Men can stay up til 2 a.m., wake up at 6, be in debt, broke, alone, and still have faith that one day, everything will work out. It's called being a man.
@HiFicare teknisi bisa dateng kapan? Masak setiap bulan bikin laporan loss mulu, katanya suruh ganti kabel biar nggak ada kendala, udah di iyain tetep tiap bulan trouble lagi, bikin laporan lagi, nunggu lagi, kerjaan saya keganggu lagi
Halloo @HiFicare , ini maksudnya gimana ya device router saya mati, internet mati juga dari kemaren, udah bikin laporan kaga ada update an lagi kapan teknisi visit, gimana nih? Kerjaan saya udah sangat terganggu dari kemaren
@HiFicare Internet saya mati, routernya mati dari kemaren, udah ngechat agent, katanya udah dibikin laporan, tapi juga sampe sekarang ngga ada update apa2 juga, kerjaan saya sudah sangat terganggu dari kemaren
The dream is long term not short term, give up is not an option, you just need to keep going, keep hitting, fuck your excuse, get shaped and get focused. Straighten up soldier!
Hey Elon, Gita Wirjawan here.
Your work at the frontier of energy, AI, and civilization has shifted the arc of what humanity believes is possible. I host Endgame podcast, a platform where Nobel laureates, regional leaders, and global thinkers help shape Southeast Asia’s long-term rise.
I’d be honored to have you in the conversation. Your perspective would inform and challenge millions across our region.
If you’re open, let’s set a date.
https://t.co/Sb1odXSOvt
442 dead and 402 missing.
What happened across Sumatera was never just nature. These are symptoms of systemic wounds, and it demands structural repairs. Nothing less.
My deepest condolences to all families affected.
May recovery come swiftly.
Renungan dr Tifa
BANJIR SUMATERA: KETIKA ALAM MENJADI SAKSI BISU KEJAHATAN 10 TAHUN
Bismillahirrahmanirrahim
Sebagai dokter, aku memandang Sumatera hari ini seperti pasien yang tubuhnya membiru dan membengkak, karena dipaksa menanggung beban bertahun-tahun.
Bagiku, banjir yang terjadi bukan sekadar banjir. Ini adalah Edema Ekologis, pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun, yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah.
Ketika air naik, menghasilkan kolam-kolam raksasa yang membenamkan desa demi desa, menenggelamkan sebagian penduduknya, aku melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar genangan.
Aku melihat jejak tangan kekuasaan.
Karena banjir tidak datang dari langit begitu saja.
Ia datang dari tanah yang dilukai dengan sengaja.
Dalam satu dekade lalu, Sumatera diperlakukan seperti papan operasi dengan pasien tanpa anestesi: hutan dibelah, bukit dibongkar, izin diteken tanpa informed consent.
Setiap hektare yang hilang bukan hanya angka statistik; ia adalah hilangnya kemampuan bumi untuk menahan air, menyaring bencana, menjaga nyawa.
Aku mengatakan ini sebagai seorang dokter:
Jika organ vital dirusak bertahun-tahun, jangan salahkan tubuh ketika akhirnya kolaps.
Dan kolaps itulah yang terjadi. Multi organ damage. Kerusakan banyak organ.
Rezim dulu bicara tentang investasi, pembangunan, dan “masa depan Indonesia”. Tapi di balik kalimat manis itu, rakyat hari ini berdiri di depan rumah yang tenggelam sambil bertanya:
“Sebelumnya kami punya hutan. Sekarang kami hanya punya banjir. Apa ini yang namanya kemajuan?”
Sumatera menangis bukan karena hujan, tapi karena pengkhianatan.
Pengkhianatan yang terjadi ketika:
hutan dibuka demi konglomerat,
sungai disempitkan demi proyek cepat jadi,
tambang dibiarkan menggali sampai bumi menganga,
perkebunan sawit dihamparkan tanpa memikirkan daya tampung DAS,
dan setiap kritik dibungkam dengan kalimat klasik: “ini pembangunan.”
Lalu ketika bencana datang, rezim lalu dengan mudah berkata:
“Ini alam. Ini cuaca ekstrem.”
Tidak.
Ini bukan cuaca ekstrem.
Ini adalah keserakahan ekstrem.
Ini bukan musibah semesta.
Ini adalah kerakusan yang merajalela.
Banjir hari ini sedang mengungkap apa yang dulu ditutup rapat oleh kekuasaan.
Banjir sedang berbicara dengan bahasa yang tidak bisa disensor:
bahwa Sumatera telah dicabik-cabik demi ambisi politik, demi kepentingan modal, demi citra penguasa yang dibangun di atas tanah yang perlahan mati.
Aku tidak pernah melihat banjir semasif ini tanpa melihat sekaligus peta kebijakan rezim sebelumnya.
Dan dari peta itu, aku hanya melihat satu hal:
Rezim lalu mengizinkan bumi dirusak sampai ia tak mampu lagi menolak.
Sekarang harga yang harus dibayar adalah:
rumah hilang,
ladang hanyut,
Penduduk mengungsi,
nyawa melayang.
Dan semua itu lahir dari tangan pejabat yang dulu begitu mudah memberikan izin, seperti menandatangani kuitansi, tanpa pernah mau melihat bahwa di baliknya ada jutaan manusia yang akan menanggung akibat.
Banjir Sumatera adalah amputasi terakhir dari tubuh ekologis yang telah disiksa terlalu lama.
Dan kita—rakyat—dipaksa menjadi saksi.
Saksi yang tahu bahwa banjir ini tidak datang sendiri.
Ia lahir dari kebijakan yang salah, dari keserakahan yang dilegalkan, dari penguasa yang lebih mencintai pencitraan daripada tanah airnya sendiri.
Kali ini sejarah mencatat:
bencana ini bukan sekadar bencana.
Ia adalah vonis alam terhadap rezim yang telah menggali lubang bagi rakyatnya sendiri.
Semoga Presiden @Prabowo bisa menghentikan semua kejahatan ini, dan memberikan solusi cepat bagi rakyat Sumatera. Amiin.
Hasbunallah wani'mal wakil, nikmal maula wani'man nashiir. La haula wala quwwata ila billah.
Salam takzim
dr Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Banjir bandang menghantam Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada 24-26 November 2025. Ada satu pemandangan unik: kayu gelondongan ikut terbawa arus banjir.
Apakah hujan deras merupakan satu-satunya sebab banjir bandang ini terjadi? Temuan Forest Watch Indonesia menyebut deforestasi yang kian masif, turut berperan menjadi penyebab bencana. Geser slide-nya sampai habis, ya.
| Narasi Daily
I love the art of what my job provide, i put my 100% of it, all the effort, dedication, percision. I hate everytime when i cannot do my work (perhaps day off or sick), i can do that for mornin’ to mid night, i can lock my self in studio all day long, sometimes till forget to eat
My Lord bring me this far, beyond what i’ve ever imagined. Working accros the ocean, different time zone, different continent, and still keeping the same mentality, i always all out, and never stop. And this journey shape my wisdom and my mind.
Blues, Jazz, R&B soul taught me about being settled, enjoy life, and mature. Punk Rock & rockabilly taught me being rebellious, young, struggle, and have some fun. Those genres are still on top 10 my playlist and live inside of ma blood.