Semalam aku mendengar satu podcast yang sangat ngena.
Hidup sebaiknya berpaksikan waktu sholat.
• Bekerja setelah Subuh
• Makan siang sebelum Zuhur
• Makan malam sebelum Magrib
• Tidur setelah Isya
• Punya waktu untuk diri sendiri sebelum Subuh dengan qiyamul lail
• Menikmati ketenangan pagi saat matahari terbit
Ketika hidup berpaksikan sholat, bukan hanya waktu yang menjadi lebih teratur, tetapi hati juga terasa lebih tenang.
"Jangan selipkan sholat di sela-sela kesibukanmu. Selipkan kesibukanmu di antara waktu-waktu sholat."
Batal menikah dgn laki2 baik,jujur,no selingkuh,no jud*,di usianya yang ke 34 thn. Sebagai anak pertama usiaku 26y.o mandiri & punya penghasilan. logika & naluriku terpaksa mengambil alih perasaan🙂
bahkan kami sdh saling terbuka sampai bertukar semua social media accounts yg kami punya,cut off krn perbedaan visi misi hidup yg terlalu berjarak. hubungan kami sdh berjalan hampir 3 thn.
Sebenarnya,aku sdh menerima segala problem keluarganya. Dia anak terakhir, dia anak semata wayang dari pernikahan kedua orang tuanya saat ini.
Kakak2nya tdk ada yg mau merawat orang tua mereka krn ada big problem di masa lalu. Jadi, seluruh beban rawat otomatis jatuh ke pundaknya sendiri.
Demi dia,aku bahkan sudah meng”iya”kan ajakan untk tinggal bersama orang tuanya setelah menikah nanti,karena dia memang tdk bisa pisah dari mereka,aku sudah menurunkan egoku sejauh itu.
Dia jujur dri awal kalau setelah nikah nanti, dia tdk akan bisa memberikan nafkah finansial&waktunya secara penuh (mungkin 30% untukku sbg istrinya) krn fokusnya terbagi untuk orang tuanya yg sdh tua. Aku paham,aku maklum,& aku bisa toleransi karena aku jg bekerja & berpenghasilan.
Tapi, ada satu kalimat realistisnya yg bikin aku seketika mundur “Nanti setelah melahirkan, pulang o ke rumah ibumu ya karena tdk bisa repot di rumahku."
Pdhl dia tau, pulang ke rumah ibuku sendiri adalah pilihan terberat buatku. Aku&ibuku punya kesenjangan emosi, Bayangkan hrs melewati masa rentan post-partum setelah melahirkan di lingkungan yg emosinya tinggi, tanpa dukungan suami di sampingku karena alasan "tidak bisa repot disini”
Aku tahu dia anak berbakti,& aku sangat menghargai itu.Tapi pernikahan bkn soal menyatukan dua orang baik,melainkan tentang komitmen untk berjuang bersama di fase paling kritis seorng istri😇
Keputusan mundur ini sangat berat,tapi benar untuk masa depan kami berdua, dia bisa fokus merawat orang tuanya tanpa rasa bersalah, & aku bisa menyelamatkan kesehatan mentalku.
cc:threadnissaannasr
respect setinggi tinggi nya untuk para mahasiswa dan masyarakat yg turun ke jalan, ga lupa untuk semua mutual or non mutual ku yg mau bersuara. terimakasih banyak sudah mau meluangkan waktu untuk posting, like maupun retweet mengenai keadaan negara yg sebenarnya.
tolong terus bersuara, mau sekecil apapun akun kalian, sedikit apapun audiens kalian, ga ada yg percuma. 1 suara, 1 postingan dari kalian sangat berharga. selama internet ga diputus, media sosial belum di blokir, media lokal masih terus bungkam, terus sampaikan aspirasi ya. panjang umur perjuangan ✊🏻
#demo #MenujuIndonesiaBangkrut
perwakilan mahasiswa UI:
"kami ini mahasiswa, tidak membawa senjata. jgn anggapi kami musuh, jgn hadapi kami dgn senjata"
"kami tidak ditunggangi, niat kami tulus untuk bangsa Indonesia"
terharu bgt. semoga dalam lindungan Tuhan buat teman-teman yg turun ke jalan 🥹