Harusnya umur segitu lagi senang senangnya main sama anak seumurannya tapi adik ini malah berjuang demi ekonomi keluarga nya semoga adeknya sukses kelak✍️🙏
Pilu.
Anak 7 tahun bernama Nabila Aisyah Bella hidup sendiri, tak jarang dia jalan kaki 5 kilometer demi jual daun pisang Rp 5 ribu untuk bertahan hidup 🥹
Teruntuk Coach John Herdman
Coach, baru-baru ini saya mendengar Anda berulang kali mengatakan bahwa bermain untuk Timnas Indonesia berarti mewakili 280 juta jiwa di negeri ini. saya mengangguk dalam hati. benar coach, Ini bukan sekadar hadir, bagi sebagian orang ini adalah napas sebuah bangsa.
Beberapa waktu terakhir ini juga, saya melihat berita, coach memanggil 23 pemain untuk pemusatan latihan di Jakarta pada 26 hingga 30 Mei untuk persiapan awal jelang ASEAN Championship 2026
Saya membaca daftar itu dengan penuh harap, penuh talenta muda, pemain-pemain yang lapar akan prestasi, dan wajah-wajah baru yang membawa angin segar. langkah yang baik, Coach.
Namun sambil melihat nama-nama itu, saya memutar kenangan ke belakang, entah kenapa saya terbawa kembali ke suatu momen, betapa pilunya malam-malam final AFF dulu.
Jalanan yang biasanya ramai tiba-tiba menjadi sepi senyap, orang-orang meninggalkan rumah, berkumpul di balai warga, warung kopi, atau nobar bersama keluarga.
Semua menahan napas, berdoa, berteriak, dan akhirnya menangis dalam diam ketika mimpi itu kembali pupus di garis akhir. seringkali kali kita hampir menyentuh langit, tapi selalu jatuh di ambang pintu juara.
Di tengah pergantian era yang penuh harapan ini, di mana Indonesia mulai diperhitungkan lagi di Asia Tenggara bahkan cita-cita kita ke piala dunia, ada satu nama yang tak pernah pudar di hati saya, atau mungkin banyak orang, pemain tersebut bernama Boaz Solossa.
Legenda hidup yang pernah dua kali merasakan tulang kakinya patah saat membela Timnas Indonesia, tapi tetap bangkit dan terus bermain hingga usianya tak lagi muda.
Maka izinkan kami, orang-orang yang merasakan patah hati dan menangis di Final AFF berkali-kali itu menyampaikan satu permintaan yang tulus, atau mungkin terasa cukup berbeda, Panggillah Boaz ke dalam skuad Timnas untuk ASEAN Championship ini.
Bukan untuk menjadi pemain inti yang terus bermain 90 menit, bukan untuk memikul beban berat, melainkan sebagai simbol indah dari transisi era yang kita jalani, saya percaya lebih banyak efek positifnya dibandingkan efek negatif jika Legenda hidup itu dipanggil ke Timnas Indonesia
Biarkan ia hadir di antara transisi pemain-pemain diaspora yang datang dari Eropa dan talenta-talenta muda dari Sabang sampai Merauke, bagaimana simbol mimpi yang pernah kira rajut pelan-pelan bisa saja terwujud, saya percaya itu.
Jauh sebelum nama-nama hebat kami teriakan di Tribun seperti Jay, Marselino, Ole, Kevin Diks atau pemain lainnya yang menghiasi era transisi ini, ada satu nama yang selalu melekat di hati kami yaitu Boaz Sallosa, gocekannya, lincahnya kakak boci, dan luar biasanya talenta itu, terekam jelas di memori kami.
Kami ingin melihat legenda ini seyogyanya mengenakan jersey Merah Putih sekali lagi, kami ingin menyaksikan ia ikut merayakan, mengangkat piala, dan menutup lembaran air mata masa lalu.
Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk kita semua untuk membuktikan bahwa semua kegagalan di final-final AFF dulu bukan akhir cerita, melainkan awal dari kejayaan yang sedang kita bangun.
Panggilan untuk Boaz adalah jembatan,
Jembatan antara generasi dengan generasi yang akan menjadi juara, era di mana Indonesia mulai ditakuti lagi, saya percaya kualitasmu sebagai seorang pelatih Coach, karena dirimu membuat Kanada menjadi poros baru di benua Amerika.
biarkanlah sang legenda ikut menuliskan akhir yang manis.
Karena sepak bola adalah tentang mimpi, dan mimpi yang paling indah adalah yang akhirnya terwujud, meski harus patah dan tumbuh berkali-kali.
Terima kasih, Coach.
Jika permintaan ini diijinkan, mungkin saya hanyalah satu dari sekian banyak pendukung Timnas yang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini, kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Terbang tinggi Garuda
urgent! ⚠️ twitter please do ur magic ⚠️
bantu larisin dagangan ibuku yuk mentemen, mama jual nasi katsu & nasi bakar, dimasak sendiri dirumahnya 100% homemade!
mama single parent, tinggal di kontrakan jakarta yg tergolong mahal tp kurang layak 🥲
Namanya Agis Saputri, bocah 10 tahun anak seorang pemulung. Setiap hari ia bergelut dengan debu jalanan, membantu orang tuanya mengumpulkan kardus dan botol bekas demi isi perut.
Namun di sela-sela kerasnya hidup, Agis menolak pasrah. Berbekal krayon patah, kertas lecek, dan pensil tumpul, jemari kecilnya dengan ajaib menari melahirkan lukisan indah hanya dalam waktu 5 menit. Karya-karya tulus itu ia jajakan seharga Rp5.000 hingga Rp10.000 kepada warga yang lewat.
Uangnya? Untuk beli beras keluarga.
Saat anak seusianya asyik dengan gadget, dengan tegas Agis berkata, "Saya tidak mau jadi pengemis." Sebuah kalimat sederhana yg sarat akan harga diri dan keteguhan hati yang luar biasa.
Agis adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk menggadaikan martabat. Di balik tumpukan barang bekas, ada bakat hebat & jiwa yg merdeka.
Sehat & sukses terus, Agis! Semangatmu menampar kita untuk berhenti mengeluh 🎨
Kemayoran, Jakarta Pusat, 2026.
Selepas hujan, trotoar basah berubah menjadi panggung ironi.
Seorang anak kecil duduk memeluk bayi, menyuapinya dengan botol susu.
Kantong plastik merah tergantung di lengannya, sementara suara kereta melintas bersamaan.
Dunia terus bergerak, tapi anak itu berhenti di pinggir jalan, menjual kesedihan yang bukan miliknya.
Di kampung, orang berbisik: “Kalau orang tua benar, anak tidak akan terlantar.” Tuduhan pun muncul: orang tua sengaja menempatkan anak di ruang publik untuk memancing simpati.
Rupiah dianggap lahir dari air mata.
Namun di balik tudingan itu, ada kenyataan pahit: kemiskinan sering memaksa keluarga menjadikan anak sebagai wajah penderitaan.
Ironi itu jelas, Anak menjadi korban, bukan pelaku.
Orang tua bersalah, tapi juga terjepit oleh kemiskinan.
Negara abai memberi perlindungan, Masyarakat ikut bersalah, karena hanya menonton atau memberi receh tanpa solusi.
Anak yang seharusnya bermain, kini menjadi “orang tua kecil.”
Bayi yang seharusnya tidur di rumah, malah menangis di jalan.
Dan kita semua orang tua, negara, masyarakat, dunia terlibat dalam membiarkan kesedihan itu dijual.
Apakah ada yang lebih menyakitkan daripada negeri yang mengaku kaya, tapi membiarkan anak-anaknya tumbuh di trotoar basah selepas hujan?
KISAH SEORANG LANSIA YANG SERING MENAHAN LAPAR DEMI CUCU YATIMNYA BISA MAKAN
Emak Jenong, lansia berusia 81 tahun, tinggal bersama kedua cucunya di sebuah rumah yang hampir roboh.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Emak Jenong harus berjuang seorang diri mengurus kedua cucunya yang yatim.
Sang ayah telah meninggal dunia, sementara ibunya pergi bekerja ke Bantar Gebang menjadi buruh serabutan dan jarang pulang.
Hari-hari mereka hanya dihabiskan bertiga di sebuah rumah yang sudah sangat tidak layak.
Bahkan ketika hujan turun, rumah tersebut bocor di mana-mana dan mereka sering ketakutan tertimpa bangunan rumahnya sendiri.
Saat ini Emak Jenong sudah tidak bekerja karena usia yang semakin sepuh dan kondisi matanya yang sudah tidak dapat melihat dengan normal.
Untuk berjalan pun harus meraba-raba. Setiap hari mereka sering tidak memiliki beras untuk dimasak.
Kadang makan pun seadanya jika diberi oleh para tetangga dan saudara.
Emak Jenong juga sering menahan lapar ketika cucunya belum makan, dan hanya ada nasi beserta lauk seadanya yang bisa mereka santap.
Andra yang berumur 7 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SD mengaku sering menunggu sang nenek memasak karena ingin makan.
Bahkan dari pagi hingga siang hari kadang ia belum makan sama sekali.
Untuk sekolah pun Andra jarang diberi uang jajan karena sang nenek tidak memiliki uang.
Parahnya lagi, sang kakak yang seharusnya duduk di bangku kelas 3 SMP terpaksa berhenti sekolah karena sudah tidak ada biaya.
Emak Jenong hanya bisa menangis sedih melihat kondisi yang mereka rasakan dan berharap suatu hari nanti bisa merasakan kebahagiaan serta hidup layak seperti orang lain pada umumnya.
Tadi pulang lewat depan Museum Nasional, liat bapak jualan ganci ini beliau sering disini tp baru td punya cash buat beli satu ganci nya.. guys kalau lewat depan Museum dn ada rejeki tolong dibeli yah cuma 10k tadi nanya bapaknya bahkan kdg ga ada yg beli dalam sehari 🥲 yaAllah