkangan-nya” adalah kecerdikan atau mungkin gimmick politik. Penolakan keras Kapolri terhadap wacana tersebut tampak gagah, seolah-olah institusi Polri sedang bertarung sendirian mempertahankan marwahnya.
Namun, mari kita bersikap realistis. Dalam struktur ketatanegaraan dan budaya politik Indonesia yg hierarkis, mustahil seorang Kapolri berani “pasang badan” menolak wacana reformasi yg didorong oleh elemen masyarakat sipil dan sebagian parlemen, tanpa jaminan perlindungan dari atas.
Jika Kapolri benar-benar bergerak sendiri, ia sedang melakukan bunuh diri politik. Ia harus berhadapan dengan koalisi gemuk Presiden di parlemen, berhadapan dengan sentimen TNI yg mungkin menginginkan keseimbangan kekuatan, dan berhadapan dengan opini publik.
Keberanian Kapolri untuk berkata “Tidak” adalah indikator terkuat bahwa di belakang punggungnya, Presiden telah menepuk bahunya. Penolakan itu bukanlah pembangkangan, itu adalah penugasan.
Gimmick Politik dan Status Quo
Sikap tegas Kapolri hanyalah etalase depan (front-stage) dari sebuah panggung sandiwara. Ini adalah gimmick politik yg dirancang untuk dua tujuan,
Pertama sebagai tes ombak, menguji seberapa kuat desakan publik tanpa harus melibatkan Presiden secara langsung.
Kedua sebagai penyangga atau buffer, Kapolri menjadi “tameng” yg menyerap kritik, sementara Presiden tetap bersih, menjaga citra sebagai pemimpin yg berada di atas segala polemik, padahal dialah penerima manfaat utama dari status quo tersebut.
Pada akhirnya, narasi ini membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa keinginan untuk menempatkan Polri di bawah kementerian akan layu sebelum berkembang.
Bukan karena Polri terlalu kuat, tetapi karena Presiden tidak memiliki insentif politik sedikit pun untuk melemahkannya.
Diamnya Prabowo adalah suara paling lantang yg menegaskan bahwa “Reformasi Polri yg menyentuh perubahan struktur komando tidak akan pernah terjadi di dalam saku safarinya”.
Reformasi Polri diperkenankan sepenuh hati para cendekiawan, akademis, aktifis, pemikir politik, pengamat birokrasi dan ahli tata negara, asal tak lebih dari setengah hati Presiden.
Tak diberi tulang lagi : lagu sindiran untuk Slank dari kuburan band
Ada anjing setia 10 tahun lamanya membelah dan memuja tanpa tanya kenapa duduk di kaki kuasa menunggu
Isyarat hidup dari pujian dan janji yang sekarang
Tapi waktu berputar mangkuk tak lagi penuh kesetiaan diuji saat lapar menyentuh, tak diberi tulang lagi.
Ini dia menggonggong pada tuannya sendiri. Suara sumbang pun melolong.
@ainurohman Ngikuti skateboard dari Asian Games 2018 di Palembang, cabor ini paling unik, nuansa kompetisinya paling adem, kaya anak” skateboarding ngumpul, nemu skate park baru & mabar aja gitu, siapa yg jatuh/gagal dikasih support, siapapun yg lebih baik&juara tetep seneng saling respect
Video terindah dr SEA Games hari ini. Luar biasa memang kultur skateboard ini. Seolah semua orang memahami dedikasi, latihan keras, jatuh, terluka, frustrasi saat mempelajari trik2 sulit.
Hingga empati tumbuh, hingga sebuah kemenangan kompetitor dirayakan bersama2 seolah kemenangan diri sendiri..
📽: Basral Graito via Afandy Dharma/Instagram
Basral Graito, 18, meraih salah satu kemenangan paling dramatis di SEA Games 2025. Basral yg mulanya berada di posisi 4, jd orang terakhir yg melakukan percobaan single trick. Percobaan berhasil. Basral melewati 3 nama di atasnya dan meraih emas!
Basral selama ini memang disebut2 oleh komunitas skateboard global dgn radically talented. Bakatnya memang luar biasa.
Memang bakat, lalu kecintaan, atusiasme, dan semangat belajar ini yg pd akhirnya membentuk Basral.
Akses skateboard di rumahnya di Karanganyar memang terbatas. Mulai belajar skateboard pd usia 10 tahun juga dr papan bekas nggak kepakai dan nggak standar (Basral menyebutnya skateboard Gramedia). Skateboard itu dibeli Basral dari temannya seharga Rp 5 ribu. Basral belajar banyak teknik dasar juga dari YouTube.
Tapi inisiatif mandiri Basral memang dahsyat sih. Mau belajar otodidak apapun di tengah keterbatasan. Lalu aktif mencari komunitas. Pd usia semuda itu nggak malu utk belajar dari mana saja, dari siapa saja.
Baru 2 tahun setelah kenal skateboard, atau saat berusia 12 thn, Basral sudah meraih perak di SEA Games Manila 2019.
Karier dan namanya lalu naik terus. Diundang masuk komunitas global Flip Skateboards Team, jadi BA brand sekelas Vans, juara kategori The Big Sticks di turnamen sangat bergengsi macam The Bunt Jam Australia...
Memang keren sih.
🎥: Tim Indonesia Official
Ederson mencoba mencari perhatian ke maskot kecil, namun Milan Škriniar memberi tahu bahwa ia Tuli, sehingga Ederson langsung menggunakan bahasa isyarat. ❤️🥰