Gak ada mertua yang baik.
Dikira aku dan keluarga ku ngehabisin uang anaknya,. Mbok Yoo sadar diri Bu Bu,. Sedihh aku deloke,. Ipar kek eeq juga,. astaghfirullah bikin males aj kesana
Hikmah-Hikmah Rumi, Matsnawi [22]
Kadang kita mengeluh, “Kenapa begini?” “Kenapa seberat ini?” Tetapi ada juga di antara mereka yang justru tersenyum di tengah kesulitan. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena hatinya melihat makna di balik peristiwa. Seperti kisah sang zahid dalam syair Rumi, ia melihat taman surga di tengah tanah yang kering.
Dan kita juga belajar, ketika semua tampak hampa, kita sadar, mungkin bukan dunia yang tandus, melainkan pandangan kita yang haus akan kehadiran-Nya, tetapi kita tak menyadarinya.
Tentu ada masa di dalam hidup, semuanya terasa suram, orang-orang di sekitar kita mengeluh, harapan terasa kering, dan boleh jadi kita pun larut di dalamnya.
Tetapi kadang ada satu momen hening, entah kenapa, di tengah semua itu, hati kita justru terasa ringan. Kita merasakan adanya cahaya kecil dalam hati, seperti embun di pagi yang gersang.
Maka, boleh jadi yang gersang bukan hidup kita, tapi cara pandang kita. Mungkin "hujan rahmat" itu tidak selalu datang dari luar, tapi dari dalam batin kita sendiri. Dalam dunia yang mudah membuat kita cemas dan kehilangan arah, bisa jadi kunci selamat adalah menjaga mata hati tetap terbuka.
Memang sebaiknya, kita lebih sering menengok ke dalam. Siapa tahu, di balik kekeringan, justru ada benih yang sedang tumbuh diam-diam di dalam batin kita sendiri.
Muh Nur Jabir
Adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, pernah berkhutbah:
"Wahai manusia, perbaikilah urusan akhiratmu, maka Allah akan memperbaiki urusan duniamu.
Dan perbaikilah batinmu, maka Allah akan memperbaiki dzahirmu."
~ Al Ikhlas, Ibnu Abid Dunya
#Dhuhur🌹