Shelton is so unique, so brilliant, and unintentionally the funniest person in the room and his twin sister right there just makes it all feel even more special, like warmth and intelligence sitting side by side πβ€οΈ
There is nothing more powerful than a mother's prayer when her world is shaking. The storm was loud, but Maryβs prayers were louder. The ultimate test of the Cooper family bond. ππ€
Hidup banyak masalah? Hahahaha sama.
Tapi tenang, computational thinking bisa bantu!
Secara sederhana, computational thinking atau berpikir komputasional adalah cara berpikir sistematis untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks dengan langkah yang terstruktur. Ya, mirip-mirip dengan cara kerja komputer.
Rumusnya adalah DPAA.
Contoh kasus:
Seorang single mother dengan 1 orang anak usia sekolah. Ia juga seorang freelancer yang bekerja dari rumah. Masalah: setiap hari rumah berantakan, pekerjaan menumpuk, dan itu membuat dia sering burn out.
Mari kita breakdown satu per satu:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Langkah pertama adalah memecah masalah besar menjadi masalah-masalah kecil yang lebih mudah ditangani.
Daripada berpikir: "Hidupku berantakan."
Ubah menjadi:
- Cucian baju menumpuk
- Piring kotor menumpuk
- Mainan anak berserakan
- Deadline pekerjaan sering mepet
- Tidak ada jadwal yang jelas antara kerja dan urusan rumah
Nah, sekarang masalahnya sudah lebih konkret dan tidak terasa sebesar sebelumnya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Cari pola yang terus berulang.
Setelah diamati:
- Piring selalu menumpuk setelah makan malam
- Cucian baru dicuci saat keranjangnya penuh
- Mainan anak selalu berserakan setelah bermain
- Pekerjaan rumah tertunda saat sedang mengejar deadline
Pola yang ditemukan:
β‘οΈ Semua pekerjaan kecil ditunda sampai akhirnya menjadi pekerjaan besar.
3. Abstraksi (Abstraction)
Fokus pada hal yang paling berpengaruh dan abaikan hal-hal yang tidak penting/relevan.
Tidak relevan:
- Bukan soal dekorasi rumah yang kurang estetik.
- Bukan soal membeli rak baru.
- Bukan soal mencari metode produktivitas terbaru.
Masalah utamanya adalah:
- Tidak ada rutinitas harian yang konsisten
- Pekerjaan kecil dibiarkan menumpuk
Maka, masalah utama itu yang harus dibereskan lebih dulu.
4. Algoritma (Algorithm Design)
Setelah akar masalah ditemukan, buat langkah-langkah sederhana sebagai solusi.
Contohnya:
- Rapikan tempat tidur setelah bangun.
- Masukkan pakaian kotor ke keranjang cucian.
- Cuci piring segera setelah makan.
- Jalankan mesin cuci saat mulai bekerja.
- Lipat pakaian sambil menemani anak belajar atau menonton TV.
- Simpan mainan bersama anak sebelum tidur.
Hasilnya?
Rumah tidak langsung berubah menjadi rumah Pinterest. Tapi tumpukan pekerjaan berkurang, rumah lebih terkontrol, pekerjaan lebih fokus, dan tingkat stres ikut turun.
----
Cara berpikir yang sama juga bisa diterapkan pada masalah-masalah yang lebih besar. Apabila masih terasa overwhelmed, gabungkan dengan metode mind mapping.
"Apakah computational thinking bisa membereskan masalah negara? Menghentikan MBG, misalnya."
Ah, kalau itu saya menyerah. π€·ββοΈ
Film Pesta Babi resmi tayang di YouTube Redaksi JubiTV dan langsung ditonton 2 juta orang hanya dalam sehari.
Yuk tonton, sebarkan, dan hidupkan diskusi tentang kolonialisme yang masih berlangsung di Papua hari ini.
Franky Woro, warga Suku Awyu di Boven Digoel, bersama masyarakat lainnya telah memasang palang adat (salib bercat merah) untuk menghadang perusahaan serta aparat yang menyerobot tanah leluhur mereka.
Aksi ini dikenal sebagai Gerakan Salib Merah, yang kini menyebar di seluruh Papua Selatan. Setidaknya 1.800 salib telah ditancapkan sebagai simbol perlawanan, baik secara fisik maupun spiritual.
Alexandra Elbakyan
Pencipta Sci-Hub, perempuan yang bikin ilmu pengetahuan terbuka untuk semua. Legend π₯
- Lahir di Kazakhstan tahun 1988
- Umur 12 tahun sudah coding
- 14 tahun hack provider internet
- 16 tahun hack MIT Press buat download buku neurosains yang nggak bisa dibeli
Lanjut kuliah ilmu komputer, magang di Georgia Tech, sampai ngomong di Harvard soal brain-computer interface.
Waktu sadar kalau peneliti susah akses jurnal sendiri karena paywall mahal ($30 per artikel), padahal peer-review & editor gratis, & risetnya didanai uang publik miliaran dolar, dia bikin Sci-Hub tahun 2011, upload hampir semua makalah berbayar, & kasih gratis ke semua orang.
Digugat $15 juta .....