Gw punya temen yang pacaran dari SMP.
Literally SMP.
Masih pakai seragam putih biru.
Masih berantem soal hal hal yang sekarang kalau diinget sendiri bikin malu.
Masih belum tau apa apa soal hidup.
Dan mereka ya gitu putus nyambung putus nyambung
SMA tetap sama.
SMK tetap sama.
Kerja tetap sama.
Dan tahun lalu mereka nikah.
Gw pernah iseng tanya ke temen gw itu apa yang bikin kalian bertahan selama itu?
Dia mikir sebentar.
Terus jawab santai.
Gak tau.
Dia ada aja aja gw butuh mau di bawah atau di atas
Dan itu yang bikin gw mikir lama.
Di zaman sekarang semua hal soal hubungan dibuat serumit mungkin.
Ada yang bikin list kualifikasi pasangan ideal sepanjang lengan.
Ada yang ngomongin green flags red flags beige flags sampai gw tidak tau flags warna apa lagi yang harus dicek.
Ada yang bikin spreadsheet kompatibilitas.
Ada yang evaluasi dulu tiga bulan sebelum mau lanjut serius.
Dan di tengah semua kerumitan itu temen gw dari SMP cuma punya satu ukuran sederhana.
Kamu ada buat aku.
Aku ada buat kamu.
Tidak ada benefit yang dihitung hitung.
Tidak ada standar finansial yang harus dipenuhi dulu. Tidak ada checklist yang harus dicentang sebelum hubungannya layak dilanjutkan.
Bukan berarti hubungan mereka sempurna.
Pasti ada berantem.
Pasti ada masa masa yang berat.
Pasti ada momen di mana salah satu dari mereka bertanya tanya.
Tapi mereka tetap jalan.
Dan ini yang paling relate sama kondisi orang Indonesia sekarang yang menurut gw kita sendiri yang bikin susah.
Kita hidup di era di mana semua hal harus ada alasannya.
Semua keputusan harus bisa didefend secara logis.
Semua hubungan harus bisa dijelaskan dalam bentuk value proposition yang masuk akal.
Sampai kita lupa bahwa hal yang paling fundamental dari hubungan apapun tidak pernah berubah dari dulu.
Kamu mau ada tidak waktu gw butuh.
Sesimpel itu.
Dan jawaban dari pertanyaan sesimpel itu ternyata lebih susah dicari dari semua kriteria panjang yang kita buat
Saya males solat jamaah di masjid kalau imamnya baca surat setelah Al-Fatihah, malah surat panjang banget dan bacaannya terkesan dipanjangin atau dimerduin
Di belakang sana ada jamaah yg nahan berak, ada kepentingan lain, anaknya nangis rewel, bahkan lagi berhadapan sama kondisi darurat.
Solat berjamaah bukan lomba murrotal.
Lagipula, bacaan setelah Al-Fatihah gak wajib dan baca 3 ayat (misal Al-Kautsar) aja udah sah.
Beda mungkin sama kalo solat sendiri, tahajud, atau special occasion mungkin
Kawan-kawan warga sekalian, tolong bantu kami untuk informasikan akan ada aksi di mana saja hari ini.
Sila reply tweet ini dengan poster aksi atau informasi.
Buat pembaca, selalu verifikasi dua kali informasi yang diberikan oleh orang lain atau bahkan kami.
Jaga diri, jaga sesama. Sampai menang.