ᅠ
The red string of fate stretches for miles to no end, tying you and your soulmate together. The chance of finding them is one over a million, but the Door of Soretna can bring you directly to their side. So, will you open the door and face your destiny?
ᅠ
ᅠ
You are wandering alone, feeling agitated for something you can never phantom. Restlessness clings onto your soul, and your blood sings a name you cannot recall. Hoping seems useless, but the exit will open right in front of those who persevere.
ᅠ
Musim panas akhirnya sampai di penghujungnya. Aku, 島津 Jun, pamit dari しゅわ〜サ! dengan hati yang rasanya masih ingin tinggal. Terima kasih ’tuk musim panas yang penuh tawa, cerita, dan hal-hal kecil yang akan selalu kuingat. また、どこかで。☀️🧡
ᅠ
“Berarti.. aku tidak akan bertemu Ichika lagi?” tanyaku menatapnya dalam. Gozuryu lagi-lagi tak menjawabku namun rasanya aku tahu jawabannya kali ini.
Aneh. Ternyata ketika akhirnya benar-benar diberi pilihan untuk melepasnya, aku tidak takut. Aku hanya——sedih. Patah hatiku. Mungkin, memang begitu seharusnya.
“Kalau begitu… Selamat tinggal, Ichika…,” lepasku sambil menatap bayangnya lekat. Cahaya mulai memenuhi seisi ruangan ini membuat sosok Ichika perlahan memudar di ujung sana.
ᅠ
; Ichika, ayo hidup lagi #bhuhhh (meniup)
Keren sekali untuk kerja keras dan setiap detail dari editan serta cerita yang dibawakan. Tidak hentinya merasa takjub menjadi bagian dari shuwaasa. Terima kasih ya Ichika. Editannya cantik sekali. Jangan lupa istirahat!
; Otsukare penulis Nagi. Terima kasih sudah menyuguhkan karya luar biasa dari garapan kalian berdua. Setelah ini boleh coba sempatkan liburan ke pantai dan gembira ria ya. :)
Akhir kata, saya Shiraishi Nagi sebagai Tencho dari shuwaasa dan penulisnya, izin pamit! Terima kasih banyak shuwaasa, terima kasih banyak shuwaa’s friend(s)! (Eep)
FM7 G
How can we go mbeee back to being friеnds
CM7 Am
When we just shared a bed? 👏👏👏 MANTAP 👏👏👏 KEPROK 👏👏👏 SOBAT 😂✌️👏 DAHSYAT👏👏✌️✨
FM7 G
How can you look at me and pretend mbeeee
ᅠ
Mungkin penduduk Enoshima lebih membutuhkanmu di sana, sebagai matahari mereka. Sebagai warna yang merekah cerah atas kelamnya penderitaan mereka. Aku sungguh iri pada mereka, bisa bersama denganmu selamanya, wahai sinaran surya.
Terima kasih sudah pernah hidup, Hanai Ichika. Terima kasih atas tawa, yang telah kau hadirkan di bumi. Terima kasih sudah pernah berdiri di sampingku.
𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵… 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁𝗸𝘂 𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵 𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮, 𝗕𝗲𝗻𝘇𝗮𝗶𝘁𝗲𝗻-𝗸𝘂.
ᅠ
ᅠ
Mungkin penduduk Enoshima lebih membutuhkanmu di sana, sebagai matahari mereka. Sebagai warna yang merekah cerah atas kelamnya penderitaan mereka. Aku sungguh iri pada mereka, bisa bersama denganmu selamanya, wahai sinaran surya.
Terima kasih sudah pernah hidup, Hanai Ichika. Terima kasih atas tawa, yang telah kau hadirkan di bumi. Terima kasih sudah pernah berdiri di sampingku.
𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵… 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁𝗸𝘂 𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵 𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮, 𝗕𝗲𝗻𝘇𝗮𝗶𝘁𝗲𝗻-𝗸𝘂.
ᅠ
ᅠ
“Berarti.. aku tidak akan bertemu Ichika lagi?” tanyaku menatapnya dalam. Gozuryu lagi-lagi tak menjawabku namun rasanya aku tahu jawabannya kali ini.
Aneh. Ternyata ketika akhirnya benar-benar diberi pilihan untuk melepasnya, aku tidak takut. Aku hanya——sedih. Patah hatiku. Mungkin, memang begitu seharusnya.
“Kalau begitu… Selamat tinggal, Ichika…,” lepasku sambil menatap bayangnya lekat. Cahaya mulai memenuhi seisi ruangan ini membuat sosok Ichika perlahan memudar di ujung sana.
ᅠ
ᅠ
「そうだ。すべては、2016年の記憶だ。羽内一夏が江ノ島の生贄となった、あの夏の記憶だ。」
“Betul. Semuanya adalah kenangan yang terjadi di tahun 2016. Musim panas ketika Hanai Ichika dipilih oleh laut Enoshima.”
Gozuryu menjawabku dengan tenang. Aku tak tahu berapa lama aku berdiri seperti itu. Mungkin beberapa detik atau… beberapa tahun? Yang ku tahu hanya bahwa tiba-tiba seluruh hidup yang kuingat terasa seperti sesuatu yang bisa pecah jika kusentuh.
“Jadi selama ini… Di setiap musim panas dan aku bertemu lagi dengannya… Setiap kali kami tertawa bersama… itu bukan kejadian baru? Itu cuma kenangan?” tanyaku, menatap tangan sendiri. Tak dapat aku jawaban dari sang naga.
ᅠ
ᅠ
「お前は、彼を救えなかったことを悔やんだ。想いを伝えられなかったことを悔やんだ。もっと長く共にいられなかったことを悔やんだ。」
“Kau menyesal karena tak dapat menyelamatkannya. Kau menyesal karena tak pernah mengungkapkan perasaanmu. Kau menyesal karena tak bisa menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.”
Sial. Kata demi kata itu terlalu berhasil membuatku semakin hancur. Aku tak mampu tuk membantahnya karena semua itu… benar adanya…
Aku pernah berharap bisa mengatakan padanya lebih banyak dalam sehari. Aku pernah berharap memiliki satu hari lagi bersamanya. Aku berharap bisa memiliki satu percakapan lagi dengannya. Aku berharap masih memiliki satu kesempatan lagi hanya untuk sekadar duduk di sampingnya tanpa memikirkan kapan semuanya berakhir.
ᅠ
ᅠ
“Lalu…, kenapa… aku…?” tanyaku menunduk. Dadaku rasanya seperti dihantam sesuatu dari dalam.
「すべての根にあるものは、お前の愛だった。」
“Yang menjadi dasar dari semuanya adalah rasa cintamu.”
“... Cintaku?” aku dibuat kehabisan napas karena pernyataannya.
ᅠ
ᅠ
1916: Adalah tahun di mana tumbal terakhir gagal diselamatkan. Jasadnya tak pernah ditemukan hingga kini. Lalu kisah itu perlahan berubah menjadi cerita rakyat Enoshima. Orang-orang tak lagi mengingat mengapa tumbal itu diperlukan. Mereka hanya tahu bahwa setiap seratus tahun, seseorang akan menghilang terseret ombak laut.
Sebagian orang percaya, namun tak sedikit juga yang menertawai. Lalu beberapa hanya menganggap itu kebetulan. Sampai… 2016 datang.
「海は、再び求めた。」
“Laut, kembali memanggil.”
ᅠ