Media ekonomi terbesar di Singapura, The Straits Times, baru aja bikin headline:
“Sell Indonesia.”
Jujur aja, itu headline yang bikin gw merinding. Karena biasanya investor gak teriak. Mereka cuma diam-diam jual.
TAPI SEKARANG MEREKA MULAI NGOMONG TERANG TERANGAN
Lapangan kerja formal makin sempit, gelar sarjana tidak menjamin pekerjaan, dan satu-satunya jalan yang tersisa adalah beli wajan dan tepung. Negara menyebutnya kebangkitan UMKM. Padahal yang sedang terjadi adalah jutaan orang bersaing menjual produk yang sama, di jalan yang sama, kepada pembeli yang daya belinya juga sedang turun.
sektor informal adalah garda terakhir perekonomian, terlalu menjamurnya penjual cilok dll bisa saja adalah tanda adanya masalah ekonomi.
jadi inget fenomena lain yg kadang dipakai sbg indikator2 satir dlm perekonomian:
- hot waitress index:
makin banyak pelayan restoran yg cakep2 karena pemberi kerja bisa seleksi muka bahkan untuk pekerjaan low paying.
- lipstick index:
penjualan lipstik justru meningkat saat kondisi sulit karena dianggap sebagai hiburan murah [affordable luxury].
- men's underwear index: dalam situasi normal, penjualan sempak sangat stabil. kalau penjualannya turun, berarti kondisi keuangan rumah tangga sedang ada masalah.
tapi index2 di atas cuma teori satir aja ya, gak dipakai secara ilmiah, lebih ke kritik & humor sosial dalam melihat situasi buruk perekonomian.
kalau disesuaikan dg kultur sosial kita, mungkin bisa juga dibikin "cilok index", atau "jukir index" untuk membaca fenomena2 ekonomi seperti itu 😬
Yup betul! Gorengan bukan makanan khas kita, teknik menggoreng pun bukan budaya kita. Kita kenal minyak goreng atau teknik menggoreng itu relatif baru, dibanding mengukus, memanggang, merebus, atau mengasapi.
Liat aja, makanan khas dari berbagai daerah, jarang digoreng.
Kok bisa Indo hobi banget konsumsi tepung terigu??
Padahal terigu itu MAYORITAS IMPOR....
Dan mayoritas snack2 indo bahan bakunya tepung terigu?
Jawabannya: Rezim Orde Baru (Orba)
Orba memang sengaja membangun sistem pangan yang membuat terigu makin murah, tersedia, dan mudah dikonsumsi rakyat..
Kenapa?
Pertama, Orba berusaha mencari pangan yang murah, cepat, dan gampang didistribusikan.
Pangan apa yang cocok di zaman itu? Ya terigu, karena mudah diimpor. Beras, meski bisa swasembada, tetap rawan gagal panen.
Kedua, Orba memonopoli perdagangan terigu.
Terigu hanya bisa diimpor oleh dua perusahaan penggilingan gandum yang semuanya adalah kroni mereka.
Bayangin, berapa jatah yang didapat Orba dari impor jutaan ton gandum?
Kebetulan, Indonesia mengalami urbanisasi massif di masa Orba.
Masyarakat urban membutuhkan makanan cepat, murah, dan praktis.
Walhasil, produk olahan gandum seperti mi, roti, dan kue meningkat.
Jadilah, terigu massif dikonsumsi oleh rakyat Indo.
Padahal, sekali lagi..
TERIGU ITU IMPOR.
Dan dari minggu-minggu kemarin, harganya NAIK TERUS!
Source Gambar: DetikFood dan Sitenews
Saking korupsnya, sampe warga ga tau kalo plat nomor kendaraan bisa registrasi sekali saja. Saking korupnya, sampe warga menganggap wajar saja bayar 2x untuk 2 SIM yg berbeda atas nama pengemudi yg sama. Saking korupnya, sampe warga bisa sebodoh itu dan penentu regulasi diam saja
Hal hal kaya gini sangat disayangkan masih terjadi. Rivalitas club di bawa sampai ke Timnas. Mereka mewakili lambang garuda di dada.
Please lah udah 2026 masih begini.
Ragnar Oratmangoen dalam negosiasi dengan tim Eredivisie, Sparta Rotterdam.
Status Ragnar saat ini adalah sedang free tidak terikat kontrak.
Back to Eredivisie wak haji? 👀
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
gap year setaun aja udah dianggap gagal ama keluarga, lulus telat dikit udah gaada perusahaan yang mau nerima, soalnya kita-kita ini udah expired di umur 25
Sebenernya pemerintah punya kesempatan boosting economic growth tahun ini, lewat lolos World Cup 2026.
Multiplier effectnya pasti dahsyat.
Tapi Erick Thohir terlalu plenger untuk milih Patrick Kluivert👀
Masih ga habis pikir. Ga masuk di akal sehat
Jawabannya satu: karena pertalite belum naik.
Pemerintah sekarang lagi berusaha keras menahan agar pertalite tidak naik. Tapi mereka gak bisa selamanya melakukan itu. Di titik tertentu amunisi akan habis, pertalite akan naik ke 16.000, di saat itulah baru amukan besar terjadi.