salsa erwina usul makanan pejabat dan acara DPR pakai menu MBG 15 ribu:
- termasuk perayaan 17 agustus dan rapat dpr
- katanya menu buat pejabat harusnya sama kayak yang diterima siswa
- dia kaitin usulan ini sama sila kelima pancasila
- soal keadilan sosial
- menurutnya gak boleh ada menu khusus atau perlakuan beda buat pejabat
- dia bilang ini juga bisa bantu efisiensi anggaran
- salsa usulin anggaran konsumsi dibatesin sekitar 15 ribu per orang per hari
- katanya kalau pemerintah yakin mbg itu berkualitas dan aman
- ya harusnya mereka juga mau makan yang sama
- kalau tidak berani berani jangan paksa rakyat makan MBG
This radiologist said:
"If I have cancer, I won't go to the hospital. I've seen too many people die from chemo, not from cancer."
Here's what it means:
1. I'll fast for 30 days and stop working.
Di Video Tiktok (VT),mulai ramai beredar pengumuman kalo tgl.27 Agustus akan ada Demo. Silahkan Kapolri bpk @ListyoSigitP surat pemberitahuan Demo di chek sdh masuk ke anak buah bapak belum. Dan himbauan apa dr Polri misal benar akan ada Demo.
Tolong Pelayanan Publik, khuSUsnya Perpanjangan SIM dan STNK buka di hari Sabtu-Minggu!
Masak kita harus ngajuin cuti atau potong gaji dari kantor cuma demi bayar pajak ke Negara?
Sementara Pegawai yang gajinya dari Pajak kita Sabtu/Minggu malah libur!
Kimbek lah…
fatimah bacain keresahan buat menkes/wamenkes :
- katanya mau dialog tapi gk hadir
- katanya bukan pertama kali mereka absen atau cuma kirim video
- dia sayangin janji “ruang dialog terbuka” yang gak pernah terwujud
- sama kayak janji gak ada lagi dokter internship wafat tapi kasusnya masih terus muncul
- dia bilang pasien dan tenaga medis sama-sama kehilangan hak buat dimanusiakan
- dia tanya siapa yang sebenarnya diuntungkan kalau keduanya sama-sama tercekik
This young guy completely outsmarted this woman who refused to move out of the way to let him park his car because she was saving the spot for her friend.
What he does here is complete genius😂💥💥💥
KEJAHATAN YG TAK TERLIHAT
Kejahatan yg paling kejam,
bukan hanya merampas yg telah berada di tangan,
tetapi mengambil apa yg seharusnya menjadi bagian,
dari tanah yg dipijak,
dari laut yg diwarisi,
dari hutan yg dititipkan,
dari bumi yg sejak dahulu
menyimpan kekayaan untuk kehidupan.
Yg dirampas bukan sekadar apa yg sudah digenggam ditangan,
melainkan hak yg seharusnya diberikan.
Bukan sekadar hasil bumi,
melainkan masa depan anak negeri.
Bukan sekadar kekayaan alam,
melainkan kesempatan rakyat
untuk hidup lebih layak dan bermartabat.
Namun ada kebodohan yg tak lagi tertandingkan,
yakni ketika tangan dikosongkan, tapi mereka tak pernah merasa kehilangan.
Sebab kebodohan yg paling hakiki
bukanlah tdk mengetahui bhw dirinya dirampok,
melainkan mengetahui ada yg telah dirampas darinya,
namun tdk merasa teraniaya,
hanya karena yg dirampas itu
belum sempat diterima.
Bagaimana mungkin merasa kehilangan,
jika sejak lahir tak pernah diberi..?
Bagaimana mungkin menuntut kembali,
jika hak itu tak pernah diperlihatkan..?
Bagaimana mungkin marah kepada pencuri,
jika kita diajarkan bhw
yg diambil itu memang bukan milik kita..?
Padahal kekayaan negeri
bukanlah milik segelintir tangan,
bukan warisan untuk mereka yg berkuasa,
bukan pula hadiah bagi mereka
yg paling pandai mengambil kesempatan.
Ia adalah amanah
yg seharusnya kembali kepada rakyat,
kembali dalam bentuk pendidikan yg bermutu,
kembali dalam bentuk kesehatan yg layak,
kembali dalam bentuk pekerjaan yg bermartabat,
kembali dalam bentuk keadilan yg tegak,
dan kembali dalam bentuk kehidupan yg lebih sejahtera.
Maka jangan hanya bertanya,
“Apa yg telah dirampas dariku..?”
Tanyakan pula:
“Apa yg seharusnya menjadi milikku,
tetapi tak pernah sampai ke tanganku..?”
Karena terkadang,
perampokan terbesar dalam sejarah
bukanlah ketika seseorang mengambil apa yg telah kita miliki,
melainkan ketika seseorang mengambil apa yg seharusnya menjadi milik kita, sebelum kita pernah memilikinya.
Dan tragedi terbesar sebuah bangsa
bukan hanya ketika kekayaannya dirampok,
tetapi ketika rakyatnya menyaksikan perampokan itu,
mengenal siapa yg merampoknya,
namun tetap berkata:
“Aku tdk kehilangan apa-apa.”
Sebab pada saat itu,
yg telah dimutilasi dan diamputasi bukan hanya kekayaan negeri, tetapi juga, intelektual, mental, integritas dan kesadaran rakyat atas haknya sendiri.