@sohngmin@ojikayanya@TiaraMuuuu lu kira metta, karuna, mudita itu terbatas tergantung orientasi seksual? sabbe satta bhavantu sukhitatta itu terbatas kepada yg heteroseksual saja? seksualitas itu hasrat, semua orang berhasrat, hetero homo dua-duanya hasrat manusia. tdk ada larangan bagi Queer utk menjadi umat.
@mhmmdrfq0@CallmeTyoo@harianrayen setiap aliran dan tradisi bisa punya jumlah kitab yg berbeda-beda. di Mahayana, mereka bahkan mengkritik Abhidhamma. untuk Vinaya, itu jg bs diubah klo kondisinya gk memungkinkan dilakukan, sesuai perkataan Sang Buddha kepad Ananda. terakhir, lu bukan Buddhis, stop lompat pager.
@mhmmdrfq0@CallmeTyoo@harianrayen Tipitaka, terutama Abhidhamma itu berkembang bertahap setelah Mahaparinibbana Sang Buddha. isinya diskursus, analisis, dan komentar-komentar mengenai Dhamma. Contoh paling besar itu Kathavattu yg baru ada di Konsili Ketiga. —
@CallmeTyoo@mhmmdrfq0@harianrayen ya itu kalian?? bukan kami??? terus klo gak ada yg kayak kalian berarti bisa dikatain "gaya main Barca"???? teologi kita berbeda ngerti gak sih?????
@harianrayen@NANNOHAHAHAHA Abhidhamma itu secara bertahap diekspansi dari konsili-konsili, contohnya aja Kathavattu baru ada di Konsili Ketiga. Sedangkan utk Vinaya, Sang Buddha sendiri yg bilang ke Ananda bahwa Vinaya bisa diperbarui tergantung keadaannya, makanya jumlahnya bervariasi. sumber lu cuman AI?
@TiaraMuuuu@Fallenworld28 Walubi itu g pny otoritas final thdp Buddhis, kita g pny smcm MUI yg bisa mengeluarkan fatwa yg mengikat. organisasi pendahulunya aja dlu sengketa sm Theravada ttg monoteisme. organisasi yg jdi "representatif" di pemerintahan emang cenderung nurut dengan pandangan mayoritas.