Guys, Leon Hartono baru bikin research yang menurut gue paling jujur dan paling praktis tentang satu pertanyaan yang semua orang lagi tanyakan sekarang.
Rupiah sudah di Rp17.900.
Mau ke mana?
Dan gue harus ngapain?
Leon bahkan bilang langsung:
menurut dia bukan soal apakah rupiah akan ke Rp20.000. Tapi soal kapan.
Dan dari 50-an lebih mata uang yang dia riset selama 20 tahun terakhir dia ketemu jawaban yang sangat menarik.
Pertama mata uang mana yang paling kuat sepanjang sejarah:
Dari seluruh riset itu hanya empat mata uang yang konsisten mengalahkan dolar Amerika di semua periode: 20 tahun, 10 tahun, 5 tahun, dan 1 tahun sekaligus.
Swiss Franc naik 5,65% per tahun terhadap rupiah dalam 20 tahun terakhir.
Singapore Dollar naik 4,26% per tahun dalam 20 tahun terakhir.
Israeli Shekel dan Czech Koruna keduanya juga konsisten di semua periode.
Sementara dolar Amerika sendiri naik rata-rata 2,96% per tahun terhadap rupiah dalam 20 tahun terakhir. Empat mata uang itu mengalahkan dolar di semua jangka waktu.
Dan ini kenapa mereka bisa sekuat itu tiga alasannya:
Satu: inflasi rendah.
Swiss inflasinya antara 0 koma sekian sampai 1-2% per tahun.
Singapura juga begitu.
Indonesia? 3 sampai 4% per tahun.
Dan ini hukum ekonomi dasar: negara dengan inflasi lebih tinggi mata uangnya akan lebih lemah dalam jangka panjang.
Selalu. Tanpa terkecuali.
Dua: surplus neraca berjalan.
Singapura surplusnya sampai 17-18%.
Swiss 6-7%.
Artinya mereka lebih banyak ekspor dari impor sehingga dunia butuh mata uang mereka untuk membayar ekspor itu dan demand naik mata uang menguat.
Tiga: kepercayaan dan stabilitas institusi.
Swiss tidak pernah perang.
Rule of law-nya kuat.
Bank sentralnya kredibel dan independen.
Singapura: pemerintahannya stabil, korupsinya rendah, cadangan devisa dikelola profesional.
Tiga hal ini yang membuat mata uang mereka jadi safe haven tempat orang lari ketika dunia panik.
Dan ketika orang lari ke sana mata uangnya makin kuat.
Dan ini kenapa BI naikkan suku bunga 50 basis poin tapi rupiah tetap melemah:
Ini yang paling penting dan paling jarang dijelaskan.
US Treasury 10 tahun sekarang memberikan yield 4,53% per tahun dalam dolar Amerika yang dianggap paling aman di dunia.
Indonesia Government Bond 10 tahun memberikan yield 6,7% per tahun dalam rupiah yang sedang melemah.
Selisihnya hanya sekitar 2%.
Dan investor asing berpikir:
ngapain gue taruh duit di emerging market yang risikonya lebih tinggi kalau selisih kompensasinya cuma 2%?
Hasilnya:
modal kabur dari Indonesia balik ke Amerika.
Dan rupiah makin tertekan.
BI naikkan suku bunga itu sudah benar tapi itu cuma satu dari banyak faktor.
Sementara tekanan eksternalnya sangat besar.
Seperti mendayung melawan arus bisa tapi sangat capek dan butuh semua elemen lain juga bergerak bersama.
Dan ini pelajaran paling mengerikan dari negara-negara yang mata uangnya hancur:
Leon riset juga mata uang yang kolaps dalam 5 tahun terakhir.
Lebanese Pound: turun 98% terhadap rupiah dalam 5 tahun.
Iranian Rial: turun 95%.
Nigerian Naira: turun 67%.
Egyptian Pound: turun 60%.
Artinya orang yang pegang Rp100 juta dalam mata uang Lebanon 5 tahun lalusekarang nilainya tinggal Rp2 juta.
Bukan karena salah investasi.
Bukan karena kena penipuan.
Tapi hanya karena tinggal di negara yang mata uangnya salah kelola.
Dan apa yang menyebabkan mata uang bisa kolaps sampai separah itu?
Tiga hal:
Pemerintah cetak uang untuk nutup hutang sampai kehabisan cadangan devisa.
Bank sentral kehilangan independensi diperintah pemerintah untuk cetak uang terus.
Dan kepercayaan publik hilang total karena rule of law rusak atau karena perang.
Dan ini strategi praktis yang Leon sarankan untuk orang biasa:
Buat yang tabungannya masih di bawah Rp50 juta fokus nabung dulu.
Jangan terlalu pusing soal diversifikasi mata uang.
Cara paling efektif nambah kekayaan tetap dari meningkatkan penghasilan.
Buat yang sudah punya modal lebih signifikan pertimbangkan diversifikasi ke mata uang yang terbukti kuat secara historis.
Swiss Franc atau Singapore Dollar adalah pilihan yang paling konsisten dalam data 20 tahun.
Tapi satu peringatan penting dari Leon:
historical performance tidak menjamin masa depan.
Data 20 tahun tetap harus terus dipantau.
Kondisi bisa berubah.
Rupiah melemah bukan karena satu sebab. Inflasi yang lebih tinggi dari negara maju.
Neraca berjalan yang defisit.
Kepercayaan investor yang tergoyahkan oleh komunikasi kebijakan yang tidak konsisten.
Dan tekanan eksternal dari yield Amerika yang sedang di titik tertinggi dalam 20 tahun terakhir.
Semua harus diperbaiki bersamaan bukan satu per satu. Karena kalau hanya satu yang bergerak sementara yang lain masih bermasalah hasilnya akan terus seperti sekarang.
Dan tiga hal yang tidak boleh sampai terjadi di Indonesia: pemerintah cetak uang untuk tutup hutang sampai cadangan habis bank sentral kehilangan independensi dan kepercayaan publik hilang total.
Selama tiga hal itu masih terjaga Indonesia tidak akan masuk kategori yang sama dengan Lebanon, Iran, atau Venezuela.
Tapi selama tiga hal itu belum benar-benar terjaga dengan baik kita belum boleh terlalu santai juga.
@Makaryo0 Lagian kalo lelang, seiring berjalannya waktu kalo TAP terus nnti limit lelangnya turun terus ssmpe harga likuidasi
Klo nggak mau lelang ya carikan pembeli lah
Inget uang yang udah di nikmati sebagai fasilitas kredit itu adalah uang Nasabah Bank
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
Guys, ada berita hari ini yang menurut gua adalah salah satu hal paling mengejutkan yang bisa terjadi dalam tata kelola keuangan negara.
Pemerintah sudah membuka 35.476 lowongan kerja untuk manajer Koperasi Desa Merah Putih. Pendaftaran sudah dibuka sejak 15 April dan ditutup 24 April 2026 besok.
Tapi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa orang yang bertanggung jawab atas kas negara mengaku tidak tahu dari mana uang untuk menggaji puluhan ribu pegawai itu akan datang.
Kata-katanya sangat eksplisit.
Koperasi saya enggak tahu.
Yang lain saya enggak paham.
Berhenti sebentar dan pahami itu.
35.000 orang lebih akan direkrut sebagai pegawai BUMN. Gajinya belum ditentukan secara detail Zulhas hanya bilang menyesuaikan tingkat kelulusan.
Sumber anggarannya tidak jelas Menkeu hanya tahu cicilan Rp40 triliun per tahun untuk koperasi tapi tidak tahu apakah itu sudah termasuk gaji pegawai atau belum.
Dan proses rekrutmen sudah berjalan penuh tanpa ada kejelasan fiskal yang konkret.
Ini bukan pertama kali pola seperti ini terjadi.
MBG diluncurkan 6 Januari 2025 sementara anggarannya masih diblokir dan belum bisa dicairkan. Mitra direkrut, dapur dibangun, makanan dikirim semua pakai uang sendiri dulu sambil menunggu reimbers yang entah kapan.
Baru belakangan sistem dibenahi.
Motor listrik Rp1,2 triliun untuk BGN muncul di anggaran tanpa penjelasan yang memadai tentang relevansinya dengan program makan bergizi.
Proyek IT Rp1,2 triliun yang klarifikasinya hanya narasi tanpa data yang bisa diverifikasi publik.
Dan sekarang 35.000 pegawai BUMN direkrut dengan sumber gaji yang bahkan Menkeu sendiri tidak tahu.
Polanya sangat konsisten dan sangat mengkhawatirkan.
Program diluncurkan dulu, rekrutmen dibuka dulu, pengumuman dibuat dulu sementara pertanyaan paling fundamental tentang dari mana uangnya dijawab dengan nanti saya pastikan.
Yang membuat ini lebih serius adalah konteksnya sekarang.
Tiga Dirjen di Kemenkeu baru saja dicopot bersamaan kemarin. Ada isu APBN yang hanya mampu bertahan tiga bulan ke depan yang belum dikonfirmasi atau dibantah dengan data konkret.
Ruang fiskal sudah sangat tertekan dengan MBG yang menyedot hampir Rp1 triliun per hari, perang Iran yang membuat harga energi melonjak, dan penerimaan pajak yang tertekan.
Di tengah semua tekanan fiskal itu pemerintah membuka 35.000 lowongan baru tanpa kejelasan anggarannya.
Ada juga pertanyaan teknis yang sangat serius soal rekrutmen ini yang perlu dijawab.
Pertama — status pegawainya adalah karyawan BUMN.
Koperasi Desa adalah entitas yang secara hukum berbeda dari BUMN. Lalu mengapa rekrutmennya melalui Panselnas dan statusnya BUMN?
Ini adalah pertanyaan legal yang sangat mendasar.
Kedua — 30.000 dari 35.476 posisi berada di bawah PT Agrinas Pangan Nusantara.
Ini adalah perusahaan yang baru dibentuk.
Apakah PT ini sudah memiliki struktur corporate governance yang memadai untuk mengelola 30.000 pegawai sekaligus?
Ketiga — rekrutmen menutup usia maksimal 25 tahun. Artinya ini menyasar fresh graduate dan diploma baru lulus.
Dengan gaji yang belum jelas, ditempatkan di koperasi desa yang baru dibentuk, dengan status yang tidak jelas antara BUMN atau bukan ini adalah kondisi kerja yang sangat tidak ideal dan berpotensi mengorbankan puluhan ribu anak muda.
ketika Menteri Keuangan sendiri bilang tidak tahu sumber anggaran untuk program yang sudah berjalan dan sedang direkrut puluhan ribu pegawainya, itu bukan sekadar masalah komunikasi antar kementerian.
Itu adalah bukti bahwa program-program besar ini diluncurkan tanpa perencanaan fiskal yang matang dan terkoordinasi.
Dan yang paling menggelisahkan adalah ini sudah terjadi berulang kali dengan pola yang sama.
Luncurkan dulu, urus anggarannya belakangan.
Dan yang selalu menanggung konsekuensinya adalah uang pajak rakyat yang terus mengalir tanpa kepastian akan ke mana dan untuk apa tepatnya.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiya, Haedar Nashir meminta supaya di tengah perbedaan itu umat Islam menyikapinya dengan cerdas dan tasamuh.
Perbedaan harus disikapi dengan arif bijaksana. Terlebih, puasa itu tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan takwa, baik penigkatan takwa untuk pribadi maupun kolektif.
Saksikan selengkapnya di Youtube Muhammadiyah Channel
🔴 https://t.co/GC7e14CIwZ
#Muhammadiyah
Alhamdulillah Muhammadiyah sudah secara resmi mengakui bahwa berpuasa mulai 18 Feb itu MENDAHULUI sebelum hilal wujud di manapun di muka bumi, dalam hal ini di Alaska 🇺🇸
Dan menyatakan “berpuasalah 18 Feb karena hilal AKAN terlihat siangnya”
Jadi jelas ya kalau berubah drastis
kalau sebelumnya Muhammadiyah kadang-kadang lebih cepat puasa/lebaran dengan argumen:
Muhammadiyah dulu:
“berpuasalah karena hilal SUDAH wujud (>0⁰ pada maghrib), meski BELUM kelihatan”
(hilal musti kelihatan adalah prinsip mayoritas umat Islam dunia mengikuti hadits Rasulullah SAW berpuasalah karena melihat hilal — yang juga diikuti oleh Saudi, Salafi/Wahabi dan NU)
kini berubah drastis memaksimalkan perbedaan dengan mayoritas umat Islam Indonesia, Asia Tenggara bahkan dunia:
Muhammadiyah kini:
“berpuasalah karena hilal AKAN kelihatan di ujung dunia lain nanti siang, tarawihlah meskipun hilal BELUM wujud”
kalau sudah faham perubahan drastis ini, silahkan ditanyakan kepada hati masing-masing, apakah mengikuti perintah pimpinan ormas ini sesuai dengan perintah hadits Rasulullah SAW:
Rasulullah SAW bersabda:
صُومُوا ل��رُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari.”
kalau sudah faham betul, bahwa tarawih anda pada 17 Feb mendahului wujudul hilal (Indonesia Timur) dan puasa anda mendahului terlihatnya hilal di manapun di muka bumi, tapi tetap memutuskan untuk taqlid ikut perintah ormas, ya monggo mawon
🙏💚
Beberapa hari lalu saya melihat postingan IG @studisejarah ada foto Bung Karno sedang menari dengan seorang perempuan di Istana Cipanas tahun 1963 Saya perhatikan fotonya baik-baik, ada wajah yang raut mukanya saya kenal. Siapakah penari itu?
Biasanya kita dibikin jengkel dan misuh2 sama Google Map..
Kali inih beda ente bakal terharu, krena hasil jepretan Google mep yg inih mengandung bawang..
Jan di klik kalo ndak mau mewek