Om gue naikin gaji karyawannya Rp2 juta, terus mecat orang itu 3 bulan kemudian. Karyawan lain di tokonya bilang om gue jahat, katanya cuma modus biar orangnya nurut. Gue juga sempet mikir gitu. Terus dia nunjukin catatan penjualan 3 bulan itu ke gue. Dan yang bikin gue kaget bukan angka penjualannya. Tapi apa yang om gue lakuin setelah mecat dia.
Jadi karyawannya namanya Adit, umur 24, udah kerja 1,5 tahun di toko bangunan om gue. Gaji Rp3,5 juta, kerjanya jaga toko sama layanin pembeli. Setahun terakhir om gue ngerasa Adit males. Sering telat, layanin pembeli seadanya, ditanya stok sering gak tau. Om gue mikirnya klasik: mungkin gajinya kurang, makanya gak semangat.
Bulan Maret om gue manggil Adit, naikin gajinya jadi Rp5,5 juta. Naik Rp2 juta sekaligus, tanpa diminta. Cuma dia bilang satu hal, "Om kasih ini karena om percaya kamu bisa lebih." Adit seneng banget, sempet nangis katanya. Om gue pulang hari itu ngerasa udah nyelesain masalah.
Bulan pertama, berubah total. Adit dateng paling pagi, toko rapi, pembeli dilayanin ramah. Penjualan naik dari Rp180 juta jadi Rp205 juta. Om gue seneng, ngerasa tebakannya bener. "Ternyata emang cuma soal gaji," katanya waktu itu.
Bulan kedua, pelan-pelan balik lagi. Dateng jam 9 lewat, pembeli mulai dicuekin, stok gak diapal lagi. Penjualan Rp183 juta. Bulan ketiga lebih parah dari sebelum gajinya naik. Rp171 juta, dan ada 3 pembeli langganan yang komplain. Gaji tetep Rp5,5 juta.
Om gue bilang, di situ dia baru ngerti kesalahannya. "Om kira Adit males. Ternyata Adit gak cocok." Uang bikin orang semangat sebulan dua bulan, terus balik ke aslinya. Kalau orangnya emang gak cocok sama kerjaannya, naikin gaji cuma nunda masalah pake biaya lebih mahal. "Yang om beli 3 bulan kemarin itu bukan perbaikan. Cuma waktu."
Nah ini bagian yang bikin gue diem. Sebelum mecat, om gue ngobrol 2 jam sama Adit. Nanya satu hal yang gak pernah dia tanya selama 1,5 tahun: kamu sebenernya suka bagian mana dari kerjaan ini? Adit jawab, dia gak suka ngadepin pembeli sama sekali. Yang dia suka justru bagian nyusun stok, ngitung barang masuk, rapiin gudang. Kerjaan yang selama ini cuma dikasih sisa waktunya.
Om gue akhirnya jujur. "Kamu gak cocok jaga toko, dan om gak punya posisi gudang penuh waktu di sini." Dia kasih pesangon 2 bulan, terus nelfon 3 temen sesama pemilik usaha yang punya gudang. Dua minggu kemudian Adit keterima di distributor bahan bangunan, bagian admin gudang. Gajinya Rp4,8 juta, lebih kecil dari Rp5,5 juta yang terakhir dia terima. Tapi sekarang udah 8 bulan, dan bosnya baru naikin dia jadi kepala regu.
Gue nanya, kenapa om gue repot-repot nyariin kerjaan buat orang yang dia pecat. Jawabannya nempel banget. "Om yang salah naro dia selama 1,5 tahun, bukan dia yang salah jadi orang." "Kalau om lepas dia gitu aja, dia bakal ngira dirinya karyawan gagal." "Padahal dia cuma lagi di meja yang salah."
Yang gue bawa pulang dari cerita ini dua hal. Buat yang punya usaha, sebelum naikin gaji orang yang performanya turun, tanya dulu dia suka bagian mana dari kerjaannya. Gratis, dan sering lebih nyelesain masalah daripada nambah Rp2 juta. Buat yang lagi kerja dan ngerasa males terus, coba jujur ke diri sendiri: ini beneran males, atau lagi di posisi yang gak cocok? Dua hal itu keliatan mirip dari luar, tapi obatnya beda jauh. Share ke temen lo yang lagi ngerasa gak betah di kerjaannya.
cc : bun.hebat_
Teman papa yang lain ultah papa ikut patungan tapi pas papaku ultah koq gak ada dapat kado apa2 yaaa, knp ya? Haha Aku jg yg transfer ke teman papa, dia rayain ultahnya apa gimana ya, apa karena papa gak rayain ultah kali ya wkwk
Kalo gk niat sewain yah gk usah gitu loh dr awal, udh janjian tglnya malah mundur2, kalo lu taken kontrak ama perusahaan besar mah udh pasti batal, bangsat
Dokter di Indo bangsat yaa, bisa on time gk sih kalian tuh. Gue iri banget ama dokter luar negeri, bukan gue yg nunggu, tp dia yang samperin malah nungguin. Gimana org Indo gk kecewa ya
Ya Tuhan manusia yang waktu itu pernah bikin aku kesulitan di saat aku sulit saat aku tengah hamil juga, pdhl dia juga lagi hamil, ternyata kembali ke sisi Bapa. Sudahlah jalannya Tuhan
Bude Wellness mengatakan bahwa TBC dapat dicegah dan diobati alami dengan tanaman herbal
Sebelum memulai pembahasannya, gue mau berkata bahwa INI MENYESATKAN!
Izin gue bahas fakta ilmiahnya ya.
TB/TBC adalah penyakit infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Infeksi ini biasanya terjadi di Paru, namun bisa di organ lain seperti usus, tulang, bahkan otak. Bila tidak ditangani dengan baik, maka TB paru dapat menyebabkan masalah kesehatan berat, hingga kematian.
Pencegahan TBC yang saat ini terbukti efektif antara lain:
- Menggunakan masker
- Ventilasi rumah yang baik
- Vaksinasi BCG
- Terap pencegahan TB bagi yang berisiko tinggi tertular
Hingga saat ini BELUM ADA herbal yang terbukti bisa mencegah TB.
Terapi TB sendiri sudah ada regimen pengobatannya dengan kombinasi 4 obat dilanjutkan oleh 2 obat, durasinya 6 bulan atau lebih tergantung lokasi organ yang terkena TB. Bahkan sudah ada panduan terbaru WHO yang menyatakan bisa lebih cepat jadi 4 bulan.
Terapi tersebut efektif, dimana mayoritas yang tuntas berobat akan sembuh.
Hingga saat ini, BELUM ada herbal yang terbukti dapat mengobati TB. Herbal dapat digunakan sifatnya sebagai terapi pendamping, BUKAN terapi utama.
Postingan Bude Wellness ini berpotensi berbahaya bagi kesehatan masyarakat karena:
1. Berpotensi membuat orang meninda pemeriksaan
2. Berpotensi membuat orang menunda mulai obat TB karena mau mencoba herbal
3. Orang dengan TB tetap menularkan TB ke keluarga dan orang serumah karena pengobatan tidak adekuat
4. Peningkatan risiko orang menghentikan obat lebih cepat karena merasa “sudah minum herbal”
Semoga bermanfaat 🙏
Gw punya temen namanya si A, tinggal di Bekasi kerja di Sudirman.
Senin sampai Jumat rutinitasnya sama terus.
Bangun setengah lima pagi.
Siap siap.
Berangkat sebelum jam enam karena kalau kesiangan macetnya tidak manusiawi.
Sampai kantor jam tujuh.
Kerja sampai jam lima sore.
Sampai rumah jam tujuh atau delapan malam.
Dua jam lebih di jalan.
Tiap hari.
Pulang pergi.
Dan ini bukan keluhan dia ini memang realita yang dijalani jutaan orang yang tinggal di penyangga Jakarta setiap harinya.
Jadi waktu weekend datang orang lain mungkin langsung mikir mau hangout ke mana.
Si A mikir hal yang berbeda.
Sabtu pagi dia bangun siang.
Tidak ada alarm.
Tidak ada jadwal.
Buka Netflix yang episodenya sudah lama tidak dilanjutin.
Siapkan snack.
Dan tidak kemana mana sampai Minggu malam.
Dan dia bahagia.
Genuinely bahagia.
Bukan karena dia antisosial.
Bukan karena tidak punya teman.
Tapi karena dia paham persis apa yang paling dia butuhkan setelah lima hari menguras energi di jalan dan di kantor.
Kita hidup di kota yang desainnya tidak ramah waktu. Jarak rumah ke tempat kerja yang tidak masuk akal. Transportasi yang belum cukup untuk semua orang. Dan budaya kerja yang masih menganggap hadir lebih awal dan pulang paling telat sebagai tanda dedikasi.
Akibatnya banyak orang yang secara fisik ada di rumah tapi energinya sudah habis sebelum sampai pintu.
Dan weekend bukan lagi soal hiburan atau eksplorasi.
Tapi soal pemulihan.
Jadi kalau ada yang nanya memang ada orang yang genuinely senang di rumah seharian sendirian tanpa ketemu siapapun?
Jawabannya ada.
Banyak malah.
Dan mereka bukan aneh atau kurang pergaulan.
Mereka cuma orang yang sudah terlalu lelah oleh perjalanan yang bahkan belum dimulai sebelum matahari benar benar terbit.