Oiya buat kelen yg kepikiran mau beli sepeda biat bike to work, Skrg model hybrid (geometri road bike/gravel tp stang flatbar) macemnya banyak. Dr yg murah ampe mahal jg ada
Rekomen gw:
- Camp GX300, harga 6,38jt
- Marin Kentfield, ini udh keluar seri kedua. Kemarin sempet nemu seri 1 di Charlie Bike. 7-8jtan
- Strattos F Series. Ini sepeda cakep. Baru keluar bulan lalu kalau ga salah. Harganya range 4jt - 7jt an.
- Pacific Rochester Pro. Keluar deketan ama Strattos F ini. Harga 4jt
🔽
🌺 Virtual Run SIHM
🗓️ 05-12 Juli 2026
🎴 5K/10K/21K • Virtual Run
🌤 Bebas / Anywhere
💙
🍊 https://t.co/375cLOmIJC ◀️
🔺
🔺
°°°°
#VirtualRunSIHM#SanurHalfMarathon#RajaLari#LariKuinfo#VirtualRun Sanur Bali International Half Marathon Bali https://t.co/Sxu9kXqij3
Di kulit luar, legenda Kelam Malin Kundang seperti ngejanjiin kita sebuah konsep thriller misteri yang menarik: dekonstruksi dari legenda Malin Kundang. Tapi yang terjadi malah lebih seperti sebuah destruksi—modifikasi yang ngehilangin esensi paling kuat dari cerita aslinya. Hilang udah kutukan batu yang ikonik, hilang udah langit yang ngamuk, dan yang paling fatal: hilang udah pesan soal anak durhaka yang selama ini bikin legenda masyarakat Sumatra Barat bisa begitu dikenang secara kultural. Gantinya, legenda Kelam Malin Kundang milih jalur thriller modern dan rasional lewat trauma keluarga, ingatan yang cacat, dan rahasia lama yang pelan-pelan mulai kebuka di tengah kehidupan urban Jakarta.
Alif (Rio Dewanto), seorang pelukis mikro sukses, kecelakaan dan hilang ingatan. Lalu datang seorang perempuan tua (Vonny Anggraini) yang ngaku-ngaku ibunya yang sudah lama ia tinggalin. Dari titik ini, cerita bergerak dengan format yang sangat familiar, malahan bisa dibilang usang: amnesia jadi penggerak utama plot.
Di awal, pendekatan ini sebenarnya sempat bekerja karena misteri yang cukup efektif, apalagi ketika Alif mulai nyadar kalau sosok “ibu” yang ada di rumahnya itu sangat mencurigakan. Tapi makin jauh kita diajak masuk, mulai makin berasa kalau legenda Kelam Malin Kundang kehilangan urgensi. Apa sih sebenarnya yang mau dipertaruhin dalam pencarian ingatan ini? Kalau pada akhirnya si Alif bisa jadi orang yang lebih baik tanpa ingatan masa lalunya, kenapa ia harus ngotot buat terus ngejar ingatan lama yang malah ngebuka trauma?
Revealing yang mestinya jadi puncak justru antiklimaks. Alih-alih ngasih makna baru, ia cuman mengkonfirmasi kalau semuanya sekedar soal ngebuka lagi luka lama. Gak ada lapisan konflik tambahan yang bikin perjalanan ini jadi penting. Bahkan pilihan naratifnya agak janggal, seperti lebih niat buat ngeeksploitasi trauma timbang ngegali konsekuensinya.
Proses “mengais” memorinya juga gak pernah berasa organik. Tiap potongan memori muncul seperti plot device yang dipaksain, bukan hasil dari perkembangan karakter yang alami. Alih-alih ngebagun ketegangan psikologis yang dalam, ia jadinya repetitif: satu twist, lalu twist lagi, gak bikin kaget, malah bikin capek buat terus nemuin jawaban dari pertanyaan yang disembunyiin sama duo sutradara Rafki Hidayat & Kevin Rahardjo di balik narasi ingatan yang hilang ala Joko Anwar.
Relasi rumah tangga Alif dengan Nadine (Faradina Mufti) juga gak pernah benar-benar hidup. Bukan karena akting mereka jelek, tapi lebih gara-gara fondasi konfliknya sendiri lemah karena lagi-lagi harus bergantung sama amnesia sebagai alasan buat semuanya. Bahkan ketika isu pengkhianatan muncul, ia gagal ngasih bobot emosional yang sepadan.
Ironisnya, legenda Kelam Malin Kundang seperti ingin main di wilayah yang sering dieksplorasi sama Joko Anwar—thriller psikologis dengan lapisan trauma dan misteri. Namun hasilnya justru seperti versi yang lebih aman dan kurang berani. Atmosfer gelap, sinematografi muram, dan scoring intens memag ada, tapi gak sampe bisa benar-benar menggigit.
Yang bikin ganggu sebenarnya tetap balik ke soal judul dan premisnya: siapa sebenarnya yang “durhaka” di sini? legenda Kelam Malin Kundang seperti ragu-ragu buat menghakimi siapa pun. Semua karakter kejebak dalam situasi buruk, dan film memilih jalan paling aman: semua orang punya trauma, gak ada yang benar-benar bersalah.
Pada akhirnya, Legenda Kelam Malin Kundang adalah contoh klasik gimana ambisi buat mendekonstruksi mitos justru berujung pada kehilangan identitasnya sendiri. Cerita Malin Kundang bertahan karena keberanian moralnya yang tegas. Tentang dosa, konsekuensi, dan hukuman. Ketika itu dihilangin dan diganti sama ambiguitas yang terlalu netral, yang kesisa cuman drama keluarga urban yang generik. Alih-alih nawarin perspektif baru, ini malah jadinya setengah matang. Gak cukup berani buat jadi gelap, dan gak cukup kuat buat pertanian nilai budaya yang diadaptasinya.
2,5/5
Guys Gus Dur pernah bilang satu kalimat yang gw tidak bisa lupain.
'Yang mestinya marah itu bangsa ini.
Mereka diam aja.'
Dan itu konteksnya dia baru saja dicopot dari kursi presiden.
Secara politik.
Tanpa pernah terbukti bersalah secara hukum.
Ini ceritanya.
Gus Dur jadi presiden Oktober 1999.
Tapi baru 20 bulan menjabat MPR memakzulkannya. Juni 2001.
Dan dia keluar dari Istana dengan kaos oblong dan celana pendek.
Banyak yang bilang itu tidak pantas sebagai presiden.
Gus Dur bilang justru itu tujuannya.
Supaya orang tidak panik.
Supaya hatinya dingin.
Supaya tidak jadi marah dan turun ke jalan.
Karena waktu itu ada 300.000 orang yang sudah tanda tangan meminta Gus Dur tidak berhenti. Pendukungnya dari Jawa Timur siap masuk Jakarta. Situasinya bisa berdarah.
Dan Gus Dur memilih lengser.
Bukan karena takut. Tapi karena dia tidak mau bangsa ini perang saudara. Itu pengorbanan yang tidak pernah cukup diakui secara jujur dalam sejarah Indonesia.
Tapi siapa yang dia sebut paling bertanggung jawab atas pencopotannya?
Dua nama. Amien Rais dan Megawati.
Tapi yang menarik setelah itu mereka keliatan akur-akur saja. Gus Dur bahkan pergi ke rumah Megawati. Sampai istrinya marah.
Gus Dur bilang saya tidak marah. Yang harusnya marah itu bangsa ini. Tapi mereka diam.
Dan soal dendam dia bilang tegas. Di dunia ini yang pantas jadi musuhnya cuma satu orang.
Pak Harto.
Bukan Amien. Bukan Mega. Tapi Soeharto sistem yang dibangunnya selama 32 tahun yang menurut Gus Dur adalah akar dari semua masalah ini.
Gus Dur juga cerita soal keputusan-keputusannya yang kontroversial.
Bubarkan Departemen Sosial karena tikusnya sudah menguasai lumbung. Korupsinya gede-gedean. Tidak bisa dibersihkan dari dalam. Jadi dibubarkan.
Bubarkan Departemen Penerangan karena dia percaya kebebasan berpikir tidak mungkin ada selama ada lembaga yang mengontrol informasi.
Dan soal PKI Gus Dur bilang tugas negara bukan mengucilkan kelompok tertentu. Itu urusan masyarakat. Negara tidak perlu ikut campur.
Banyak yang tidak setuju. Banyak yang tidak paham. Tapi Gus Dur tidak pernah merasa perlu menjelaskan panjang lebar.
Dan ini yang paling gw catat dari semua yang dia bilang.
Dalam 20 bulan menjabat dia kunjungi 80 negara. Biayanya 52,7 miliar rupiah. Banyak yang bilang aji mumpung jalan-jalan dibayar negara.
Gus Dur jawab satu kalimat.
Eksistensi Indonesia sebagai satu negara harganya jauh lebih tinggi dari 52,7 miliar.
Dan dia benar. Di tengah krisis 1999 sampai 2001 ketika Indonesia hampir pecah secara sosial dan politik Gus Dur keliling dunia membangun pengakuan dan legitimasi internasional untuk Indonesia yang baru lepas dari Orde Baru.
Bukan jalan-jalan. Tapi kerja diplomatik yang hasilnya tidak kelihatan langsung tapi kita rasakan sampai sekarang.
Gus Dur dilengserkan secara politik. Tapi tidak pernah terbukti bersalah secara hukum. Dan orang-orang yang melengserkannya tidak pernah meminta maaf.
Mereka merasa dirinya benar.
Kata Gus Dur ya sudah. Besok-besok akan terbukti sendiri oleh bangsa ini.