Guys lu pada tau gk
Mohammad Hatta pernah lihat iklan
sepatu Bally di koran
Beliau gunting iklannya, lalu disimpan di dompet bertahun-tahun.
Padahal saat itu beliau menjabat
Wakil Presiden Republik Indonesia.
Kalau mau? Tinggal telepon.
Tinggal suruh staf.
Tinggal pakai fasilitas jabatan.
Tapi beliau memilih menabung sendiri.
Dan tabungannya sering habis karena dipakai bantu orang lain.
Sampai beliau wafat tahun 1980…
sepatu itu nggak pernah kebeli
Yang ditemukan keluarga di dompetnya cuma guntingan iklan sepatu Bally yang sudah kusam dan terlipat rapi selama puluhan tahun.
Bayangin…
dulu ada Wakil Presiden yang mimpinya cuma sepasang sepatu.
Bandingin sama sekarang
Ada pejabat:
- laundry baju keluarga ratusan juta
- mobil dinas miliaran
- anggaran kaos kaki fantastis
- fasilitas mewah pakai uang negara seolah normal
Sementara Bung Hatta bahkan takut memakai jabatan untuk kepentingan pribadi.
Ini bukan soal miskin atau kaya.
Ini soal tahu batas:
mana milik negara, mana milik pribadi.
Zuhud bukan berarti nggak punya keinginan.
Bung Hatta pengen sepatu itu. Tapi beliau menjaga diri agar jabatan tidak merusak hati.
Dan mungkin… garis pemisah itu yang sekarang mulai banyak hilang.
Bukan anti-sawit. Tapi ada yg namanya No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) komitmen yg harusnya dipegang korporasi.
Pertanyaannya: perusahaan yang punya lahan ini sudah NDPE-compliant belum?
Kalau belum, konsumennya (kita) juga bagian dari masalah
#GajahBorneo
Liat foto ini bukan sekadar sedih secara estetika.
Gajah Borneo (Elephas maximus borneensis) itu satwa dilindungi penuh. Habitatnya dirambah = pelaku bisa kena UU No. 5/1990 tentang KSDAHE.
Tapi yang kena hukum siapa? Gajah²nya stres, korporasi sawitnya?
Seekor Gajah Borneo terlihat berdiri terdiam di tengah area yang dulunya merupakan hutan alami. Kini, kawasan tersebut telah berubah menjadi ahan sawit, menyisakan pemandangan yang membuat banyak orang sedih dan prihatin.
Momen ini kembalk mengingatkan banyak orang tentang dambak deforestasi terhadap habitat satwa liar, terutama di wilayah Borneo yang menjadi rumah bagi berbagai spesies langka. Kehilangan hutan membuat satwa seperti gajah semakin sulit mencari makanan, jalur migrasi, hingga tempat berlindung.
Foto ini ramai dibagikan di media sosial karena dianggap menggambarkan kondisi nyata yang sedang terjadi pada habitat satwa liar saat ini.
Sumber gambar: aaronbaggenstos
Borneo kehilangan sekitar 100.000 km² hutan dalam 40 tahun terakhir.
Gajah butuh home range 20–50 km² per kelompok untuk survive.
Kalau habitatnya tinggal fragmen-fragmen kecil yang terputus, populasinya tinggal menunggu waktu. 📉
@AdamVelcro@LambeSahamjja Haha bang bang, kasus lo lihat ke belakang terus. Pantesan ga maju². Lihat lagi nanti kalo kasusnya masih bermain. Udah bukan liga nya kasus itu bermain lagi
Proyek Food Estate Merauke (PSN) berjalan tanpa AMDAL yang proper & tanpa free, prior, and informed consent (FPIC) dari masyarakat adat Marind-Anim.
Ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Coba kita telusuri, apa ini masuk pelanggaran konstitusional capt?
Masyarakat adat sudah berusaha protes soal #foodestate#merauke tapi tidak didengarkan.
Proyek tanpa AMDAL, tanpa konsultasi publik terutama warga asli terdampak WAJIB di evaluasi. 😠
*Jangan sampai ada kejadian blokir internet papua lagi seperti 2019 lalu.
#papuajugaindonesia
Yang harus dituntut sekarang:
✅ Moratorium proyek sampai AMDAL komprehensif selesai
✅ Konsultasi FPIC yang genuine, bukan seremonial
✅ Audit Komnas HAM atas proses perolehan lahan
✅ Keterbukaan dokumen perizinan ke publik
Transparansi bukan pilihan, ini kewajiban hukum.
Suku Korowai di Papua baru “ditemukan” dunia sekitar tahun 1970-an.
Sebelum itu? Mereka hidup tanpa tahu ada peradaban lain di luar hutan mereka.
Rumah mereka dibangun di atas pohon, ketinggian sampai 50 meter, setara gedung 15 lantai.
Populasinya sekitar 4.000 orang. Bahasa mereka unik, nggak mirip suku Papua mana pun.
Di antara jutaan manusia yang scroll medsos sekarang, ada ribuan orang yang hidupnya masih seperti ini.
Dan mereka baik-baik saja.