Aku adalah Bulan yang Bersujud pada Anakku
Aku adalah Rahil binti Laban. Perempuan yang dicintai lelaki mulia, dengan penantian panjang selama 14 tahun, yang diikat oleh rindu dan kesabaran. Dari rahimku lahir Yusuf, lelaki tampan, yang cahaya wajahnya kelak menerangi banyak jiwa. Lalu adiknya, Bunyamin, yang menjadi napas terakhirku.
Sejak itu, aku berdiam dalam tanah, sunyi, tak terlihat, namun tak pernah benar-benar pergi dari hati anak-anakku.
Namaku tak pernah disebut dalam kisah yang paling indah dalam kitab suci. Seratus sebelas ayat mengalir tentang anakku: tentang sumur yang gelap, tentang istana yang gemerlap, tentang air mata seorang ayah yang memutih oleh rindu. Tapi aku, ibunya, tak hadir dalam kata-kata. Kalian pun tak pernah mengenalku. Dan aku menerima itu. Sebab cinta seorang ibu tak membutuhkan nama untuk tetap hidup.
Aku tak sempat melihat Yusuf tumbuh. Tak sempat menyisir rambutnya ketika ia mulai dewasa. Tak sempat mendengar suaranya berubah menjadi suara lelaki. Bahkan tak sempat menyaksikan mimpi indahnya menjadi nyata.
Aku telah pergi, sebelum ia dicampakkan ke sumur, sebelum ia dijual, sebelum ia berdiri sebagai ‘Aziz Mesir yang disegani.
Namun aku teringat, pada suatu malam, ketika Yusuf kecil berlari kepada ayahnya dengan mata yang masih basah oleh cahaya mimpi, aku hadir.
“Aku melihat sebelas bintang… matahari… dan bulan,” katanya lirih. “Semuanya sujud kepadaku, ayah.”
Dari balik keheningan alam yang tak terjangkau manusia, aku tersenyum.
Aku adalah bulan itu.
Aku memang tak melihat mimpi itu terwujud. Tapi aku tahu, ketika Yusuf kelak mengangkat ayahnya dan ibu tirinya ke singgasana, ketika luka masa lalu diluruhkan oleh maaf, cahaya itu tetap ada.
Sayup kudengar suara…
"Keberhasilanku adalah air mata sujudmu, dan tahtaku itu doamu yang menembus langit. Terima kasih, Ibu."
Tabik,
Nadirsyah Hosen