Namanya Bu Soe Tjen Marching Dosen di London dan penulis
Seorang dosen Financial freedom tapi masih peduli keadaan bangsa dan negara
Itu buzzer rupiah untuk makan dan bayar sekolah anak harus jual kesedihan dan nipu dulu
Kok bisa bisanya jilat jilat penguasa
Kenapa setiap kritik dibalas pembungkaman, dan setiap masukan ditanggapi dengan emosi? Karena yang diberi saran memiliki ego yang lebih besar dibandingkan otak yang lebih pintar.
Disuruh santun di sebuah negara yang meledek rakyatnya adalah sebenar-benarnya anomali
@AldhitamaR kadang emg penginnya yg sederhana aja biar uangnya buat kehidupan after married, tapiii di sisi lain ada keluarga yg pengin dirayakan dan undang semua sanak keluarga biar bisa kumpul2 lagi. Asal keputusannya dibahas baik2 dan dari keluarga jg ikut membantu, kenapa engga.
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
"Kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke TNI, tentara punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG," kata Iman Zanatul Haeri, seorang guru, di hadapan Mahkamah Konstitusi.
@tanyarlfes Kak, nikah itu blm ending. Masih lama ntar endingnya di akhirat, no one knows it would be bad/happy ending.
Selagi kamu masih compare hidupmu sama hidup org lain, pasti selalu ngerasa hidup mereka lebih baik drpd kamu.
Pada akhirnya kami tetap tidak bisa sampai ke Bundaran HI. Kami dibuat terpecah, dicegat, dan tidak diberikan jalan padahal kami hanya ingin menyampaikan aspirasi. Bahkan ambulans pun dibuat mundur oleh mereka. Kemana ya rasa kemanusiaannya?