️ ️️
️ ️️
PENULIS: Maaf seribu maaf, anak cantik ini belum apa-apa sudah jadi korban kelabilan aku. Mohon berkenan dengan pergantian nama ini. Semoga anak ini samawa dengan nama baru.
️ ️️
️ ️️
️ ️️
️ ️️
Bagiku, mulianya senja. Menjadi garis penghubung akan siang dan malam. Menjelma masa untuk sejenak menghidu aroma rasa jeda pada setiap garis cerita di ujung jalan kenanga.
️ ️️
️ ️️
️ ️️
️ ️️
Aku bebas menghela tanpa dicela. Meski banyak kusut melangit, senja tetaplah senja. Masa jingga paling sempurna. Indah tiada dua. Aku berpikir, ‘Bagaimana bisa birunya terganti oleh oranye pekat lantas disusul dengan ungu yang merekah?’
️ ️️
️ ️️
️ ️️
️ ️️
Jemalaku melenggak di tengah hiruk-pikuk jalan kenanga. Magis jingga seolah menjadi mesin waktu yang berhasil menjeda hayat. Jeda yang didamba, musabab masa singkat yang akan segera disusul oleh malam—panggung pelita sang rembulan.
️ ️️
️ ️️
️ ️️
️ ️️
Aku turut menutup hari kala jingganya mulai tiba. Sengaja tak menunggangi rangkai besi, berjalan menyelamur dengan para bani.
Dunia berjalan sangat sibuk. Kendati demikian, bagiku senja adalah masa yang paling tenang tanpa sengaja.
️ ️️
️ ️️
️ ️️
️ ️️
Tinggalah menopang sebuah harap akan tenang selaras langkah tungkai menyisir jalan tanpa pincang. Cahaya cerah laun tergantikan dengan warna oranye terang hingga kadang-kadang sebandung ain tak mampu untuk menyapa.
️ ️️
️ ️️
️ ️️
️ ️️
SENJA ibarat selasar pulang. Bukan untuk semua orang, namun beberapa manusia menutup harinya kala senja datang. Meninggalkan rantang kosong perihal duniawi atau memilih untuk membawanya pulang. Sedang sebagian sengaja dibuang agar hilang.
️ ️️
️ ️️