Beneran ugal2an
Perusahaan rugi 17.4 juta USD
Bukannya mengangkat komisaris yg kompeten
Malah mengangkat Ketua Tim hore 🥱
Jadi jangan heran klo BUMN lbh sering jd beban negara
Krn dikelola orang2 tidak kompeten & dijadikan ajang bagi2 kue..
Warbiazaaakk kan 😎
Rata rata pendukungnya si Jack itu lulusan mana sj seh...??
1. Ada yg lulusan Kuliah Ruko
2. Ada yg lulusan Kuliah Pasar Pramuka
3. Ada juga doktor Eng Palsu
4. Ada yg kuliah di Google
5. Ada yg SMA nya di setarakan S1
Pokoknya emang mrk dikumpulkan dlm 1 kolam dan Kandang 🤗
Ini sangat pede.
Atau over pede?
"Kalau cuma masuk Senayan, masuuk "
Pakai Insya Allah pulak.
Belum cukup. Pakai bikin target akan jadi partai besar.
Wuih ..
Ngeri kali
Ketua BEM SI serukan tolak PSI dan Jokowi di daerah di provinsi masing2. Seru ini.
Tolak Jokowi, tolak PSI, tolak Kaesang. Jokowi adalah sumber segala masalah bangsa
#JokowiLuhutTamat#JokowiLuhutTamat
GILA!!! 9 JUTA HEKTAR SAWIT TIDAK BAYAR PAJAK DI ERA JOKOWI
Mafia langsung setor ke solo.
Pantasan birahi kekuasaan makin gila nih orang. Udah pantas di hukum nepalkan mereka sekeluarga serakah semua.
Pencitraan kerja udah gak laku dan ditolak di beberapa tempat.
senjata paling ampuh dan masih bisa dipakai adalah membagi amplop, selama rakyat Indonesia masih miskin.
Mulyono bagi2 amplop isinya 50rb buat rakyat miskin yg gagal dia sejahterakan selama 10thn berkuasa.
Hanya rakyat bodoh yg bangga lht video mulyono ini! 🤣🤣🤣
@Hilmi28 Beberapa tahun terakhir pemerintah sudah tidak terlalu empati terhadap nyawa rakyat, ucapan hanya sekedar nya, jangankan yang kopdes, yang MBG aja para murid keracunan dan di tahun 2019 anggota KPPS banyak yang meninggal beritanya habis begitu saja.
JUST IN: Tanggapan Media Askar, Dosen UGM sekaligus Direktur Kebijakan CELIOS terkait meningglanya 5 calon Manajer KDMP
"Ungkapam duka cita itu tidak mengembalikan nyawa saudara kita"
"Selama 10 tahun terakhir, empat orang meninggal dalam wajib militer di Korea Selatan, dan itu jumlahnya dua juta orang."
"Indonesia, hanya dalam dua minggu, lima orang meninggal untuk pelatihan militer. hanya pesertanya 32.000 orang."
"Lebih ironi lagi, di Korsel itu pelatihan militernya untuk perang, di Indonesia pelatihan militernya untuk calon manajer toko kelontong, ini absurd, ini aneh, ini tidak bisa diterima dengan akal sehat!"
"Jadi cara berpikir kebijakan kita balik lagi ke 1970-an, dan menurut saya, saya sepakat untuk dihentikan saja"
"ANGGARAN ITU MUNGKIN BISA HILANG, TAPI NYAWA ITU TIDAK BISA DIKEMBALIKAN."
30 April 2025.
Tanggal dimana seseorang yang ada di foto ini datang ke POLDA Metro Jaya dan melaporkan saya dengan pasal yang tak tanggung-ganggung hukumannya: 8 tahun dan 12 tahun!
Namun anehnya, orang itu ternyata datang ke kantor polisi.
Lalu membuat laporan… di meja pelayanan kehilangan.
Dan di situlah semua orang waras se Indonesia tercengang.
"Kehilangan apa yang dia laporkan? "
Atau...
Apa yang sebenarnya sedang “dihilangkan”?
Waktu berjalan.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Narasi liar mulai tumbuh, tapi tanpa arah. Tanpa pegangan.
Semua orang menebak.
Lalu terjadilah 26 Juni 2026.
Hari dimana saya dinyatakan bebas dari penahanan selama proses sidang atas pasal-pasal bengis setahun lalu.
Pada tanggal itu saya diberi kesempatan melihat beberapa barang bukti.
Dan seketika segala teka-teki 450 hari runtuh.
Saya hanya bisa berucap:
"MasyaAllah ta barakallahu".
Di detik itu semuanya, tiba-tiba masuk akal.
Ternyata, ini bukan hanya tentang sesuatu yang hilang.
Ini tentang sesuatu yang dibuat seolah-olah hilang.
Sebuah konstruksi.
Sebuah skenario.
Sebuah langkah kecil, yang jika dilihat sekilas tampak remeh,
tapi jika disusun dalam satu garis waktu, menjadi sangat presisi.
Sekarang coba kita ulang adegannya.
Seseorang datang ke kantor polisi.
Memilih meja pelayanan kehilangan.
Mencatat sesuatu sebagai “hilang”.
Pertanyaannya bukan lagi:
“apa yang hilang?”
Tapi:
“kenapa itu harus dinyatakan hilang… pada saat itu?”
Karena setelah saya melihat potongan bukti itu…
Saya tidak lagi melihat foto ini sebagai kejadian biasa.
Saya melihatnya sebagai:
titik awal dari sebuah narasi yang dirancang.
Dan jika satu titik awal saja sudah tidak jujur,
maka seluruh cerita setelahnya…
patut dipertanyakan.
Ini bukan tentang satu orang.
Bukan tentang satu laporan.
Ini tentang bagaimana kebenaran bisa dibentuk,
pelan, rapi, administratif,
tanpa suara.
Sampai suatu hari, ketika semuanya sudah terlalu jauh,
orang baru sadar, semua adegan yang dipertontonkan, adalah fiksi.
Seperti berkali-kali saya katakan, peristiwa ini sesungguhnya tidak harus dipaksakan menjadi sidang pengadilan.
Akan malu kita semua senegara.
Betul-betul malu.