Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa implementasi bahan bakar minyak (BBM) jenis baru, Biodiesel B50, akan resmi diberlakukan mulai 1 Juli 2026. Keputusan ini diambil setelah hasil uji coba menunjukkan perkembangan yang sangat positif.
Bahlil mengungkapkan bahwa sekitar 80 hingga 90 persen indikator pengujian sejauh ini berjalan dengan baik.
Hasil sementara menunjukkan kualitas B50 lebih baik daripada B40 yang saat ini digunakan, salah satunya karena memiliki kadar air yang lebih rendah.
B50 merupakan bahan bakar alternatif yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dan 50 persen solar.
Pemerintah akan menggelar rapat evaluasi final bersama tim uji coba dalam waktu dekat (sekitar satu minggu ke depan) untuk memastikan seluruh aspek teknis dan operasional memenuhi standar keselamatan sebelum peluncuran resmi.
Dampak dan Tujuan Strategis:
Ketahanan Energi: Mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil dan memperkuat neraca perdagangan.
Hilirisasi Industri Sawit: Mendorong penyerapan minyak sawit mentah (CPO) di pasar domestik, memberikan stabilitas harga, dan memberikan nilai tambah pada komoditas lokal.
Transisi Energi: Menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah menuju pemanfaatan energi terbarukan yang lebih berkelanjutan.
Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo melayangkan sejumlah kritik ke Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana saat rapat kerja. Yoyok mengkritik jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.
>> https://t.co/XkR5QQbAf1
Baca di sini: https://t.co/WSbBMzEMFY
Kehadiran Suzuki Satria Pro pada akhir 2025 lalu, sempat mencuri perhatian pecinta motor bebek sport.
~DA #SuzukiSatriaPro
Aliansi Masyarakat Jakarta Timur menggelar aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026). Massa menyuarakan dua tuntutan utama yakni mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mendesak pengusutan tuntas kasus korupsi.
~NJ
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mematangkan rencana penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Jika terealisasi, Indonesia akan mencetak sejarah sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan penggunaan tabung CNG berukuran 3 kg untuk skala rumah tangga.
Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan cadangan gas alam Indonesia yang melimpah sekaligus menekan angka impor LPG nasional yang saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.
Meski nantinya tetap memerlukan subsidi, penggunaan CNG 3 kg diproyeksikan mampu memangkas beban subsidi energi negara sebesar 30 hingga 40 persen karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri, bukan impor.
Tabung CNG 3 kg akan menggunakan teknologi Tipe 4 berbahan serat fiber (fiber composite). Material ini dipilih karena bobotnya yang lebih ringan daripada tabung logam konvensional namun tetap aman dalam menahan tekanan gas tinggi.
Kementerian ESDM memastikan masyarakat tidak perlu mengganti kompor. Sistem katup (valve) pada tabung CNG akan didesain sama dengan tabung LPG 3 kg agar tidak membebani masyarakat dengan biaya alat baru.
Saat ini, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) sedang menyusun peta jalan (roadmap) transisi energi ini agar proses peralihan dari LPG ke CNG kelak dapat berjalan dengan aman, efisien, dan siap diterima oleh masyarakat luas.
Baca selengkapnya disini: https://t.co/CeT4BedCeq
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari mengatakan, pihaknya bakal menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama momen libur sekolah mendatang.
~NJ