@txtharihariWNI Maaf kak, di Islam yang ak yakini, semua hutang piutang itu harus tertulis dan ada saksi, meskipun dengan keluarga (malah biasanya yang paling bikin ribet). Solusinya diomongin lagi, kesepakatan bersama, di tulis, jadi kesepahaman bersama bahkan bisa di notice keluarga yang lain
@txtharihariWNI Ajak suami mandiri, ngelola rumah tangga sendiri, pastikan sista mendukung suami utk berbakti ke ibunya, meski sudah tidak serumah dan itu yg PALING PENTING
@txtharihariWNI Cari tahu sang duda dr circle nya dia, tetangga dia, jamaah masjid dimana dia biasa sholat, intinya kumpulin data sebanyak mgkn, kalo infonya banyak tinggal sista yang putusin, lanjut atonl putus. Jangan ngandelin insting apalagi pake perasaan, nikah itu ibadah terlama
Hari ini kompak sepi pemberitaan di semua Medsos & Media mengenai keracunan MBG, padahal hari ini (Jumat, 18 September 2026) dilaporkan terjadi kasus keracunan massal berskala besar yang menimpa 413 siswa dan guru di SMKN 2 Yogyakarta. Saya menolak luput untuk mempublikasikan
Bajingan. Kami hadirken di linimasa X Handai Tolan sekelian, (lagi-lagi) kelakuan amoral binatang pegawai inti kubangan lumpur (SPPG).
Makhluk menjijikkan ini bernama gerardus permanaditya, nampak dalam video yang ia unggah ia melakuken gimik mocking / mengejek pengalaman saudari Febiona Purba, seorang siswi SMK N 1 Berastagi, Karo, yang menjadi salah satu korban peracunan oleh BGN beberapa waktu silam.
Kami sangat amat tidak berterima uang pajak kami digunakan untuk mengupah binatang amoral fresh grad ini. Akan kami buat ia bersimpuh memohon maaf atau DIPECAT DENGAN TIDAK HORMAT.
guru besar gizi IPB mengatakan penyebab keracunan MBG krn kelalaian guru. kok jadi guru yg disalahin? :)
hardinsyah:
๐ฅ ada porsi MBG untuk guru. jadi guru harusnya mencium & mencicipi MBG sebelum dibagikan ke murid
๐ฅ kelalain guru etis untuk disalahkan jika SOP nya begitu
๐ฅ ga perlu harus dari Jkt untuk mengawasi MBG. tunjuk pihak sekolah aja
๐ฅ siswa akan aman dari keracunan kalau MBG dicicipin sebelum dimakan, jgn nunggu dimakan oleh siswa
ini serius guru besar gizi ngomong begitu? ๐ญ
Profesor BRIN sekaligus pendiri National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, menjelaskan persoalan pengelolaan baterai bekas dihadapan komisi VII DPR.
Evvy menyatakan bahwa baterai jenis LFP (Lithium Ferro Phosphate) memiliki kelemahan besar: biaya proses daur ulangnya tidak sebanding dengan nilai ekonomis materi yang dihasilkan (kurang menguntungkan).
Di sisi lain, baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt)โmeski memiliki risiko termal yang lebih tinggiโmemiliki nilai komoditas mineral yang jauh lebih tinggi saat didaur ulang.
Sayangnya, konsumen di Indonesia saat ini lebih condong memilih mobil listrik Tiongkok yang mayoritas berbasis LFP. Jika tidak diantisipasi, hal ini berisiko memicu masalah lingkungan baru di masa depan, mengingat industri global pun awalnya enggan mendaur ulang LFP karena rendahnya margin keuntungan.
Padahal, Indonesia merupakan salah satu produsen Nickel terbesar di dunia. Tapi mobil listrik yg beredar di Indonesia mayoritas justru pakai LFP.
Kondisi ini diperparah oleh masih minimnya regulasi di Indonesia terkait standardisasi mutu dan tata kelola limbah baterai EV.