hening yg menikam
rahim malam perlahan bergetar melahirkan kegelapan yg pekat
bersamaan dengan berhembusnya bisikan2 rahasia dari balik bayang2 di mana jemari para perancang takdir saling bertaut
merajut konspirasi sunyi yg bersiap mencengkeram fajar sebelum dunia menyadarinya
Tak ada suara yang terlepas ke udara,
hanya nafas-nafas berat yang penuh jelaga ikrar:
bahwa esok, ketika matahari terbit dengan wajah polosnya
dunia sudah tak lagi sama
dan kebenaran telah dimakamkan sebelum fajar sempat menyapa
Pojokmalam010926
ADA APA DENGAN MALAM?
Di balik selimut gelap yang membisu
malam bukan sekadar jeda bagi sang suria
melainkan panggung bagi jemari-jemari tanpa wajah
yang menenun takdir dalam kesunyian yang dingin
menatap dunia luar yang terlelap dalam kepasrahan
Anak-anak bermimpi tentang esok yang cerah
sementara para perancang gelap menetapkan badai untuk pagi mereka
Malam merawat konspirasi seperti tanah basah merawat benih benalu
Kesendirian di usia tua bukanlah kekalahan, melainkan sebuah mahkota keheningan, di mana seorang pria akhirnya berdamai dengan semua jejak langkahnya dan menjadi raja atas kedamaian pikirannya sendiri
bahwa ketakutan terbesar bagi mereka yang menggenggam kekuasaan murka,
bukanlah pedang atau senapan, melainkan satu tanya yang tak sempat mereka jawab dengan jujur dan terbuka.
260826
BAYANG-BAYANG TANPA WAJAH
Langkah-langkah sepatu boots memukul tanah lempung yang basah,
membawa sekawanan bayang-bayang tanpa wajah.
Di tengah alun-alun desa yang mendadak beku dan membisu,
seorang anak muda berdiri, membawa segenggam tanya yang risau.
Mereka bisa mematahkan tulang, mereka bisa merobek kulit dan dagingnya,
mereka bisa memagari bibir dengan ancaman dan bui yang dingin baunya.
Tetapi di bawah rintik hujan yang mengusap luka di pelipisnya,
ia paham satu hal yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh gertakan baja
TANGIS TERTIKAM TAKDIR
Hari itu, mentari terbit dengan warna paling benderang,
seragam baru yang kaku masih wangi lipatan setrikaan,
dan di atas meja, tas ransel murah tergeletak tenang,
menanti pundak kecil yang semalaman tak bisa memejamkan mata karena kegirangan.
Langkah kaki anak-anak lain terdengar riuh di luar jendela,
tertawa, memamerkan sepatu baru yang masih bersih tanpa noda.
Ini hari pertama, gerbang sekolah baru telah dibuka,
seharusnya ada tawa, seharusnya ada langkah penuh bangga.
Namun di sudut kamar yang temaram, waktu seolah berhenti,
sang anak berdiri, menatap sepatu tuanya yang mulai terkoyak.
Ia melihat ibunya melipat tangan, menunduk menyembunyikan pipi,
dan sang ayah yang menatap lantai, pundaknya runtuh, jiwanya retak.
"Maafkan bapak, Nak..." bisik suara yang bergetar hebat,
"Uang pendaftaran... uang buku... bapak belum mampu."
Kalimat itu jatuh seperti hantaman badai yang amat lebat,
menghancurkan mimpi yang baru saja mekar di pagi itu.
Air mata yang seharusnya menjadi tangis haru sebuah awal baru,
kini pecah menjadi rintihan perih yang menyayat dada.
Bukan karena ia tak mau mengerti, bukan karena ia mendaku,
tapi karena rindu belajar begitu besar, namun dinding kemiskinan begitu raksasa.
Ia memeluk seragam barunya yang tak akan sempat terkena debu kapur,
meresapi aroma kain yang kini basah oleh air mata yang terus mengalir.
Di luar sana, bel sekolah berbunyi, memanggil mereka yang mujur,
sementara di dalam rumah, sebuah cita-cita terpaksa parkir di garis takdir.
09072026
IBU
Seorang ibu akan selalu memandang anaknya seperti waktu dia membesarkannya, walau saat ini anaknya sudah tidak kecil, remaja, bahkan muda lagi, saat ini rambut anaknya sudah mulai berubah warna, namun di mata dan hatinya tidak akan pernah berubah.
ITULAH KASIH SAYANG SEORANG IBU