@SUWARGASEDA Kk itukan di bisnya kk duduk sama siapa tapi apa kenapa kan kk bagus nanti saya duduk sama siapa kk banyak nanti jadi apa kenapa. Yeah anjing.
ᅠ
Rangga memegang dahi Radjiman sambil membacakan doa yang ia tahu. Bu Jani ikut menahan tubuhnya.
Sementara itu, Segara, Bintang, dan Samudra mulai muntah-muntah karena sempat mencicipi makanan dari pasar.
Muntahnya hitam pekat.
ᅠ
ᅠ
Pak Slamet mencoba menenangkan keadaan bersama Mitha dan Mavendra.
Pasar apa yang sebenarnya mereka datangi?
Salah siapa nasib mereka menjadi seperti ini?
ᅠ
ᅠ
“MAN, SADAR MAN! SING ELING, NYEBUT GUSTI ALLAH.”
Bus langsung kacau.
Radjiman terus cekikikan dan berteriak histeris.
“MODAR O KABEH, MODAR!”
Suara itu bukan lagi suara Radjiman.
ᅠ
ᅠ
“Ngomong opo to kowe ki? Iki loh panganan.”
Tatapannya berubah menyeramkan.
“RA RETI DIUNTUNG KON IKI! IKI LHO PANGANAN!”
Radjiman hendak memakan cacing itu, tapi Rangga segera menahannya.
ᅠ
ᅠ
“Ngomong opo to kowe ki? Iki loh panganan.”
Tatapannya berubah menyeramkan.
“RA RETI DIUNTUNG KON IKI! IKI LHO PANGANAN!”
Radjiman hendak memakan cacing itu, tapi Rangga segera menahannya.
ᅠ
ᅠ
“Man, kalo bercanda jangan kelewatan,” ujar Harsha.
“Bercanda apaan!? Nasi bungkus loh ini—”
Radjiman menoleh.
Isi kantung itu bukan makanan.
Dedaunan. Tanah hitam. Dan cacing-cacing yang menggeliat.
Matanya terbelalak.
Lalu ia terkekeh.
ᅠ
ᅠ
Karena Radjiman keras kepala, Akhirnya mereka masuk.
Radjiman memborong berbagai makanan. Bintang ikut mencicipi kerupuk jengkol.
“Ueenak tenan, rek!”
ᅠ
ᅠ
Samudra dan Segara ikut mencicipi makanan yang ditawarkan. Sementara Fardhan, Mitha, Raka, dan Arkana tetap merasa ada yang tidak beres.
Sampurna malah menemukan ubi cilembu di hutan dan memilih makan itu.
Setelah puas, mereka kembali ke bus.
ᅠ