Bagaimana Festival Bandung Menggugat Sabtu kemarin? Coba absen yang hadir dan tulis tanggapan kegiatan kemarin di kolom komentar
Kira-kira mau diadain lagi ga nih?!
#FestivalBandungMenggugat#BandungBergerak
Abah, ini Azima. Azima Natalegawa.
Terlahir 16 Desember 2024, tepat sehari sebelum kepulangan Abah 17 Desember tiga tahun silam.
Parasnya elok, ia serupa gemawan yang memayungi telaga. Meneduhkan.
ALAM SEMESTA emang suka bercanda ya, Din. Sepanjang hidup, kita kerja di media yang menuntut tertib tata bahasa dan ejaan, tapi di nisanmu malah "typo" spasi :)
Nanti aku edit, ya. Meanwhile, istirahatlah dengan tenang dan damai.
Kini izinkan aku mewakilimu dan keluarga menghaturkan berjuta terima kasih kepada semua kawan, handai taulan, tetangga, rekan kerja, dan siapapun yang telah ikut mengantar kepergianmu dengan doa. Yang telah memaafkan segala kesalahmu. Bahkan menyeberang laut mengantarmu ke peristirahatan terakhir.
Juga ucapan terima kasih untuk semua yang telah membantu meringankan beban kita selama kita berjuang melawan penyakit itu. Yang membagi rezeki dari delapan penjuru mata angin yang tak pernah kita sangka.
Aku juga sudah mengirim pesan dan ucapan terima kasih ke tim dokter dan paramedis yang selama ini telah memberikan yang terbaik. Tak lupa, aku juga sampaikan hal yang pernah kita diskusikan, bahwa semoga pengalaman menangani dan mengobati penyakitmu menjadi sumbangan bagi dunia medis untuk membantu pasien-pasien lain di masa depan.
Aku juga sudah sampaikan terima kasih kita untuk kawan-kawan yang selama ini membantu pengobatan dengan berbagai metode. Semua punya kontribusi memberimu kekuatan dan harapan hingga sanggup bertahan sampai akhir. Juga yang mendampingi dan membantu jiwamu pergi dalam kedamaian dan ketenangan.
Kalau disebut satu per satu, panjangnya bisa sama dengan karangan bunga yang kini berjajar sepanjang Jalan Kesuma Bangsa di Kalianda. Ada dari instansi pemerintah, perusahaan, pejabat negara, politikus, jurnalis, hingga aktivis.
Kini damailah dalam tidur panjangmu di samping ayah. Makammu dikeliling pepohonan rindang dan bunga sepatu. Bukan bunga matahari, sih. Tapi sama saja. Akar-akarnya akan menuntaskan perjalananmu hingga menjadi bagian dari kehidupan mereka. Juga kumbang yang akan merasakan manis nektarnya.
Kumbang atau serangga itu juga membantu penyerbukan pohon-pohon buah di sini. Lalu kelak seorang ibu akan mengupas mangga untuk anaknya dan menjadikannya nutrisi yang membuatnya tumbuh, sehat, dan jadi manusia berguna.
Itulah doa pertama yang kupanjatkan di hadapan nisanmu pagi ini.
Besok aku datang lagi, ya.
Hati dan pikiran kami bersama keluarga serta kerabat terdekat dari mendiang istri @Dandhy_Laksono pada waktu yang teramat berat ini.
Tuhan terangi jalan pulangmu.
Penolakan diskusi Jumaahan bersama Ilham Aidit membuktikan kondisi demokrasi di Indonesia yang masih buruk, tidak ada jaminan kebebasan berpendapat dan berekspresi.
Penundaan diskusi Jumaahan kemarin semakin memperkeruh catatan suram iklim demokrasi di Bandung.