sumpah sebagai anak yg semuanya stuck dipikirin, kata-kata dospem dulu beneran nyantol bgt sampe sekarang "kamu itu terlalu ruwet mikirin semuanya, eksekusi aja dulu", sehabis itu baru gw bisa jalan wkwkw
Yang gue nggak suka adalah bagaimana sekelompok mahasiswa merasa berhak menjadi hakim, penonton, sekaligus kameramen dalam waktu yang bersamaan. Direkam, diteriaki, dipertontonkan, lalu disebarkan. At that point, it stopped being a disciplinary matter and started becoming a public spectacle.
Kadang gue juga bertanya-tanya, apakah budaya seperti ini diwariskan dari generasi-generasi "sepuh" kampus sebelumnya, sampai akhirnya dianggap normal oleh angkatan berikutnya?
Karena kalau tujuan utamanya pendidikan, harusnya ada proses. Kalau tujuan utamanya mempermalukan orang di depan massa, itu sudah jadi hal yang berbeda.